Siasat Anti-Melar Setelah Ramadan dan Lebaran

Biang kerok dari kegemukan dan risiko-risiko penyakit akibat kegemukan disebabkan oleh jumlah asupan kalori yang berlebih dari kebutuhan harian.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 25 Mei 2019  |  08:07 WIB
Siasat Anti-Melar Setelah Ramadan dan Lebaran
Ilustrasi berat badan naik - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Sebagian besar orang merasa tidak masalah menghentikan gaya hidup sehat sejenak untuk menikmati kemeriahan Idulfitri yang dilimpahi berbagai jenis makanan.

Akhirnya, mereka kalap mengonsumsi makanan lebih dari kebutuhan harian. Belum lagi, tekanan darah dan kolesterol meningkat gara-gara tidak kuat menahan nafsu makan. Hal ini ditambah pula dengan liburnya kegiatan olahraga. Tak heran jika pada saat Lebaran banyak orang yang melebar karena meningkatnya berat badan.

Dokter spesialis gizi klinis Juwalita Surapsari dari RS Pondok Indah-Pondok Indah Jakarta mengatakan bahwa kebutuhan kalori harian pria rata-rata adalah 1.800—2.000 kalori.

Sementara itu, untuk perempuan dengan tinggi badan di atas 150 cm adalah 1.500—2.000 kalori dan 1.500 kalori untuk perempuan dengan tinggi badan kurang dari 150 cm.

“Kalau untuk pria yang ingin menjaga berat badan, jumlah kalorinya jangan lebih dari 2.200, kalau bisa 1.800 saja,” katanya. Sementara itu, untuk pria yang ingin menurunkan berat badan sebaiknya hanya mengonsumsi asupan makanan dengan jumlah kalori 1.800 saja.

Biang kerok dari kegemukan dan risiko-risiko penyakit akibat kegemukan disebabkan oleh jumlah asupan kalori yang berlebih dari kebutuhan harian. Godaan makan banyak tanpa menyesuaikan dengan kebutuhan kalori dapat menyebabkan cadangan glikogen dan lemak meningkat.

Nutrisi yang dikonsumsi seseorang biasanya hanya akan digunakan 2 jam setelah makan. Namun, apabila asupan yang masuk ke dalam tubuh berlebihan, maka nutrisinya akan disimpan dalam bentuk cadangan lemak. Hal inilah yang membuat berat badan meningkat tak keruan.

HITUNG KALORI

Salah satu cara agar tidak kalap saat dihadapkan pada makanan lezat adalah dengan mengetahui kebutuhan kalori yang dibutuhkan tiap hari.

Selain itu, penting juga untuk menghitung atau menakar jumlah kalori setiap makanan. Menu yang sering disajikan saat Lebaran pada umumnya mengandung kadar lemak tinggi yang artinya juga tinggi kalori. Ketupat, gulai, opor, rendang, soto, dan makanan bersantan lainnya sebetulnya boleh dikonsumsi, asalkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kalori tadi.

Mari perhatikan jumlah kalori dari makanan-makanan tersebut. Satu porsi opor ayam misalnya mengandung 250 kalori, gulai ayam 240 kalori, rendang 150 kalori, dan ketupat 120 kalori. Apabila kita mengonsumsi makanan ini dalam satu kali penyajian saja, jumlahnya sudah mencapai 760 kalori.

Terlebih lagi, jika konsumsi ini masih ditambah dengan minuman manis, kue kering, kacang-kacangan, dan kudapan lain yang tinggi gula. Anda mungkin saja mengonsumsi kebutuhan kalori harian hanya dalam satu kali makan.

Dokter spesialis gizi Diana Sunardi dari RS Cipto Mangunkusumo Jakarta mengatakan, setiap orang sebaiknya mengenali kebutuhan kalorinya dengan baik sehingga tidak perlu mengalami perubahan kondisi kesehatan. Hal inilah yang disebut dengan pengaturan jumlah kalori yang tepat demi tubuh yang sehat.

Sebenarnya pada prinsipnya pola makan yang tepat itu seperti yang dianjurkan mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan sebaiknya mengingat jenis makanannya. “Kita membutuhkan karbohidrat misalnya dari nasi, tetapi ingat kalau kentang goreng atau kentang balado itu juga karbohidrat, jadi batasi asupannya,” katanya.

Kemudian, tetaplah mencari sayuran walau mungkin tidak banyak hidangan sayuran di saat Idulfitri. “Tetapi mungkin ada acar atau buah, itu dapat menggantikannya,” katanya.

Menurutnya kalau disesuaikan dengan porsi piring makan yang seharusnya, pola makan pasti aman.

Kalau banyak pilihan, Diana menganjurkan untuk menentukan pilihan makanan sebelum makan. Harus berani memilih antara mau makan opor ayam, ketupat, rendang daging, atau salah satunya. Jangan kalap memilih semua jenis makanan.

“Bisa memilih potongan yang kecil saja untuk dagingnya,” ujarnya. Apabila harus mengunjungi berbagai tempat, Diana menyarankan untuk sedikit saja dalam mengambil porsi makanan di setiap tempat.

Pada umumnya, masyarakat Indonesia menjalani euforia Idulfitri dalam jangka waktu yang cukup lama. Setelah Idulfitri, masih diikuti dengan halalbihalal dan rangkaian acara lainnya. “Dalam kurun waktu sebulan saja bisa naik hingga 4 kilogram, nanti menurunkannya juga susah,” lanjutnya.

Jadi, daripada mengalami situasi seperti itu, seseorang sebaiknya mengendalikan diri dan memantau jumlah kalori makanan. Diana menganjurkan untuk memenuhi makanan pokok yang bersumber dari karbohidrat, lauk pauk sebagai sumber protein, serta sayur dan buah untuk kebutuhan vitamin dan mineral.

Hindari camilan makanan dan minuman yang manis seperti kue kering. Sebaiknya, penuhi kebutuhan hidrasi dengan air putih saja, tidak perlu menambahnya dengan jus atau minuman manis lainnya.

Kalau Anda harus makan sebanyak tujuh kali dalam satu hari itu, sebaiknya bagikan kebutuhan kalori Anda dengan tujuh porsi. Katakanlah kebutuhan kalori Anda 2.000, silakan bagi dengan tujuh piring makanan. Anda sebaiknya makan setidaknya 250 kalori saja setiap kali makan. Ingat, konsumsi menu makanan yang sehat dan alami.

Hal ini pun harus diimbangi dengan pembakaran energi yakni aktivitas fisik. Jika tidak ada aktivitas fisik, sia-sia perjuangan menghitung kalori. Selamat makan dengan bijak saat Idulfitri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, obesitas, lebaran, berat badan

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top