Cara Johnson & Johnson Atasi Epidemi Tuberkulosis

Hingga saat ini, penyakit Tuberkulosis (TB – seringkali disebut dengan TBC) masih menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia. Indonesia sendiri, menduduki peringkat ketiga di dunia dalam jumlah kasus TB. 
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  14:55 WIB
Cara Johnson & Johnson Atasi Epidemi Tuberkulosis
Pengidap tuberkulosis (TB) - tuberkulosis.org

Bisnis.com, JAKARTA -- Hingga saat ini, penyakit Tuberkulosis (TB – seringkali disebut dengan TBC) masih menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia. Indonesia sendiri, menduduki peringkat ketiga di dunia dalam jumlah kasus TB. 

World Health Organization (WHO) Global TB Report 2018 memperkirakan kasus TB di Indonesia sebesar 842.000 kasus, dimana kasus MDR-TB diperkirakan sebanyak 23.000 kasus.
 
Mengakhiri epidemi TB pada tahun 2030 menjadi salah satu target kesehatan baik dari Sustainable Development Goals (SDGs), maupun WHO. 

Devy Yheanne, Country Leader of Communications & Public Affairs, PT Johnson & Johnson Indonesia mengatakan sebagai salah satu perusahaan kesehatan global, Johnson & Johnson menaruh perhatiannya pada masalah kesehatan masyarakat dan khususnya TB/MDR-TB sebagai salah satu fokus utamanya. 

"Untuk mengakhiri epidemi TB pada  2030 kami sadar bahwa sangat dibutuhkan kolaborasi dari berbagai sektor, termasuk pemerintah, swasta, dan NGO. Dan dengan tingginya kasus TB dan MDR-TB di Indonesia, kami semakin sadar bahwa sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mengenai TB dan MDR-TB melalui beberapa inisiatif," ujarnya, Selasa (1/9/2019).
 
MDR-TB merupakan TB yang resisten terhadap minimal 2 (dua) obat anti TB lini pertama, yaitu isoniazid dan Rifampisin atau obat anti TB lini pertama lainnya seperti etambutol, streptomisin, dan pirazinamid. 

Pada umumnya, terjadi akibat pemberian obat yang tidak tepat, ketidakpatuhan pasien TB dalam pengobatan yang dapat memperburuk kondisi pasien tersebut hingga berkembang menjadi MDR, dimana mereka akan membutuhkan pengobatan dengan dosis yang lebih tinggi. Pasien MDR berpotensi menularkan kuman penyakit TB di level MDR.
 
Dewasa ini, di Indonesia masih banyak kelompok masyarakat yang belum memahami mengenai MDR-TB, terutama di berbagai daerah terpencil. 
Selain itu, pada umumnya beberapa pasien menolak untuk melakukan pengobatan karena kurangnya pemahaman akan pengobatan MDR- TB, baik tahapan, periode, maupun efek samping perawatan tersebut. 
Dengan kondisi seperti ini maka masih banyak temuan kasus MDR-TB yang tidak menjalani perawatan.  
 
“Melihat kondisi tersebut, kami sadar bahwa penting untuk memberi pelatihan kepada para peserta dan mempersiapkan mereka untuk menjadi konselor MDR TB di tempat mereka bekerja dan mengajar di provinsinya. Sehingga mereka nantinya diharapkan dapat berkarya dan mendukung upaya pemerintah di tempat mereka berasal dengan membentuk dan mengedukasi konselor-konselor baru mengenai MDR-TB,” terangnya.

PT Johnson & Johnson Indonesia bersama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan National TB Program mengadakan Training of Trainer (ToT) yang dihadiri oleh lebih dari 30 orang konselor yang berasal dari berbagai rumah sakit dari 34 provinsi di Indonesia. 

Adapun tujuan dari ToT ini adalah untuk mengedukasi dan memberikan pemahaman yang mendalam kepada para konselor mengenai pengobatan  Multi-Drug Resistant TB (MDR-TB) dan tantangan sehingga diharapkan dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan kepatuhan pasien MDR-TB dalam pengobatan, sekaligus mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dengan memberikan edukasi kepada para konselor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tuberkulosis

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top