Bagaimana Mengajarkan Anak Anda Mengenal Perbedaan?

Anak adalah pribadi yang mudah menyerap banyak hal di lingkungannya, termasuk menilai perbedaan dari bentuk tubuh, jenis kelamin, warna kulit, ataupun rambut.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 01 November 2018 18:11 WIB
Ilustrasi anak - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Anak adalah pribadi yang mudah menyerap banyak hal di lingkungannya, termasuk menilai perbedaan dari bentuk tubuh, jenis kelamin, warna kulit, ataupun rambut.

Dilansir dari Parentmap.com pada Kamis, (1/11/2018), seorang perempuan kulit hitam bernama Shaunna Payne Gold membagikan cerita ketika masih kecil ditanya oleh gurunya.

"Shaunna, kamu ingin lebih dikenal sebagai orang berkulit hitam atau sebagai perempuan?," ujar Shaunna mengenang gurunya.

Shaunna pun kebingungan dengan pertanyaan itu karena dia tidak memiliki prioritas mana yang dia inginkan. Seiring bertambah usianya, Shaunna paham bahwa menjadi orang kulit hitam dan perempuan adalah satu identitas yang membentuk dirinya

"Saya menyadari bahwa ini adalah pertanyaan yang menjebak. Saya tidak perlu memilih satu dibandingkan yang lain," jelas Shaunna.

Shaunna yang kini sudah menjadi orangtua menyadari lebih mudah untuk menghindari pembicaraan tentang multi identitas dan hanya memilih mana yang disukai. Kondisi itu berkembang tidak hanya di kalangan anak-anak tetapi juga orangtua. Padahal multi identitas itulah yang membantu seseorang berinteraksi dan memosisikan dirinya.

Menurut riset dari University of Nebraska, anak berusia 2-3 tahun memiliki kemampuan untuk menyampaikan isi pikirannya, perasaan, dan stereotypes tentang orang lain dan tentang diri mereka.

Anak-anak juga umumnya berinteraksi pada generasi yang punya otoritas seperti; orangtua, guru, dan anak yang lebih tua untuk mendampingi mereka dan membentuk persepsi mereka. Berikut adalah beberapa tip untuk mendiskusikan multi identitas, identitas diri, dan perbedaan untuk anak Anda.

1. Tuliskan semua jenis identitas yang ada di dunia
Pada dasarnya seseorang memiliki identitas yang lebih dari satu namun seringkali hanya fokus pada satu saja. Identitas dalam hal ini bisa berupa; tingkat pendidikan, keluarga, status sosial, ras, usia, pekerjaan, orientasi seksual, ekspresi gender, kemampuan, etnis, status imigran, bahasa, lokasi geografis, kebudayaan, dan sejarah.

2. Merangkul semua perbedaan agar tidak eksklusif.
Beberapa identitas yang terkesan eksklusif dan diistimewakan sangat tergantung dari perspektif Anda. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, Shaunn adalah orang kulit hitam yang diistimewakan. Maka, Anda perlu mempertimbangkan bagaimana pengalaman identitas membentuk pribadi Anda.

3. Ajaklah anak Anda mengenal lebih dekat tentang keluarga
Jika Anda berkeluarga dengan berbagai ras yang akhirnya terhibahkan kepada anak Anda, maka Anda perlu memasukkan pengenalan lebih dalam atas setiap komponen diri Anda dan anak Anda.

4. Jangan menutupi dan melupakan perbedaan.
Anda harus menggunakan bahasa yang menyatakan bahwa semua orang sama. Sebab, anak-anak dengan mudah dapat melihat, menamakan, mengenal, serta memeluk semua perbedaan. Maka jadikanlah ini momentum mereka melakukan observasi dan membicarakan hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang dewasa tidak nyaman dan menghindari diskusi itu.

5. Anda harus bersikap lebih dari sekadar mengajarkan perbedaan secara akademis.
Ada beberapa buku parenting yang cocok membantu Anda menyusun ajaran tentang perbedaan. Sebab, selama ini kurikulum tentang perbedaan antar manusia itu hanya didapatkan pada pendidikan formal.

Nah, bagi Anda yang ingin mengembangkan anak-anak Anda menjadi lebih empati, peduli, dan penuh kasih kepada sesama, sangat penting bagi Anda untuk memulai sejumlah langkah diatas. Selamat mencoba.

Sumber : parentmap.com

Tag : parenting
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top