Ade Rai: Pusat Kebugaran adalah Puskesmas yang Nyata

Dia mengatakan bahwa kehadiran fitness center bukanlah untuk adu gagah atau memperbesar otot saja, tetapi lebih jauh lagi untuk mengedukasi masyarakat agar lebih cerdas dalam memperhatikan kesehatan.
Tika Anggreni Purba | 31 Mei 2019 07:44 WIB
Ilustrasi - fitnessfirst.co.id

Bisnis.com, JAKARTA—Walau sudah lama bergelut dalam bisnis pusat kebugaran (fitness center), Ade Rai berpandangan bisnisnya bukan melulu soal profit. Akan tetapi, sebagai pegiat olahraga dia memaknai bisnis pusat kebugaran sebagai bagian dari memperoleh keuntungan yang lebih dari sekadar uang, yakni kesehatan.

“Kami sesungguhnya adalah pusat kesehatan masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh kualitas hidup yang lebih baik karena teredukasi mengenai kesehatan,” katanya.

Bagi pria yang telah terjun dalam bisnis gym sejak 1997 ini, kehadiran pusat kebugaran harusnya menolong banyak orang untuk lebih giat berolahraga dengan cara yang baik dan benar.

Menurutnya banyak pengusaha pusat kebugaran yang mengalami tantangan besar dalam berbisnis. Tantagan itu adalah perizinan, penyediaan tempat, dan penyediaan alat yang harus menggelontorkan sejumlah dana yang tidak sedikit. “Belum lagi pajak yang tinggi karena pusat kebugaran masuk ranah pariwisata, bukan kesehatan,” ujarnya.

Pembelian alat untuk pusat kebugaran juga tidak murah, apalagi jika alat harus didatangkan dari Amerika Serikat. Sementara alat dari Indonesia dinilai belum begitu baik dari segi kualitas padahal harganya juga mahal.

Ade mengatakan margin keuntungan yang diterima oleh pusat kebugaran hanya 15 persen, sementara pajak yang harus dibayarkan mencapai 30 persen. Inilah yang membuat banyak pusat kebugaran tidak bertahan lama.

Belum lagi banyak orang yang menganggap pusat kebugaran sebagai tempat hiburan adalah salah kaprah yang perlu diperbaiki. Padahal menurut Ade, sarana pusat kebugaran harusnya menjadi ujung tombak dari kesehatan sebuah bangsa.

Kehadiran pelatih saat berolahraga di pusat kebugaran merupakan salah satu nilai plus. Pelatih merupakan guru kesehatan yang dapat mengarahkan peserta olahraga untuk melakukan olahraga dengan teknik yang benar.

Dia mengatakan bahwa kehadiran fitness center bukanlah untuk adu gagah atau memperbesar otot saja, tetapi lebih jauh lagi untuk mengedukasi masyarakat agar lebih cerdas dalam memperhatikan kesehatan.

Dia menyoroti pusat kebugaran yang justru salah kaprah dengan menjual obat pembesar otot, hormon, produk kesehatan, dan sebagainya yang sebetulnya bukan esensi dari pusat kebugaran.

Secara bisnis, omzet klub olahraga yang dibangun oleh Ade mencapai keuntungan 15-20 persen. “Tetapi ada masa di masa fitness center kami sepi, yaitu saat Ramadan dan libur akhir tahun, bisa dikatakan dalam setahun ada 1 kuartal itu sepi,” katanya.

Pengelolaan tempat gym yang baik menurut Ade perlu dilakukan dengan tepat untuk tetap bertahan di bisnis olahraga. Tidak hanya soal penyediaan alat yang berkualitas, manajemen sumber daya manusia juga penting.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kebugaran, perangkat fitnes digital

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top