Kerugian Global Akibat Tuberkulosis Mencapai US$17,8 Miliar

Berdasarkan WHO Global Report 2018, Indonesia berada di peringkat tiga teratas di dunia dalam jumlah kasus tuberkolusis (TB) secara umum dan menduduki ranking ke-7 (tujuh) untuk kasus tuberkolusis resisten (DR-TB)
Asteria Desi Kartika Sari | 18 Mei 2019 12:52 WIB
Pengidap tuberkulosis (TB) - tuberkulosis.org

Bisnis.com, JAKARTA--Berdasarkan WHO Global Report 2018, Indonesia berada di peringkat tiga teratas di dunia dalam jumlah kasus tuberkulosis (TB) secara umum dan menduduki ranking ke-7 (tujuh) untuk kasus tuberkolusis resisten (DR-TB).

Tingkat kejadian TB di negara ini dilaporkan mencapai 842.000 kasus dikarenakan tingkat kesadaran yang rendah dan keterbatasan akses terhadap diagnosis dan pengobatan.

Sementara, National TB Program (NTP) Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa dari 842.000 kasus TB tersebut, hanya 61% yang ternotifikasi. Insiden TB-MDR ada sekitar 23.000 pasien di mana hanya 4.400 diantaranya yang memiliki akses pengobatan.

Belum lagi sebagian besar orang yang terkena dampak merupakan mereka yang berada pada kelompok usia produktif. Dampak penyakit ini, tidak hanya akan terbatas pada kesehatan mereka, tetapi juga status sosial dan ekonomi mereka.

Di luar dampaknya yang menghancurkan kehidupan manusia dan menjadi ancaman keamanan kesehatan global, DR-TB juga sangat merugikan secara ekonomi. Menurut analisis The Economist Intelligence Unit (EIU) , berdasarkan tingkat insiden dan prevalensinya, kematian akibat DR-TB dalam satu tahun diperkirakan menelan biaya ekonomi global setidaknya US$17,8 miliar.

Angka tersebut mewakili hilangnya produk domestic bruto di masa depan. Pasalnya kematian akibat DR-TB secara globa mencapai 230.000 kasus pada tahun 2017. Selain itu, dalam satu tahun, DR-TB menyebabkan kerugian setidaknya US$ 3 miliar dalam hal paritas daya beli karena absen kerja di sekitar 100 negara .

Yang mengkhawatirkan, laporan tersebut menyatakan bahwa hal tersebut merupakan estimasi konservatif dan tidak memasukkan dampak ekonomi setiap tahun akibat absen kerja dari sekitar 400.000 orang dengan DR-TB yang tidak terdiagnosis dan terobati, atau diperkirakan hampir 70.000 kematian akibat DR-TB yang tidak terdokumentasi.

Jaak Peeters, Global Head Johnson & Johnson Global Public Health Janssen-Cilag GmbH , mengatakan tanpa tindakan yang mendesak dan tanggapan kebijakan yang kuat untuk mengubah tren ini, biaya tersebut akan terus bertambah.

“Laporan EIU itu selayaknya meningkatkan kekhawatiran terhadap DR-TB. Jika penyakit ini terus dibiarkan tidak terkendali, kerusakan pada kehidupan manusia dan perekonomian dapat sangat merugikan,” katanya.

Saat ini, sumber daya dan kesiapsiagaan secara global tidak sejalan dengan meningkatnya penyebaran DR-TB. Menurut Stop TB Partnership, saat ini, diperkirakan terdapat selisih pendanaan sebesar US$ 3,5 miliar pada tahun 2018 – 2020 untuk program pencegahan, diagnosa dan pengobatan TB. Selisih ydiperkirakan akan meningkat pada tahun 2022. Selain itu, sebanyak US$ 9 miliar dibutuhkan untuk penelitian dan pengembangan (R&D) pada tahun 2020 guna mengembangkan obat – obatan, diagnostik dan vaksin baru.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tuberkulosis

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup