Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ketidakpatuhan Minum Obat Jadi Masalah bagi ODHA

Salah satu masalah bagi penderita AIDS/HIV atau ODHA di Indonesia adalah ketidakpatuhan dalam minum obat.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 21 November 2019  |  15:20 WIB
Obat HIV/AIDS - Istimewa
Obat HIV/AIDS - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pengurus Forum LSM Peduli AIDS sekaligus juga Lembaga kesehatan Yayasan Kusuma Buwana, Siti Hadiyati membenarkan salah satu masalah bagi penderita AIDS/HIV atau ODHA di Indonesia adalah ketidakpatuhan dalam minum obat.

Sebelumnya diketahui dari pemberitaan sebelumnya, BPK (Badan Pengawas Keuangan) menemukan anggaran sebesar Rp2,8 miliar yang sia-sia akibat obat ARV (anti retroviral) untuk penderita HIV yang kedaluwarsa.

Setelah dikonfirmasi kepada pihak Kemenkes, alasan obat tersebut akhirnya kedaluwarsa adalah penderitanya yang tidak patuh mengonsumsi obat.

“Memang yang menjadi PR adalah ketika minum obat ARV, ada beberapa teman-teman yang punya efek samping sehingga sering tidak meneruskan obatnya. Kemudian beberapa minggu kemudian, dia merasa nggak enak (badan), dia ke dokter, itu yang kita kategorikan menjadi loss to follow up (ketidakpatuhan minum obat),” ujarnya ketika ditemui di The Energy Building, SCBD, Jakarta Selatan pada Kamis (21/11/2019).

“Jadi kalau di Kemenkes (Kemenkes), ketika tiga bulan dari ambil obat terakhir itu dia tidak melakukan pengobatan itu disebut loss to follow up. Memang PR-nya bagi kita, masih banyak orang yang begitu,” sambungnya.

Siti mencontohkan hal ini pernah terjadi di dalam komunitas ODHA dengan penderita yang memiliki profesi sebagai pekerja seks. Beberapa dari mereka umumnya memutuskan untuk pulang kampung ketika mendapati dirinya mengidap penyakit seksual menular tersebut.

“Kalau di Jakarta, ditelponin sama dokternya atau sama teman-teman yang sebagai pendamping. Selama di kampung, kita tidak tahu siapa yang mengontrol itu. Teman-teman yang berpindah-pindah juga, tidak tahu akses obatnya gimana,” katanya.

“Nah, itu yang bisa menjadi alasan salah satu mengapa dia loss to follow up, sehingga obat-obat (ARV) yang ada di Puskesmas menjadi tidak terambil, sayang banget,” sambungnya.

Lebih lanjut, Siti menerangkan saat ini obat ARV sangat mudah diakses dan berlaku gratis di berbagai puskesmas, terutama di kawasan Jakarta. Sehingga tidak ada alasan bagi pengidap HIV untuk berhenti mengonsumsi obat yang mencegah perkembangan virus HIV tersebut.

“Mudah (aksesnya), karena saat ini pemerintah untuk prang-orang yang positif HIV positif sudah langsung melakukan pengobatan karena memang sudah disediakan. Di Jakarta, sudah disiapkan (obat ARV) di seluruh puskesmas kecamatan. Kalau di provinsi lain mungkin baru di beberapa kota besar,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obat hiv/aids
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top