Sanofi Luncurkan Aplikasi Pelayanan Kesehatan Perawatan Diabetes DEEP

Bekerjasama dengan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Sanofi Indonesia merilis aplikasi mobile yang disebut Diabetes Education Enhancement for Engaged Partnership (DEEP) di Perpustakaan Nasional RI pada Senin (1/7/2019).
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 02 Juli 2019  |  09:46 WIB
Sanofi Luncurkan Aplikasi Pelayanan Kesehatan Perawatan Diabetes DEEP
(dari kiri ke kanan) dr Mary Josephine, Head of Medical Sanofi indonesia, Hector Reyes Manager China & Emerging Markets Sanofi Indonesia, Dwi Martiningsih Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Premier BPJS Kesehatan, Prof. DR. dr. Ketut Suastika Ketua Umum PB PERKENI dan Rulli Rosandi Kordinator Bidang Teknologi Informatika PERKENI di Perpustakaan Nasional RI pada Senin (1/7/2019) - Ria Theresia

Bisnis.com, JAKARTA - Bekerjasama dengan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Sanofi Indonesia merilis aplikasi mobile yang disebut Diabetes Education Enhancement for Engaged Partnership (DEEP) di Perpustakaan Nasional RI pada Senin (1/7/2019). 

Jumlah penyandang diabetes di Indonesia yang sangat besar menjadi salah satu faktor dibentuknya aplikasi ini bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). 

Hector Reyes selaku General Manager China & Emerging Markets Sanofi Indonesia menyebutkan kalau penyakit diabetes tidak memandang umur, ras atau jenis kelamin dan bisa menyerang siapapun, sehingga dapat sangat berpengaruh pada hati dan jantung. 

"Berita baiknya kita bisa menghindari diabetes dengan mendiagnosa lebih awal gejala diabetes dengan memberikan sosialisasi kesadaran di antara masyarakat dengan membentuk mobile application bernama DEEP yang dapat diakses melalui iOS dan Android. Aplikasi ini dapat memberikan informasi tentang perkembangan terkini tentang penyakit diabetes," ujar Hector. 

Ketut Suastika selaku ketua umum PB PERKENI juga mengapresiasi peluncuran aplikasi yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat untuk mencegah penyakit diabetes terutama bagi masyarakat yang high risk menderita diabetes seperti mereka dengan riwayat diabetes, kegemukan dan malas berolahraga. 

Perwakilan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Dwi Martiningsih juga memberikan tanggapan positifnya terhadap peran semua pemangku kepentingan yang berkontribusi dalam upaya pencegahan penyakit mematikan salah satunya adalah diabetes, melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Jumlah kepesertaan JKN KIS per satu Juni 2019 sudah mencakup sudah mencakup 220 juta rakyat Indonesia atau sekitar 84,1 persen. Namun cakupan ini bukanlah akhir dari perjuangan, yang paling penting adalah tercapainya cakupan itu sendiri yakni akses kualitas dan proteksi finansial. Program JKN NIS harus dapat memastikan ekuitas, akses terhadap pelayanan kesehatan bagi peserta untuk kebutuhan medis tanpa hambatan geografis maupun finansial," tutup Dwi Martiningsih. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
diabetes

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top