Pertunjukan Teater Kelas Dunia I La Galigo Bakal Pentas Lagi Juli 2019

Salah satu bukti eksisnya seni budaya nusantara di dunia internasional adalah pementasan teater bertajuk I La Galigo. 
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 23 Maret 2019  |  10:11 WIB
Pertunjukan Teater Kelas Dunia I La Galigo Bakal Pentas Lagi Juli 2019
Penulis naskah adaptasi Rhoda Grauer, produser Restu Imansari Kusumaningrum, presiden direktur Ciputra Artpreneur Rina Ciputra Sastrawinata, pembina yayasan I La Galigo Tanri Abeng, pemain teater Gentille Andilolo dan Sri Qadariatin pada Konferensi Pers I La Galigo di Jakarta/ Kamis 21/3 - 2019.

Bisnis.com, JAKARTA—Salah satu bukti eksisnya seni budaya nusantara di dunia internasional adalah pementasan teater bertajuk I La Galigo. 

Adapun I La Galigo telah pentas di berbagai negara di dunia seperti Singapura, Belanda, Italia, Spanyok dan lain-lain sejak 2003. Terakhir tahun lalu pertunjukan I La Galigo tampil di IMF-World Bank Group 2018 di Bali.

Tahun ini, Ciputra Artpreneur bekerja sama dengan Yayasan Bumi Purnati kembali mempersembahkan pertunjukan I La Galigo di Ciputra Artpreneur pada 4-7 Juli. 

I La Galigo merupakan adaptasi dari Sureg Galigo yang bercerita tentang mitos penciptaan suku Bugis yang terekam dalam syair bahasa Bugis kuno. 

Dalam adaptasi ke atas panggung ini, I La Galigo akan menampilkan kisah perjalanan, petualangan, peperangan, kisah cinta terlarang, upacara pernikahan yang rumit, dan juga pengkhianatan. 

Walau kisahnya terjadi pada masa lalu, ternyata ceritanya masih sangat menarik, dinamis, dan relevan dengan kehidupan modern. Inilah kekuatan dari naskah I La Galigo. 

Pengadaptasi naskah Rhoda Grauer mengatakan bahwa I La Galigo merupakan cerita yang berbeda dengan cerita klasik lainnya. "I La Galigo memang cerita yang serius, tetapi banyak juga adegan-adegan yang lucu," kata Grauer. 

Menurutnya, banyak versi cerita dari I La Galigo, mulai dari versi panjang dan versi singkat. "Jadi kami memilih satu versi yang khusus untuk dipentaskan," katanya. 

Tanri Abeng, pembina Yayasan I La Galigo mengatakan bahwa selama 20 tahun perjalanan pertunjukan I La Galigo merupakan bagian dari pelestarian seni dan budaya Indonesia. “Pada  saat I La Galigo dipentaskan di New York, sebanyak 2.000 seat itu penuh dan mendapatkan standing ovation,” kata Tanri. 

Dia memuji kepiawaian sutradara Robert Wilson dalam menampilkan karya I La Galigo secara spektakuler. Buktinya, pertunjukan teater ini mendapat sambutan luar biasa dari dunia internasional. 

“Saya harap pertunjukan di Jakarta Juli nanti akan sama suksesnya dengan pertunjukan sebelumnya, dan jangan sampai dilewatkan oleh pencinta seni,” ujarnya. 

Presiden direktur Ciputra Artpreneur Rina Ciputra Sastrawinata mengatakan bahwa dia memilih I La Galigo untuk dipentaskan kembali karena dia sendiri jatuh cinta pada pertunjukan ini.

“Dari segi cerita menarik, dari segi produksi kelas dunia,” kata Rina. Dia mengaku bahwa I La Galigo merupakan pementasan yang sangat megah dan luar biasa dengan produksi yang sangat baik.

Itulah sebabnya dia berbicara dengan produser Restu Imansari Kusumaningrum untuk menampilkan pertunjukan teater ini kembali di Jakarta. Rina berharap bahwa penonton akan mengalami pengalaman yang berbeda melalui pertunjukan ini.

Restu mengatakan bahwa setelah 20 tahun tampil perdana, kini I La Galigo bukan lagi milik orang Sulawesi Selatan, tetapi milik bangsa Indonesia. “I La Galigo harus dilanjutkan terus karena bagian dari kekayaan bangsa kita,” kata Restu. 

Tim produksi yang akan memproduksi teater ini nanti akan banyak digarap oleh tim dari Indonesia, bukan saja dari luar negeri. Adapun pemeran utama dalam pementasan ini adalah Gentille Andilolo dan Sri Qadariatin.

Tiket pertunjukan bisa dibeli mulai hari ini (21/3/1991) melalui laman resmi Ciputra Artpreneur. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
teater

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top