Memetik Laba Dari Berkebun

Kebutuhan manusia akan makanan dan sumber dari petanian membuka peluang bisnis yang berkaitan dengan hal itu sangat menjanjikan. Namun, menciptakan aneka produk pertanian yang berkualitas dan bebas dari bahan kimia adalah pekerjaan rumah besar bagi petani.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 06 September 2019  |  13:45 WIB
Memetik Laba Dari Berkebun
Berkebun bisa kurangi risiko kanker payudara. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA--Kebutuhan manusia akan makanan dan sumber dari petanian membuka peluang bisnis yang  berkaitan dengan hal itu  sangat  menjanjikan. Namun, menciptakan aneka produk pertanian  yang berkualitas dan bebas dari bahan kimia adalah pekerjaan rumah  besar  bagi  petani.

Produk organik identik dengan harga mahal karena hasil bumi itu diklaim bebas dari pestisida dan dikembangkan  melalui  perawatan yang tidak gampang. Di sisi lain, pergeseran pola hidup sehat kalangan masyarakat urban cukup berhasil menempatkan tanaman  organik menjadi primadona dibandingkan dengan makanan cepat saji.

Pembeli produk organik berupa sayur, buah, tanaman bumbu dan lainnya, datang dari kelompok masyarakat kalangan menengah ke atas. Fenomena tersebut membuat pasar produk perkebunan organik makin terbuka dan kompetitif.

Pangsa pasar untuk beragam sayuran dan aneka buah organik ini adalah kalangan pekerja produktif dan kalangan rumah tangga yang ingin memberikan makanan sehat, bergizi, sekaligus bebas pupuk kimia.

Kali ini, Bisnis berkesempatan mewawancarai pemilik usaha Sayur Organik Merbabu (SOM). Tren hidup sehat dan peluang pasar yang luas menjadikan bisnis ini begitu  menggiurkan.

Omzet yang mengalir pun bisa mencapai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah per bulan. Selain menawarkan produk unggulan dari sektor agribisnis, pola pengelolaan tanamannya juga merupakan bagian untuk melestarikan alam dan menjaga kesuburan tanah dengan mengurangi  pupuk kimia.  


SAYUR ORGANIK MERBABU

Pada 2007, Suwadi berusaha memberikan perlakukan organik pada tanaman bersama petani-petani yang ada di sekitar Gunung Merbabu. Tanaman organik yang menjadi favorit adalah tomat, kubis dan wortel.

Penjualan hasil bumi dari Gunung Merbabu dilakukan ke sekitar kota-kota besar, bahkan ke Jabodetabek dari mulut ke mulut dan tetangga ke tetangga. Beruntung, permintaan yang tinggi, semakin menjadi 'gizi' bagi petani untuk semakin bersemangat menanam tanaman organik.

Perjuangan tiga tahun memberikan hasil yang tak disangka, sebab dinas pertanian setempat melirik kegiatan yang dilakukan oleh Suwadi. Tawaran yang diberikan oleh dinas pertanian yakni memberikan bantuan sertifikat dan membantu dalam pemasaran ke supermarket dan ekspor.

Pada 2010, tanaman organik Suwadi memperoleh sertifikat untuk masuk ke pasar modern. Namun, harapan tak sejalan dengan kenyataan. Sebab, sayuran organik yang ditanam harus dijual ke tengkulak dengan harga yang tidak menentu. Rugi tak bisa dihindari.

Melihat kondisi tersebut, Shofyan Adi Cahyono, anak Suwadi tak tinggal diam. Shofyan  yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian (FPB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) UKSW Salatiga, membawa ide tanaman organik dalam program kewirausahaan.

Shofyan menamai programnya dengan Sayur Organik Merbabu (SOM), tepatnya di Dusun Sidomukti, Desa Kopeng, Kecamatan Gentasan, Kabupaten Semarang.

Sebagai anak petani yang mengandalkan beasiswa, Shofyan masih ingin terus kuliah, meskipun ayahnya dalam kondisi rugi. "Pada 2014, saya semester 2 dan kesulitan untuk membayar uang kuliah, karena beasiswa sudah habis. Nah, kebetulan ada program kewirausahaan dan saya ikut program tersebut yang saya namai SOM," ungkapnya kepada Bisnis.

Sistemnya yang dianut adalah pesan antar sayur organik melalui media sosial seperti WA, Line, BBM dan Facebook. Media sosial tersebut pun digunakan untuk promosi. Penggunaan media sosial dilakukan, karena pada 2014 produk-produk sayur organik hanya ada di supermarket.

Sebelum Shofyan berangkat kuliah, maka ia berkeliling Salatiga untuk mengantarkan pesanan kepada teman-temannya, dan konsumen lain. Selama setahun, permintaan yang masuk kepadanya cukup banyak.

Melihat besarnya peluang di bisnis sayura organik, maka Shofyan mengajark anak-anak muda di dusun tersebut untuk menanam sayuran organik, dalam wadah kelompok tani yang diberi nama Tani Citra Muda.

Pemberian nama tersebut, sejalan dengan kondisi anggota-anggotanya yang berusia 19 tahun--38 tahun. Sebanyak 30 orang petani dengan total lahan 10 hektare turut bergabung dalam program dengan hastag #yangmudayangbertani. Dari 10 ha lahan tersebut, Shofyan memiliki 1,5 ha dan sisanya adalah milik anggota kelompok Tani Citra Muda.

Tujuan program ini adalah mengajak anak-anak muda untuk terjun ke dunia pertanian. Tani Citra Muda ini pun telah menanami 40 jenis sayuran. Saat awal, bibit yang ditanam adalah tomat, kubis dan wortel. Namun, generasi muda ini cukup cepat melihat keinginan pasar, sehingga menanam kale, bayam, bit dan tomat cherry.

Selain berbagi ilmu bertani ke anak-anak muda, Shofyan tak lupa memperhatikan ladang ayahnya. Kini ladang Suwadi kembali menghasilkan sayur-sayuran segar bebas pestisida.

Suwadi kini fokus pada bagian menata pola tanam sekaligus Manager Budidaya SOM. Suwadi dan Shofyan juga menjalin kemitraan dengan petani lokal. Merekapun membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) BUMP MITOS Badan Usaha Milik Petani Mitra Tani Organik Sejahtera.

Gapoktan ini memiliki anggota sekitar 400 petani, di sekitar Gunung Merbabu, denga luas lahan sekitar 140 ha. Kolompok didirikan, agar petani lokal mau beralih menjadi petani organik, sehingga bisa menyasar supermarket dan ekspor ke negara lain.

Shofyan menceritakan, bahwa SOM pernah juga mengalami gagal panen karena kondisi alam yang ekstrim. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka ia membangun greenhouse dengan luas 600 meter persegi, menggunakan dana pribadi dan pinjaman perbankan.

Semangat Shofyan mengelola hasil bumi melalui program SOM, telah berhasil membawanya ke jenjang pendidikan Magister Ilmu Pertanian di UKSW.

Kini pangsa pasar SOM tak hanya Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jabodetabek, tetapi telah menjangkau Kalimantan Selatan dan Singapura. Harga produk SOM dijual cukup bervariasi, mulai dari Rp10.000--Rp120.000. Adapun omset yang dikantongi saat ini sekitar Rp150 juta--Rp200 juta.

Shofyan juga mengeluhkan adanya kesulitan dalam memperoleh benih. Sebab, benih-benih di Indonesia masih impor karena masih sulit dikembangkan di Indonesia. Namun SOM telah berhasil mengembangkan selada merah dan tomat cherry, sehingga sudah bisa masuk dalam kategori benih lokal.

Untuk menghasilkan tanaman organik yang berkualitas, maka SOM juga membudidayakan sayuran organik sesuai standar SNI 6729 tahun 2016 tentang sistem pertanian organik, dalam budidaya sayuranya tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia, melainkan menggunakan pupuk dan pestisida organik yang diracik oleh kalangan SOM.

Shofyan juga melakukan kontrol kepada semua anggota dengan membentuk tim ICS (Internal Control System) seperti kualitas kontrol di perusahaan agar kualitas produk tetap terjaga baik.

Strategi yang dilakukan SOM untuk tetap membumi yakni menjaga kualitas produk, mengubah mindset bahwa sayuran organik tak hanya untuk kalangan menengah ke atas. SOM juga menyediakan produk yang terjangkau oleh semua kalangan, memasar produk dengan sistem reseller dan giat mempromosikan via media sosial.




Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perkebunan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top