Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Imunoterapi, Inilah Obat Kanker Terbaru di Indonesia

Imunoterapi merupakan revolusi dalam pengobatan kanker. Dengan imunoterapi, kualitas dan harapan hidup pasien kanker lebih baik dibanding kemoterapi.
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 26 Juli 2019  |  19:53 WIB
Sel kanker - Istimewa
Sel kanker - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Imunoterapi merupakan revolusi dalam pengobatan kanker. Dengan imunoterapi, kualitas dan harapan hidup pasien kanker lebih baik dibanding kemoterapi.

Di Indonesia,  saat ini imunoterapi yang tersedia untuk pengobatan kanker paru dan kandung kemih pada tahap stadium lanjut.

Lalu, apa beda imunoterapi dan kemoterapi dalam pengobatan kanker?

Ahli onkologi dari RSUPN Cipto Mangunkusumo Dr dr Ikhwan Rinaldi SpPD-KHOM, Kamis (25/7/2019), mengatakan imunoterapi menghancurkan sel kanker dengan mengaktifkan sistem imunitas tubuh untuk mendeteksi dan menghancurkan sel asing atau sel kanker di dalam tubuh dengan mengerahkan sel T.

Sementara, kemoterapi menargetkan penghancuran sel kanker  dengan pemakaian zat kimia.

Kemoterapi dapat menghancurkan sel kanker dan mencegah kekambuhan atau berkembangnya kanker di dalam tubuh kembali, tapi dapat memengaruhi sel sehat yang secara normal membelah diri dengan cepat, misalnya sel pada kulit, usus, serta rambut. Kerusakan pada sel sehat itu yang dapat mengakibatkan efek samping.

Merangsang Sistem Imun

Ikhwan menjelaskan, sel T di kelenjar getah bening bertindak sebagai filter zat-zat asing di dalam tubuh

“Imunoterapi kanker bertujuan menstimulasi sistem imun untuk secara spesifik menargetkan dan membunuh sel kanker,” ujarnya.

Saat ini, satu-satunya imunoterapi yang  ada di Indonesia adalah atezolizumab merupakan anti PD-L1 untuk pasien kanker paru bukan sel kecil dan kandung kemih stadium lanjut.

Artinya, atezolizumab diberikan pada pasien kanker paru dan kandung kemih yang sudah mendapat kemoterapi.

Atezolizumab adalah monoklonal antibody yang secara langsung dan selektif menargetkan PD-L1. Atezolizumab merupakan anti PD-L1yang pertama dan satu-satunya di Indonesia.

“Untuk melakukan terapi atezolizumab, pasien tidak perlu melakukan tes tambahan dan biopsi ulang, sehingga memberikan kenyamanan,” kata Ikhwan.

Ahli onkologi  Dr dr Ikhwan Rinaldi SpPD-KHOM (kiri)./Istimewa

Hasil Penelitian

Penelitian menemukan  bahwa atezolizumab dapat meningkatkan kualitas dan harapan hidup pasien. Hasil penelitian itu adalah:

1.  Atezolizumab memberikan rata-rata kesintasan (survival) hingga 13,8 bulan dan durasi respons yang panjang hingga 23,9 bulan pada pasien kanker paru stadium lanjut yang tak merespons pengobatan sebelumnya.

2.  Untuk pasien kanker kandung kemih stadium lanjut lini kedua, atezolizumab memberikan durasi respons yang panjang hingga 21,7 bulan.

3.  Keamanan yang lebih baik dengan efek samping yang lebih terkontrol dibandingkan dengan pengobatan standar lain

4.  Atezolizumab memberikan kenyamanan pada pasien kanker paru stadium lanjut karena tes PD-L1 tidak diperlukan untuk menjalani terapi ini sehingga pasien tidak perlu melakukan biopsi ulang.

Ikhwan menambahkan  efek samping atezolizumab memang lebih rendah dibanding kemoterapi.  Adapun efek samping atezolizumab adalah radang paru, namun dengan pengobatan yang baik, efek samping ini dapat dikontrol.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obat kanker kanker paru-paru
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top