Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gerakan Neurodiversity di Indonesia Dinilai Masih Rendah

Tingkat penerimaan masyarakat terhadap pengidap gangguan neurodevelopmental di Indonesia dinilai masih rendah karena belum ada kesadaran secara massif tentang penerimaan pengidap ADHD, bipolar, disleksia dan sindrom kejiwaan lainnya.
Putri Salsabila
Putri Salsabila - Bisnis.com 11 Desember 2018  |  23:43 WIB
Ilustrasi anak - Reuters
Ilustrasi anak - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Tingkat penerimaan  masyarakat terhadap pengidap gangguan neurodevelopmental di Indonesia dinilai masih rendah karena belum ada kesadaran secara massif tentang penerimaan pengidap ADHD, bipolar, disleksia dan sindrom kejiwaan lainnya.

Kini, gerakan neurodiversity sudah menggeliat di berbagai negara, namun di Indonesia masih belum ada kesadaran secara massif tentang penerimaan pengidap gangguan neurodevelopmental di masyarakat.

Menurut Surilena, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Kepala Departemen Psikiatrik FKIK Unika Atma Jaya, Rumah Sakit Jiwa Atma Jaya, menuturkan bahwa pada umumnya para pengidap gangguan neurodevelopmental dapat bekerja bahkan memiliki IQ jauh di atas rata-rata normal dan superior.

“Mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata bahkan superior namun, karena gangguan ini, akademisnya tidak sesuai dengan IQ, hal ini perlu segera ditangani jika tidak, bisa berlanjut hingga lansia, walaupun mereka tetap bisa bekerja,” tuturmya.

Menurutnya, para pengidap gangguan neurodevelopmental ini perlu untuk disembuhkan agar dapat menunjang karir dan cita-cita mereka, Surilena menerangkan perlunya pengobatan secara farmakoterapi.

“Ada masalah diperkembangan sel saraf dan otaknya maka perlu pengobatan farmakoterapi. Mereka (orangtua) sering menolak untuk terapi obat, mereka (orangtua) maunya terapi perilaku, padahal kita tahu untuk mengendalikan dari dasarnya (otak dan saraf) harus dengan obat,” tuturnya.

Sebagai informasi, Kathryn Boundry dalam catatanya, Radical Psychology mengungkap gerakan neurodiversity dipicu oleh pidato Jim Sinclair - seorang autis- dalam konferensi autisme internasional di Toronto.

Kini, gerakan neurodiversity sudah menggeliat di berbagai negara. Gerakan aktivis neurodiversity berusaha menegakkan hak ADHD, bipolar, disleksia dan sindrom kejiwaan lainnya. Di Indonesia masih belum terlihat, padahal gangguan mental ini seharusnya sudah dapat diterima.

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan bipolar
Editor : Fajar Sidik
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top