Memutus Rantai Penyebaran Tuberkolusis

Tuberkulosis atau TBC menjadi suatu penyakit yang biasanya menyerang dengan perlahan-lahan merusak paru-paru, tetapi dapat juga menyebar ke bagian tubuh yang lain, khususnya otak, ginjal, dan tulang.
Asteria Desi Kartika Sari | 16 Mei 2019 17:51 WIB
Foto rontgen sinar-X menunjukkan paru-paru yang terinfeksi tuberkulosis. - Reuters/Luke MacGregor

Bisnis.com, JAKARTA--Tuberkulosis atau TBC menjadi suatu penyakit yang biasanya menyerang dengan perlahan-lahan merusak paru-paru, tetapi dapat juga menyebar ke bagian tubuh yang lain, khususnya otak, ginjal, dan tulang.

Yang beresiko tinggi terkena TBC yaitu orang yang berhubungan dekat dengan penderita, tinggal dalam ruangan yang kotor dengan ventilasi buruk, dan orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Sebelum seseorang jatuh sakit karena TBC, ada dua hal yang harus terjadi. Pertama, dia harus terinfeksi bakteri TBC (Mycobacterium tuberculosis). Kedua, infeksi tersebut harus berkembang menjadi penyakit.

Basil yang dihirup oleh seseorang yang terinfeksi berkembang biak di dalam rongga dada. Akan tetapi, pada 9 dari 10 orang, sistem kekebalan menghentikan penyebaran infeksi, dan orang yang terinfeksi tidak sampai jatuh sakit.

Adakalanya, basil yang tidak aktif dapat aktif kembali jika sistem kekebalan menjadi sangat lemah akibat HIV, diabetes, perawatan kanker dengan kemoterapi, atau penyebab lain.

TBC pada paru-paru dapat mengakibatkan batuk-batuk, kehilangan berat badan dan nafsu makan, mengeluarkan banyak keringat pada malam hari, lemas, terengah-tengah, dan rasa nyeri di dada.

Penularannya pun berlangsung sangat cepat dan mudah mengancam siapa saja. Bakteri tersebut ditularkan melalui udara saatorang batuk, berbicara, bernyanyi. Mereka memercikan kuman ke udara, sehingga orang lain juga terpapar virus itu.

Indonesia termasuk dalam daftar negara dengan penderita Tuberkulosisi (TB) tertinggi.Indonesia menduduki peringkat nomor tiga pederita TB paling banyak setelah India dan China.

Berdasarkan data WHO Global TB Report 2018, insiden TB di Indonesia diperkirakan mencapai 842.000 kasus, dengan rincian 442.172 kasus TB teridentifikasi dan 399.828 yang tidak teridentifikasi atau terdiagnosa.

Guna menekan angka tersebut dibutuhkan kesadaran dan pengetahuan pasien, dokter, dan juga masyarakat. Apalagi pemerintah menargekan pada 2030 mengeliminasi penyakit tersebut.

Yang perlu ditekankan pada pasien, dokter spesialis paru Erlina Burhan mengatakan pada dasarnya penyakit TBC dapat disembuhkan dengan menjalankan pengobatan yang membutuhkan kepatuhan tingkat tinggi. Tak hanya itu, pengobatan juga berlangsung lama.

Meskipun pasien sudah meresa lebih baik di tengah pengobatan, obat yang dianjurkan harus dihabiskan sesuai anjuran dokter.

“Ketidakpatuhan pasien TBC dalam pengobatan dapat memperburuk kondisi hingga pasien menjadi resisten terhadap obat, dan menjadi Multi-Drug Resistant Tuberculosis (MDTR-TB),” jelasnya.

Dia menjelaskan MDTR-TB merupakan suatu kondisi dimana pasien resisten terhadap minimal obat anti TB paling ampuh seperti isoniazid dan rifampisin. Atau obat anti TB lini utama seperti etambutol, streptomisisn, dan pirazinami. Sehingga pasien membutuhkan pengobatan dengan dosis yang lebih tinggi.

Lebih lanjut, untuk menekan angka bahkan mengakhiri epidemic TBC di Indonesia, sektor industri juga memegang peranan penting. Pasalnya, kasus TBC di Indonesia hampir 50% ditemukan pada usia produktif. Harapannya, swasta juga mendukung pemerintah untuk juga berperan, dengan memberikan laporan penemuan kausu dan pengobatan yang diberikan.

Keahlian dan pelatihan dari tenaga medis perusahaan dalam mendeteksi juga perlu ditingkatkan. Supaya penanganan dan pengobatan dapat dilakukan sejak dini dan sesuai standar yang direkomendasikan.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tuberkulosis

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup