Energi Positif Tanpa Batas ala Didi 'The Lord of Broken Heart' Kempot

Kepopuleran Didi Kempot menunjukkan bahwa energi positif yang dibawanya bisa menembus batas waktu dan sekat bahasa.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 28 Juli 2019  |  09:40 WIB
Energi Positif Tanpa Batas ala Didi 'The Lord of Broken Heart' Kempot
Penyanyi Didi Prasetyo, yang lebih dikenal sebagai Didi Kempot, bernyanyi menghibur penonton saat peringatan hari lahir (harlah) ke-21 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kantor DPP PKB, Jakarta, Selasa (23/7/2019). Harlah ke-21 PKB tersebut dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara dan petinggi partai. - ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA -- The Lord of Broken Heart.

Tak banyak orang yang bisa menyandang predikat tersebut. Dalamnya sakit hati yang tak terukur membuat julukan "Raja Patah Hati" tak bisa diberi ke sembarang orang.

Banyak penyanyi memiliki lagu-lagu tentang patah hati. Mereka juga memiliki banyak penggemar. Namun, akhirnya hanya ada satu raja.

Alih-alih diberikan ke band atau penyanyi muda, saat ini, predikat "The Lord of Broken Heart" justru mendarat ke pangkuan penyanyi campursari asal Surakarta, Jawa Tengah, Didi Kempot.

Penyematan status ini bukan tanpa alasan. Para Sad Boys dan Sad Girls, sebutan bagi penggemar Didi, memberi gelar tersebut karena mayoritas lagu Didi menceritakan pedihnya patah hati.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin (ketiga kiri) berswafoto dengan Penyanyi Campur Sari Didi Kempot (kiri) dan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri (kedua kiri) saat tampil pada acara Harlah ke-21 PKB di Jakarta, Selasa (23/7/2019)./ANTARA FOTO-Muhammad Adimaja

Tak hanya itu, lagu-lagu karya Didi yang mayoritas bercerita soal pahitnya patah hati juga tak lekang oleh zaman. Terbukti, masih banyak lagu karya sang maestro yang dihafalkan dan dinyanyikan bersama para generasi milenial, meski tembang-tembang itu mungkin keluar saat mereka belum lahir puluhan tahun lalu.

Meski sudah puluhan tahun menjadi penyanyi campursari dan konsisten dengan aliran yang ditekuninya sejak akhir 1980-an itu, nama Didi kembali populer di kalangan muda-mudi Indonesia beberapa bulan terakhir.

Tak ada yang mengira Didi Kempot bisa kembali menjadi pusat perhatian di usianya yang ke-52 tahun. Di tengah banyaknya musisi-musisi baru bermunculan, dia menyelinap merebut hati para penikmat musik dan patah hati di Indonesia.

Popularitas Didi di kalangan muda-mudi ibu kota juga mengagetkan sebab tembang-tembangnya selama ini selalu menggunakan Bahasa Jawa. Tak dinyana, bahasa bukan menjadi penghalang.

Buktinya terlihat saat Didi Kempot tampil di acara peringatan hari lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke-21, Selasa (23/7/2019). Saat itu, ratusan orang datang ke acara yang diadakan di kantor DPP PKB.

Stasiun Solo Balapan dipenuhi pemudik dalam masa mudik Lebaran 2015. Suasana stasiun kereta api ini menginspirasi Didi Kempot dalam membuat lagu "Stasiun Balapan", salah satu lagunya yang paling terkenal./Solopos

Banyak dari mereka datang bukan untuk merayakan hari lahir PKB atau melihat Wakil Presiden Jusuf Kalla--yang hadir dalam acara itu--tapi demi melihat penampilan Didi Kempot. Ratusan Sad Boi dan Sad Girl memadati Jalan Raden Saleh Raya tempat kantor DPP PKB berada.

Bahkan, keberadaan mereka membuat pengguna jalan tak bisa melintasi jalan tersebut hingga Didi Kempot turun panggung sekitar pukul 23.00 WIB. Para penonton kala itu ikut menyanyikan semua lagu yang dibawakan Didi Kempot.

Hal itu mengherankan sebab semua lagu yang dibawakan Sang Raja Patah Hati menggunakan Bahasa Jawa.

“Ini saya seperti lagi manggung di Wonosari, padahal di Jakarta. Kabeh iso nyanyi Boso Jowo [Semua bisa bernyanyi Bahasa Jawa],” kata Didi disambut seruan para penggemarnya.

Energi Positif ala Didi
Menurut Psikolog Sosial Kasandra Putranto, ada penjelasan di balik banyaknya penggemar musik yang bisa menerima lagu-lagu Didi Kempot, saat ini. Dia menyebut salah satu sebabnya yakni adanya energi positif yang dibawa Didi Kempot melalui lagu-lagu miliknya.

Kasandra menilai konten lagu-lagu Didi Kempot berbeda dengan lirik tembang patah hati yang dimiliki musisi lain. Ketika banyak musisi membuat lagu yang lirik-liriknya meratap, Didi Kempot konsisten membahas patah hati dengan caranya sendiri: menggunakan sindiran dan satire.

“[Lagu-lagu Didi Kempot] Mengajak pendengar untuk joget saja daripada sedih. Itu bagus, lagu-lagunya justru diarahkan untuk memberikan semangat,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (26/7).

Presiden Suriname Desi Bouterse (kedua kanan) dan istrinya, Ingrid Waldring, setelah dilantik menjadi presiden untuk kedua kalinya di Paramaribo, Suriname, Rabu (12/8/2015). Didi Kempot sangat terkenal di Suriname dan seringkali disambut langsung oleh para pemimpin negara Amerika Selatan itu ketika berada di sana./Reuters-Ranu Abhelakh

Sindiran dalam lagu Didi Kempot bisa terlihat dari lirik salah satu tembangnya yang paling terkenal, yaitu "Stasiun Balapan". Lagu itu bercerita tentang seseorang yang ditinggal orang tersayang tanpa tahu kapan dia akan kembali.

Janji lungo mung sedelo, jare sewulan ra ono. Pamitmu naliko semono, ning Stasiun Balapan Solo.”

Diartikan dalam Bahasa Indonesia, penggalan lirik "Stasiun Balapan" itu bercerita soal janji seseorang yang tak akan lama pergi meninggalkan kekasihnya. Dia berjanji pergi tak sampai 1 bulan, tapi ternyata tak pernah lagi mengirim kabar ke kekasihnya setelah pergi dari Stasiun Balapan.

Didi, melalui lagu tersebut, berusaha menceritakan kesedihan orang-orang yang harus berpisah dengan kerabat atau kekasihnya di Stasiun Balapan. Dia mendapat ide membuat lagu itu saat masih menjadi pengamen di Kota Solo dan kerap melihat banyak orang berpamitan dengan rasa optimisme akan kembali bertemu dengan kerabat atau kekasih yang meninggalkannya.

“Ada orang berangkat dari Stasiun Balapan, nangis-nangis cium-cium [orang yang akan pergi dengan kereta]. Saat masih ngamen kan saya mikir ‘ah masa bener [mereka bersedih]? Jangan-jangan nanti lupa’,” ujar Didi dalam acara Ngobrol Bareng Musisi yang diadakan penyiar radio dan pembawa acara Gofar Hilman, serta diunggah di akun YouTube pribadinya.

Lagu "Stasiun Balapan" juga turut dinyanyikan di acara hari lahir PKB, salah satu dari setidaknya tujuh lagu yang dibawakan Didi pada saat itu. Secara keseluruhan, musisi yang sangat terkenal di Suriname ini memiliki lebih dari 800 lagu.

Selain membawa energi positif dan sindiran dalam lagu-lagunya, Didi juga dianggap mendapat tempat di hati penggemarnya lantaran selalu menyanyikan lagu berbahasa Jawa. Kasandra menganggap hal itu membuat Didi punya ikatan khusus dengan penggemarnya, terutama mereka yang mengerti dan tertarik mempelajari Bahasa Jawa.

Penyanyi Didi Kempot saat tampil bersama Cony Nurlita di Sentra Niaga Solo baru, Grogol, Sukoharjo, beberapa waktu lalu./Solopos-Sunaryo Haryo Bayu

Tak hanya itu, lagu-lagu Didi yang sederhana dan bercerita tentang masalah cinta dalam kehidupan sehari-hari juga dianggap menjadi sebab dirinya memiliki banyak penggemar.

“Fans itu merasa connect atau nyambung, selain karena nada iramanya mengandung alunan nada tembang Jawa, kontennya pun sederhana,” tuturnya.

Kasandra memandang lagu-lagu patah hati seperti karya Didi Kempot membawa dampak positif bagi orang-orang yang patah hati. Alasannya, lirik lagu Didi Kempot tidak membuat pendengarnya semakin sedih tapi justru bersemangat menghadapi patah hati.

Dia melanjutkan orang yang sedang terpuruk atau buruk kondisi hatinya berbahaya jika mendengar lagu yang membuatnya makin sedih. Oleh karena itu, lagu-lagu seperti karya Didi Kempot bisa menjadi alternatif untuk didengarkan orang yang sakit hati.

“Teks lagu patah hati justru menambah rasa sakit. Positifnya mungkin memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi,” tambah Kasandra.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
musik, fokus

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top