Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tren Kopi Bergula Tinggi, Bolehkah Remaja Konsumsi Kafein?

Perkembangan bisnis outlet kopi kekinian yang makin marak di pusat perbelanjaan tanah air, ternyata juga disumbang oleh angka konsumsi anak terutama remaja yang besar.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 09 September 2019  |  08:50 WIB
Kopi - Istimewa
Kopi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Perkembangan bisnis outlet kopi kekinian yang makin marak di pusat perbelanjaan tanah air, ternyata juga disumbang oleh angka konsumsi anak terutama remaja yang besar.

Hal ini membuat suatu tanda tanya besar, bolehkah sebenarnya anak mengonsumsi kafein?

Sebuah survei dari National Coffee Association pada tahun 2017 di Amerika Serikat (AS) menyatakan kenaikan angka persentase remaja pada usia 13 hingga 18 tahun sebanyak 37 persen setiap harinya.

Ini 14 persen lebih tinggi dari angka remaja penikmat kopi tahun 2014 dan kemungkinan semakin bertambah pada tahun ini. 

Sebenarnya, kopi memiliki banyak manfaat seperti menurunkan risiko serangan jantung dan beberapa kandungan dalam kopi berguna sebagai antioksidan dan memiliki efek antiinflamasi yang baik bagi tubuh. 

Namun kopi kekinian yang dipasarkan zaman sekarang memiliki kadar gula yang sangat tinggi.

Kuantitas gula yang dibutuhkan remaja pada usia 18 tahun ke bawah hanya 25 gram, sedangkan varian inovasi kopi seperti Double Chocolate Chip Crème Frappuccino memiliki kandungan 52 gram gula, atau Cinnamon Sugar Pumpkin Latte yang mengandung 55 gram gula.

Jika dikonsumsi berulang-ulang kali, hal ini yang menyebabkan angka obesitas dan diabetes semakin tinggi di kalangan remaja. 

Dampak Negatif

Dikutip dari Time, kafein juga memiliki dampak negatif pada remaja. The American Academy of Pediatrics merekomendasikan anak di usia 12 hingga 18 tahun mengonsumsi kurang dari 100 mg kafein per hari. 

Jennifer Temple dari Nutrition and Health Research Laboratory, University at Buffalo juga menyebut kafein yang dikonsumsi remaja akan menggangu jam tidur. 

"Waktu tidur remaja lebih lama dibanding orang dewasa karena mereka butuh bertumbuh dan menampilkan performa akademik. Anak-anak tidak butuh kafein. Tapi apakah itu bahaya? Jika si anak tidak terganggu tidurnya mungkin tidak (bahaya)," ujar Jennifer.

Jadi, apakah orangtua harus melarang anaknya mengonsumsi kopi?

Profesor psikologi dan neurosains dari University of Colarado, Ryan Bachtell mengatakan kuncinya ada pada moderasi.

 Satu cangkir kecil kopi tidak akan berdampak terlalu signifikan pada anak, asal kopi yang diseduh pada pagi hari dan tidak mengandung banyak gula dan kafein. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

diabetes nutrisi kopi kafein
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top