Ilustrasi/Reuters
Health

Tantangan Capai Bonus Demografi di Indonesia

Asteria Desi Kartika Sari
Sabtu, 23 Maret 2019 - 17:13
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA--Indonesia diperkirakan memiliki bonus demografi pada 2025-2035. Syarat mencapai itu adalah punya sumber daya manusia yang sehat dan produktif. Kendalanya, Indonesia masih dihadapkan pada permasalahan kesehatan mental.

Anak muda masa kini hidup dalam tekanan besar. Dalam satu dekade terakhir, lebih banyak anak muda mengalami tekanan psikologis serius seperti depresi berat, hingga memiliki pikiran atau kecenderungan bunuh diri.

Berdasarkan studi dalam Journal of Abnormal Psychology, terjadi lonjakan angka gangguan mental pada remaja usia 20-an awal. Peneliti berteori masalah tersebut dipicu akses ponsel pintar dan berkurangnya waktu tidur.

Riset ini mengamati data dari Nasional Survey on Drug Use and Health di Amerika Serikat. Survei  memantau penggunaan narkoba dan masalah kesehatan mental pada remaja sejak 1971. Analisis dilakukan terhadap lebih dari 200 ribu jawaban remaja pada 2005 hingga 2017.

Para peneliti juga melihat data dari lebih dari 400 ribu orang dewasa dari 2008-2017.Berdasarkan survei tersebut ditemukan tingkat depresi berat naik lebih dari 50% pada usia remaja, yakni dari 8,7% menjadi 13,2 %. Sementara pada usia 18-25 melonjak lebih dari 60%, yakni dari 8,1% menjadi 13,2%.

Pada usia di bawah 26, orang yang berpikiran untuk bunuh diri meningkat hampir 50%, dari 7% menjadi 10,3%. Sedangkan di Indonesia, berdasar data Riset Kesehatan Dasar 2018 Kementerian Kesehatan mengungkap prevalensi depresi di Indonesia adalah 6% dari total penduduk.

Kemenkes mencatat terjadi peningkatan proporsi gangguan jiwa cukup signifikan. Pada Riskesdas 2013 tercapat sebanyak 1,7 %, naik menjadi 7% pada 2018. Namun, ini bukan angka depresi, melainkan skizofrenia yang masuk kategori gangguan jiwa berat.

Kelompok usia paling rentan menderita depresi adalah usia 75 tahun ke atas. Sebanyak 8,9% dari total penduduk berusia tersebut menderita depresi. Selain itu, usia depresi juga banyak terjadi di kalangan anak muda berusia 15 hingga 24 tahun. Sebanyak 6,2% kaum milenial muda depresi.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Eni Gustina mengatakan, untuk mengatasi masalah kesehatan mental harus diintervensi dengan memberikan remaja ruang berbicara yang lebih luas.

Dia mengatakan dalam keluarga misalnya, orang tua perlu banyak berkomunikasi dengan anak agar segala masalah yang sedang dihadapinya bisa dibicarakan.

“Masalah kesehatan mental itu butuh intervensi dengan lets talk, silakan bicara. Dia punya masalah tapi tidak tahu mesti cerita kemana, ke siapa. Jadi kita berikan konseling, mengajak orang-orang kalau dia ada masalah, dia bisa bicara ke temennya,” kata Eni.

Stres menjadi salah satu masalah kesehatan mental. Eni menyebutkan banyak contoh masalah yang mengakibatkan remaja stres seperti seks bebas, masalah keluarga, hingga masalah ekonomi.

Menurutnya banyak faktor penyebab, salah satunya kurang komunikasi dengan orang tua, karena orang tua terlalu sibuk bekerja.

Contoh lain terkait pornografi, Eni mengatakan sebagian besar pornografi karena remaja mengakses konten porno sendirian di kamar. Untuk itu, orang tua harus mengawasi, sehingga anak tidak mengalami adiksi pornografi.

“Jika sudah teradiksi kemungkinan besar mencari lawan jenisnya bahkan sampai terjadi kekerasan seksual,” kata Eni.

Kemenkes bekerja sama dengan Kemendikbud dalam memberikan konseling kepada para murid di sekolah. Tahun ini guru-guru bimbingan konseling (BK) dalam hal peningkatan kemampuan konseling bagi siswa ajarnya. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menangani permasalahan tersebut.

Tak kalah penting, agar Indonesia mendapatkan bonus demografi, remaja Indonesia harus memiliki keterampilan hidup sehat atau yang disebut dengan Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS).

PKHS merupakan keterampilan dalam mengenali karakter diri sendiri, mampu berempati, mempu menentukan pilihan terbaik, menyelesaikan masalah secara konstruktif, berpikir kritis dan kreatif, mampu dan berani menyampaikan gagasan, memiliki kemampuan interpersonal yang baik, mampu mengendalikan emosi dan mengatasi stres.

“Jika kemampuan PKHS ini dimiliki setiap remaja maka mereka dapat memberikan keputusan yang tepat dalam tiap tindakan termasuk dalam menolak ajakan perilaku beresiko,” kata Eni.

Editor : Saeno
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro