Menumbuhkan Kecintaan Sains pada Anak Lewat Film

Science Film Festival merupakan perayaan komunikasi sains di berbagai negara di wilayah Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, dan Timur Tengah yang telah berlangsung sejak 2005.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 26 Oktober 2019  |  13:57 WIB
Menumbuhkan Kecintaan Sains pada Anak Lewat Film
Pembukaan Science Film Festival Indonesia 2019 - Goethe Institut Indonesien

Bisnis.com, JAKARTA - Alexander van Humboldt, seorang ilmuwan terkemuka asal Jerman yang lahir pada 1769 silam telah memberikan kontribusi yang sangat besar melalui berbagai penelitian dan penelaahan ilmiahnya tentang alam dan lingkungan.

Humboldt melakukan penjelajahan ke berbagai penjuru dunia dan memetakan banyak wilayah. Dia juga merupakan pelopor penetapan zona vegetasi dan mengembangkan sistem isothermal, kategori zona di dunia berdasarkan suhu udara yang sama.

Belum lagi kontribusinya dalam membuat diagram cuaca yang memungkinkan banyak ilmuwan setelahnya memahami fenomena cuaca dengan lebih baik lagi. Akan tetapi, satu hal yang merupakan kontribusinya dalam konteks revelansi dengan keadaan masa kini, adalah konsep ilmiah Humboldt tentang ekosistem dan hubungan antara lingkungan dengan mahluk di sekitarnya.

Humboldt merupakan ilmuwan yang pertama kali menjelaskan secara akademis hubungan dan saling ketergantungnan sistem ekologi di seluruh dunia, termasuk perubahan iklim yang saat ini menjadi perbicangan di tataran publik global.

Dia menjadi orang yang punya pemikiran paling cemerlang pada zamannya tentang alam dan telah diakui oleh komunitas peneliti dan ilmuwan. Humboldt telah mengingatkan manusia untuk menjaga keseimbangan ekologi sejak berabad-abad lalu. Tentang hubungan alam, lingkungan, dan manusia.

Atas seluruh kontribusi dan jasa-asanya dan dalam rangka memperingati tepat 250 tahun kelahirannya, Goethe Institut menjadikan Humboldt sebagai tema utama dalam gelaran internasional bertajuk Science Film Festival (SFF) 2019 yang mengangkat tema Humboldt and the Web of Life (Humboldt dan Jaring Kehidupan).

Science Film Festival merupakan perayaan komunikasi sains di berbagai negara di wilayah Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, dan Timur Tengah yang telah berlangsung sejak 2005. Kegiatan ini telah menjadi festival yang memutar  film-film bertemakan sains terbesar di dunia.

Di Indonesia sendiri, SFF telah berlangsung sejak 2009 lalu dan kini telah memasuki tahun penyelenggaraan yang ke-10.

Director of Goethe Institut Regional Southeast Asia, Australia, and New Zealnad Stefan Dreyer mengatakan bahwa SSF diadakan untuk meningkatkan kesadaran, minat, dan kecintaan masyarakat, khususnya para murid sekolah terhadap sains.

“Dengan menayangkan film-film bertopik sains, kami berharap bisa menumbuhkan minat banyak orang untuk bereksplorasi dan terlibat lebih jauh dengan sains,” katanya.

Lebih jauh, Head of Culture and Information Embassy of the Federal Republic of Germany in Jakarta Mathias Muller menyatakan kegiatan ini menjadi langkah awal yang sangat penting dan signifikan terhadap isu lingkungan berkelanjutan yang dialami saat ini.

Menurutnya, kesadaran dan kecintaan terhadap sains perlu dipupuk kepada generasi muda sedari awal, dengan harapan besar nantinya mereka yang akan menemukan ide-ide inovatif dan solutif terhadap permasalahan yang timbul.

“Memang masih perlu melalui tahapan panjang untuk bisa menyelesaikan sebuah permasalahan lingkungan, tetapi ini merupakan langkah awal yang sangat perlu untuk dilakukan. Isu lingkungan telah menjadi perhatian di seluruh dunia yang perlu ditanggapi dengan serius,” ujarnya.

13 Judul di 51 Kota

Di tingkat global, SFF akan menghadirkan 83 film dari 21 negara yang telah melewati tahapan seleksi ketat tentang isu-isu sains terkini.

Dari jumlah tersebut, Indonesia pada tahun ini bakal menyuguhkan 13 judul film yang telah diseleksi dalam lingkup lokal. Film-film itu berasal dari berbagai negara seperti Jerman, Jepang, Swiss, Inggris, Kanada, Thailand, New Zealand, dan Chili.

Topik yang dibahas pun beragam mulai dari cara bertanam, bahaya plastik pada makanan, anatomi, dinosaurus, hingga luar angkasa. Keseluruhan film juga telah dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami.

Sebanyak 13 film tersebut akan diputar di titik-titik tertentu di 51 kota yang tersebar di berbagai penjuru Tanah Air mulai 22 Oktober hingga 24 November 2019.

Dreyer mengatakan bahwa target utama gelaran ini adalah anak-anak sekolah dan mahasiswa. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bagi para orang tua untuk ikut menyaksikan film-film sains yang telah disiapkan.

Dia berharap akan semakin banyak orang yang tertarik dengan sains melalui penyelenggaraan festival ini, “SFF sebelumnya [2018] jumlah pengunjungnya mencapai 80.000 orang, tahun ini kami berharap bisa lebih dari 100.000 orang yang menikmati acara ini,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film, ilmuwan muda

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top