Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bersantap Dalam Gelap, Gugah Kepedulian Terhadap Penglihatan Anak-anak

Acara Dine in the Dark atau makan malam dalam gelap menggugah kepedulian terhadap gangguan penglihatan yang khususnya dialami anak-anak.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  00:03 WIB
Head of External Communication Corporate Affairs Standard Chartered, Lucas Suryanata (kanan) menggunakan kacamata simulasi gangguan penglihatan pada acara Dine in the Dark, di Jakarta, Senin (14/10/2019) malam. - Bisnis/Dionisio Damara
Head of External Communication Corporate Affairs Standard Chartered, Lucas Suryanata (kanan) menggunakan kacamata simulasi gangguan penglihatan pada acara Dine in the Dark, di Jakarta, Senin (14/10/2019) malam. - Bisnis/Dionisio Damara

Bisnis.com, JAKARTA - Acara Dine in the Dark atau makan malam dalam gelap menggugah kepedulian terhadap gangguan penglihatan yang khususnya dialami anak-anak.

Gerakan kepedulian bertajuk EyeStandByU yang didukung oleh Komite Mata Nasional, Standard Chartered melalui program Seeing is Believing, CBM, dan Yayasan Pelayanan Anak dan Keluarga (Layak) ini diselenggarakan di Kilo Kitchen, Jakarta Selatan, Senin (14/10/2019) malam.

Head of External Communication Corporate Affairs Standard Chartered, Lucas Suryanata, mengatakan bahwa EyeStandByU ingin menarik perhatian masyarakat Indonesia melalui aktivitas dan komunikasi bermakna yang akan berlangsung hingga Desember 2019, salah satunya lewat Dine in the Dark.

"Dine in the Dark merupakan acara untuk meluncurkan EyeStandByU. Acara makan malam ini memberikan kesempatan kepada para tamu untuk mencoba kacamata simulasi gangguan penglihatan," ujarnya.

Kacamata simulasi tersebut, tambah Surya, memberikan contoh kondisi mata yang mengalami gangguan. Gangguan itu antara lain Partially Blind, Blurred Vision, Multiple Black Spot Vision, Tunnel Vision, dan Peripheral Vision.

Menurut Surya, konsep ini bertujuan membangun empati dari para peserta untuk merasakan apa yang dialami oleh anak-anak dengan gangguan penglihatan.

"Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 285 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan. Mirisnya, 90 persen dari mereka hidup di negara berpendapatan rendah," kata Surya.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Layak Evie Tarigan menjelaskan bahwa gangguan penglihatan, khususnya pada anak-anak seringkali tidak terdeteksi karena kurangnya kesadaran serta lambatnya respons orang terdekat terhadap kondisi penglihatan anak.

"Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi juga dapat menghambat anak-anak Indonesia untuk mencapai potensi penuh mereka, baik dalam pendidikan maupun pekerjaannya kelak," tute Evie.

Oleh karena itu, Yayasan Layak mengimbau kepada para orangtua atau guru di sekolah, untuk lebih peka terhadap gangguan pengelihatan dari anak-anak. Hal ini bertujuan agar gangguan penglihatan dapat terdeteksi dan segera mendapatkan pengobatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

aksi sosial
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top