Penulis Novel Rambo Ikut Kritik Film Rambo: Last Blood

David Morrell, penulis novel First Blood yang menjadi inspirasi pembuatan film waralaba Rambo pertama dengan judul yang sama, mengungkapkan kekecewaannya terhadap film terbaru Rambo: Last Blood (2019).
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 22 September 2019  |  12:22 WIB
Penulis Novel Rambo Ikut Kritik Film Rambo: Last Blood
Cuplikan flim Rambo: Last Blood (2019) - Lionsgate

Bisnis.com, JAKARTA – David Morrell, penulis novel First Blood yang menjadi inspirasi pembuatan film waralaba Rambo pertama dengan judul yang sama, mengungkapkan kekecewaannya terhadap film terbaru Rambo: Last Blood (2019).

Film Rambo: Last Blood yang saat ini sedang diputar di banyak bioskop seluruh dunia menempatkan Adrian Grunberg sebagai sutradara dan Sylvester Stallone sebagai pemeran utama, John Rambo.

Berkisah tentang kehidupan Rambo di sebuah desa terpencil bersama keponakan angkatnya, Gabrielle yang damai. Namun, hal tersebut seketika berubah saat Gabrielle diculik oleh pedagang seks meksiko dan menuntut Rambo mengangkat senjatanya kembali untuk menyelamatkan keponakannya itu.

Sayangnya, film ini mendapatkan ulasan yang sangat buruk dari banyak kritikus film. Situs pemeringkat Rotten Tomatoes menunjukkan persentase 30%  dengan skor 4,02/10 untuk film terakhir dari waralaba Rambo tersebut.

Morrell menanggapi kabar itu melalui sebuah postingandi akun Twitter miliknya, yang menyertakan link artikel dengan rangkuman ulasan negatif untuk film anyar Rambo itu.

“Saya seuju dengan ulasan Rambo: Last Blood. Film ini berantakan. Malu karena nama saya dikaitkan dengannya [film tersebut],” tulisnya.

Ulasan yang dimaksud menyoroti sejumlah hal, mulai dari tema, cerita, hingga perangkat film yang digunakan. Beberapa contoh misalnya penggambaran orang Meksiko sebagai penjahat, ketidakberdayaan para korban perempuan, dan kekerasan yang terlalu brutal.

Akan tetapi, salah satu kritik yang paling keras diutarakan para kritikus adalah perbedaan nilai yang disematkan antara film pertamanya dengan film terbaru ini.

Film First Blood (1982) menampilkan pahlawan yang anti-otoriter berdiri menengtang penyalahgunaan kekuasaan oleh divisi penegakan hukum negaranya. Sementara, Rambo: Last Blood dinilai lebih pro-otoriter dengan latihan pencucian otak yang dimaksudkan untuk memicu rasa takut dan kekerasan.

Semua hal tersebut merupakan poin yang bisa diargumentasikan, dan Morrell sangat berhak atas pendapatnya mengenai hal itu. Akan tetapi, bila melihat jauh kebelakang, Last Blood yang merupakan karya David Morrell juga mendapatkan kritik keras pada waktu itu terkait kekerasan dan penggambaran yang menyedihkan para veteran.

Akan jadi hal menarik menantikan apakah film Rambo: Last Blood akan mendapatkan respon yang positif seiring berjalannya waktu. Mau bagaimana pun, film ini berhasil mencatatkan pendapatan US$7,17 juta dalam 1 hari pembukaannya di pasar domestik.

Dengan angka tersebut, Rambo: Last Blood menempati posisi kedua dalam pembukaan film pekan ini. Unggul dari Ad Astra (2019) yang menampilkan Brad Pitt dengan pendapatan US$7,16 juta dan tertinggal dari Downtown Abbey besutan sutradara Michael Engler dengan pendapatan US$13,84 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top