Mengatur Nutrisi yang Tepat Saat Puasa, Ini Tipsnya

Pengaturan nutrisi, komposisi makanan serta manajemen waktu yang baik selama berbuka dan sahur bisa meningkatkan performa tubuh selama berpuasa. 
Asteria Desi Kartika Sari | 12 Mei 2019 16:53 WIB
Petugas menyiapkan makanan untuk berbuka puasa di Kampung Ramadan Jogokariyan, Yogyakarta, Selasa (7/6). Selama bulan Ramadan, setiap hari pengurus masjid Jogokariyan menyediakan sekitar 1.200 hingga 1.500 porsi makanan buka puasa dan dibagikan gratis kepada masyarakat. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Berpuasa, menahan lapar dan dahaga kurang lebih selama 14 jam bisa saja membuat membuat badan terasa lemas dan kurang bertenaga. Namun, apabila mengkonsumsi nutrisi yang tepat, kebutuhan akan gizi selama berpuasa akan tetap terjaga.

Pengaturan nutrisi, komposisi makanan serta manajemen waktu yang baik selama berbuka dan sahur bisa meningkatkan performa tubuh selama berpuasa. 

Ahli nutrisi dr Tan Shot Yen mengatakan ketika berbuka puasa pada prinsipnya adalah membatalkan puasa.  Sedangkan masalah utama saat berpuasa adalah dehidrasi. Artinya, lebih baik berbuka diawali dengan minum segelas air.

Dia menambahkan sebaiknya juga tidak langsung tergesa-gesa dalam mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang besar supaya tidak terjadi gangguan pada pencernaan. Juga perlu menghindari makanan yang mudah dicerna menjadi gula.

“Itu membuat lonjakan drastis kadar gula darah setelah berbuka sebagai akibat dari rentetan kerja hormon yang merugikan tubuh,” jelasnya.

Menurutnya pilihan makanan terbaik untuk berbuka adalah 3-5 biji kurma. Selain setara dengan 100-150 kalori, makanan yang manis sangat dianjurkan saat memulai buka puasa. Pasalnya, karbohidrat sederhana lebih mudah dicerna oleh tubuh untuk menggantikan cadangan gula darah yang terpakai selama berpuasa.

Untuk sahur, lanjutnya, pada prinsipnya sahur sama saja dengan sarapan sehingga kaidah sehat dan seimbang tetap harus dijaga. Komposisi nutrisi yang harus dipenuhi ketika sahur adalah kabohidrat yang cukup, protein yang diolah dengan cara yang sehat, serta lemak yang terpilih.

Tubuh terasa lemas saat berpuasa dikarenakan kadar gula yang melorot terlalu cepat. Hal tersebut terjadi apabila sahur dengan makanan yang terlalu mudah dicerna, sehingga cepat diserap menjadi gula darah.

“Biasanya karena makanan yang berlemak seperti gorengan. Padahal kita butuh makan lebih banyak, tapi sudah keburu kenyang,” katanya.

Tan mengatakan sebenarnya berpuasa itu hanya soal pengaturan jarak makan. Sahur dapat diartikan sarapan yang kepagian. Anggap saja sehabis salat magrib adalah makan siang yang terlambat karena banyaknya pekerjaan. Setelah salat tarawih bisa melanjutkan makan, sebagai agenda makan malam.

“Tapi jangan makan yang banyak-banyak. Kan bonusnya bulan puasa bisa bikin langsing karena total kalori per hari menurun,” katanya.

Tak hanya itu, dia menambahkan daya tahan kekebalan tubuh bisa saja anjlok karena semakin berkurangnya waktu tidur saat berpuasa. Apalagi bagi para penderita hipertensi dan diabetes, perlu lebih hati-hati. Pasalnya kondisi tersebut akan semakin meningkatkan tekanan darah dan kontrol gula darah yang kurang baik.

Untuk menjaga tubuh tetap bugar tidak ada salahnya untuk tetap melakukan olahraga secara teratur. Kendati begitu, dia tidak merekomendasikan untuk melakukan gym karena gula darah saat berpuasa sangat rendah-rendahnya.

“Ini dapat merusak tubuh. Olahraga yang ringan atau low impact cardio. Itu bisa dilakukan setelah tarawih. Catatannya istirahat dulu 30 menit setelah makan,” lanjutnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ramadan, berpuasa

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup