Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Balita Penderita Stunting sangat Rentan Terpapar TBC

Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek mengatakan bayi di bawah lima tahun (balita) stunting (kekurangan gizi kronis) sangat rentan terpapar tuberkulosis (TBC), sehingga diperlukan dukungan multi sektor dalam upaya pencegahan dan pengendalian faktor risiko TBC dan stunting.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 22 November 2018  |  14:45 WIB
Foto rontgen sinar-X menunjukkan paru-paru yang terinfeksi tuberkulosis. - Reuters/Luke MacGregor
Foto rontgen sinar-X menunjukkan paru-paru yang terinfeksi tuberkulosis. - Reuters/Luke MacGregor

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek mengatakan bayi di bawah lima tahun (balita) stunting (kekurangan gizi kronis) sangat rentan terpapar tuberkulosis (TBC), sehingga diperlukan dukungan multi sektor dalam upaya pencegahan dan pengendalian faktor risiko TBC dan stunting.

"Contoh faktor risiko TBC adalah gangguan gizi yang dapat menyebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi," tutur Nila Farid Moeloek dalam paparannya saat akan membuka acara Simposium Nasional 'Sinergitas Multi Aktor Dalam Pencegahan Stunting dan Eliminasi TBC, di Manhattan Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/11/2018).

Nila mengatakan status gizi berpengaruh pada penurunan daya tahan tubuh dalam menghadapi invasi kuman.

Sehingga masalah stunting yang juga merupakan masalah kesehatan yang sedang dihadapi Indonesia akan sangat berpengaruh pada kemampuan balita dalam melawan kuman TBC.

"Balita stunting lebih rentan tertular penyakit TBC dibandingkan dengan balita yang mendapat asupan gizi normal," lanjutnya.

Selain itu, Nila menilai bahwa peran dukungan multi sektor atau multi aktor sangat penting bagi keberhasilan pencapaian derajat kesehatan masyarakat melalui intervensi gizi serta eliminasi penyakit menular khususnya TBC.

Untuk stunting, Nila menyampaikan upaya mengatasi faktor risiko yang diperlukan untuk mengatasinya dimulai dari kemiskinan perlindungan kesehatan khusus pada remaja putri, ibu dan anak, serta kesetaraan dalam keluarga.

"Perlindungan ini dalam arti penjaminan kecukupan gizi Ibu hamil dan tumbuh kembang anak, praktek pemberian makan pada bayi dan anak [PMBA] serta pencegahan dan pengobatan infeksi serta ketersediaan air bersih dan jamban keluarga," tandasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tuberkulosis
Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top