Psikolog Sebut Berpuasa di Bulan Ramadan Bikin Jiwa Tenang

Berpuasa hakikatnya tidak hanya menahan hawa nafsu makan dan minum semata, namun juga mengendalikan emosi. Saat berpuasa, seseorang belajar mengendalikan perilaku dan mengontrol diri. Dari pembelajaran tersebut, hati dan pikiran pun menjadi cenderung lebih tenang.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 11 Mei 2019  |  15:50 WIB
Psikolog Sebut Berpuasa di Bulan Ramadan Bikin Jiwa Tenang
Sekjen Asosiasi Psikologi Positif Indonesia Abdul Rahman Shaleh. JIBI/Bisnis - Eva Rianti

Bisnis.com, JAKARTA – Berpuasa hakikatnya tidak hanya menahan hawa nafsu makan dan minum semata, namun juga mengendalikan emosi.

Ketika mampu melakukan pengendalian emosi, orang yang berpuasa akan meraih manfaat yang lebih besar, yakni kondisi psikis yang lebih rileks dan tenang.

Sekjen Asosiasi Psikologi Positif Indonesia Abdul Rahman Shaleh mengungkapkan bahwa puasa memiliki beberapa manfaat yang dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang yang menjalankannya.

Pertama, pengendalian perilaku. Ketika orang menjalankan puasa, artinya sudah mempersiapkan diri untuk mampu menahan hawa nafsu, baik nafsu makan, minum, maupun amarah. Jadi, ada proses dimana seseorang yang berpuasa berusaha mengendalikan diri dan perilakunya.

“Dalam arti yang sesungguhnya, orang berpuasa menahan banyak hal keinginan. Dalam konteks psikologi, orang yang berpuasa melakukan apa yang disebut dengan regulasi diri, bahwa seseorang sedang belajar untuk mengatur perilakunya selama Ramadan,” katanya kepada Bisnis.

Kedua, pengontrolan diri. Manfaat ini merupakan efek daripada pengendalian diri. Dalam ilmu psikologi, kontrol diri orang yang berpuasa menjadi lebih kuat karena pada saat itu melakukan pengendalian emosi, menahan amarah, dan tidak berlebihan untuk mudah tertarik pada sesuatu yang mengundang nafsunya.

Dia menjelaskan, orang yang bisa mengontrol diri biasanya lebih tenang dalam menghadapi kehidupan. Dengan ketenangan yang tercipta, orang tersebut akan terhindar dari gejala-gejala depresi atau tekanan yang berlebihan.

“Di samping itu pasti akan lebih sehat karena orang yang berpuasa kan malamnya tarawih, fungsi sosialnya meningkat karena bertemu dan berbicara dengan orang lain. Bahasa lainnya, puasa bukan sekedar diet untuk membakar kalori, tetapi membakar ego,” ungkapnya.

Kontrol diri pada saat Ramadan menjadi berbeda dibandingkan di luar Ramadan. Ini berkaitan dengan perbedaan kondisi lingkungan atau komunitas.

Jika berpuasa sendiri di luar Ramadan, suasana di lingkungan atau komunitas tidak begitu terasa karena hanya kepentingan diri. Karena itu, kontrol diri menjadi tidak terlalu kuat, bahkan jika membatalkan puasa secara seketika tidak jadi masalah.

Sementara ketika berpuasa di bulan Ramadan, tekanan bagi orang yang berpuasa lebih kuat. Pasalnya, pada saat Ramadan, seolah-olah dipaksa untuk posesif dengan semua orang. Hal ini menurutnya sangat memberi pengaruh terhadap kondisi psikis. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Puasa, Ramadan

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top