Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jangan Terlambat Mendeteksi Demensia

Demensia adalah kondisi yang terjadi pada seseorang karena penurunan kognitif atau penurunan fungsi luhur otak yang disertai dengan perubahan perilaku.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 26 Juli 2019  |  13:40 WIB
Otak - medicaldaily.com
Otak - medicaldaily.com

Bisnis.com, JAKARTA— Demensia adalah kondisi yang terjadi pada seseorang karena penurunan kognitif atau penurunan fungsi luhur otak yang disertai dengan perubahan perilaku.

Biasanya terjadi pada usia lansia, namun tidak menutup kemungkinan orang yang lebih muda juga dapat mengalaminya. Apabila demensia telanjur terjadi, tidak ada kata sembuh. Itulah sebabnya titik krusial untuk mengatasi persoalan ini adalah pada masa prademensia.

Pada masa prademensia, pencegahan agar tidak melanjut ke demensia dapat dilakukan dengan terapi yang tepat.

Bahkan jika tanda-tanda penurunan fungsi luhur terdeteksi pada masa prademensia, seseorang masih dapat kembali menjadi normal. Intervensi dini pada saat sel-sel otak masih baik akan membantu pencegahan demensia. Oleh karena itu, kuncinya adalah deteksi dini tanda-tanda demensia.

Cara Mendeteksi Prademensia

Cara mendeteksi prademensia adalah dengan rutin melakukan pemeriksaan fungsi otak.

Dalam pemeriksaan fungsi otak akan dilakukan pengecekan terhadap kondisi seseorang misalnya melalui konsultasi tentang perubahan keseharian, emosi, dan gangguan keseimbangan.

Pemeriksaan fungsi kognitif juga dilakukan, diiringi dengan pemeriksaan riwayat penyakit yang dapat menjadi faktor risiko seperti penyumbatan pembuluh darah, diabetes melitus, dan hipertensi.

Dokter spesialis saraf Yuda Turana mengatakan bahwa untuk menjaga kesehatan otak memang memerlukan upaya seperti menghindari faktor risiko kerusakan otak dan melakukan cek berkala.

Dekan Fakultas Kedokteran dan Kesehatan UNIKA Atma Jaya ini mengatakan bahwa faktor risiko kerusakan otak adalah makanan tinggi garam, aktivitas fisik sangat kurang, dan kurangnya interaksi sosial.

“Interaksi sosial secara langsung juga sangat mempengaruhi kesehatan otak, itulah sebabnya penting sekali untuk menjaga pertemanan secara fisik dengan pertemuan tatap muka langsung,” ujar Yuda.

 Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa orang yang hanya memiliki sedikit interaksi sosial cenderung mengalami penurunan kognitif lebih cepat.

“Aktivitas sosial seperti rekreasi, makan di luar, bertemu dengan teman-teman, dan bersilaturahmi dengan sesama penting untuk memperlambat proses penurunan kognitif,” ujar Yuda.

Berdasarkan penelitian Enhancing Diagnostic Accuracy of a MCI in the Elderly: Combination of Olfactory Test, Pupillary Response Test, BDNF Plasma Level and APOE Genotype 2014 oleh Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya, terungkap bahwa skor yang rendah pada pemeriksaan saraf penciuman (tetapi tidak disadari) merupakan tanda awal proses penuaan di otak dan menjadi faktor risiko demensia.

 “Artinya gangguan saraf penciuman dapat memprediksi prademensia,” ujar Yuda.

Sekalipun seseorang masih dapat bekerja atau beraktivitas dengan normal, belum tentu dia bebas dari kondisi prademensia. Oleh karenanya, Yuda menganjurkan agar setiap orang sebaiknya sudah melakukan pemeriksaan fungsi otak setidaknya pada usia 40 tahun.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saraf otak Demensia
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top