Seni Budaya Suku Kamoro dan Upaya Pelestarian Budaya Lokal

Guna melestarikan budaya lokal, Yayasan Lontar bekerja sama dengan Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe dan PT Freeport Indonesia menggelar Pameran dan Lelang Seni Ukir dan Anyaman suku Kamoro.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 06 Desember 2019  |  14:59 WIB
Seni Budaya Suku Kamoro dan Upaya Pelestarian Budaya Lokal
Seni ukir budaya Suku Kamoro dipamerkan di Dharmawangsa Residences, Jakarta, pada 5 hingga 7 Desember 2019. JIBI-Bisnis - Dionisio Damara

Bisnis.com, JAKARTA - Guna melestarikan budaya lokal, Yayasan Lontar bekerja sama dengan Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe dan PT Freeport Indonesia menggelar Pameran dan Lelang Seni Ukir dan Anyaman suku Kamoro. 

Pameran yang berlangsung pada 5 hingga 7 Desember 2019 di Darmawangsa Residences, Jakarta, ini menampilkan seni dan budaya Suku Kamoro.

Suku yang tinggal di wilayah pesisir Selatan Papua di Kabupaten Mimika. 

Yuli Ismartono, Direktur Eksekutif Yayasa Lontar, mengatakan bahwa karya seni ukir dan anyam merupakan bentuk penuturan yang dilakukan Suku Kamoro dalam mewariskan budaya dan kearifan lokal ke generasi berikutnya. 

"Karena itu, kami berupaya melestarikan seni ukir dan anyam ini sebagai akar tradisi Suku Kamoro agar pengetahuannya tidak lenyap begitu saja tanpa bekas," ujar Yuli. 

Dia pun meyakini bahwa kearifan lokal tersebut dapat berkontribusi besar kepada kekayaan pengetahuan secara global. 

Sementara itu, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas mengatakan bahwa PTFI berkomitmen memberdayakan masyarakat Papua, khususnya Suku Kamoro yang keberadaannya bertetangga dengan wilayah kerja  PTFI.  

"Besar harapan kami, melalui upaya promosi dan pelestarian seni dan budaya lokal ini dapat memotivasi para pengukir untuk dapat terus berkarya dan menghasilkan karya seni berkualitas tinggi secara berkelanjutan," tutur Wenas. 

Dalam pergelaran tersebut, terdapat dua barang yang dilelang, yakni Eme dan Yamate Uwou. Eme yang merupakan sejenis kendang khas Suku Kamoro terjual Rp3,6 juta. Adapun, Yamate Uwou, yang berarti ukiran naga, terjual Rp1,5 juta.

Founder Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Luluk Intarti, mengatakan bahwa hasil lelang yang terkumpul akan dikembalikan kepada pengukirnya dan sebagian lainnya digunakan untuk program pengembangan dan pelestarian seni budaya Suku Kamoro.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
budaya, papua

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top