Gangguan Alexithymia, Buat Seseorang Sulit Kenali Emosi

Sebagai manusia mengungkapkan emosi merupakan bagian dari penyaluran energi untuk sarana ekspresi dan ketenangan diri setelah  telah melepaskan beban yang selama ini dirasakan menghimpit hati. Namun, bagi orang yang mengalami alexithymia, hal ini merupakan suatu hal yang sulit.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 18 Januari 2020  |  08:45 WIB
Gangguan Alexithymia, Buat Seseorang Sulit Kenali Emosi
Ilustrasi - ifranchise

Bisnis.com, JAKARTA – Sebagai manusia mengungkapkan emosi merupakan bagian dari penyaluran energi untuk sarana ekspresi dan ketenangan diri setelah  telah melepaskan beban yang selama ini dirasakan menghimpit hati. Namun, bagi orang yang mengalami alexithymia, hal ini merupakan suatu hal yang sulit.

Dilansir dari psychologytoday, Alexithymia adalah ketidakmampuan untuk mengenali dan menyampaikan emosi. Sering dikaitkan dengan gangguan antisosial, kondisi ini sebenarnya memiliki karakteristik yang berbeda dan secara harfiah diterjemahkan dari bahasa Yunani yang berarti ‘tidak ada kata untuk emosi.’

Alexithymia diklasifikasikan dan terbatas pada psikosomatik gangguan dengan melibatkan gejala fisik dari tubuh seseorang, yang juga bisa memperburuk kondisinya fisiknya. Mereka sulit mengekspresikan emosi dan membagikan pengalamannya.

Adapun ciri kepribadian alexithymia dapat teridentifikasi lebih dari empat dekade yang lalu oleh psikoanalis Boston John Nemiah dan rekannya (1976). Dalam penelitiannya mereka mengatakan bahwa ukuran alexithymia yaitu kesulitan mengidentifikasi perasaan dalam diri (DIF), kesulitan menggambarkan perasaan (DDF), dan gaya berpikir berorientasi eksternal (EOT) di mana orang tidak memperhatikan emosi atau kondisi batin mereka sendiri.

Beberapa penelitian menunjukkan, alexythymia lebih dominan pada pria dibandingkan wanita. Gangguan ini terjadi saat seseorang pernah mengalami kecelakaan. Penderitanya akan merasakan banyak efek, termasuk sering stres, suka marah-marah, hidupnya terasa seperti membingungkan, tidak nyaman, dan beberapa gejala lainnya. Hidupnya merasa terpuruk, padahal sebelumnya tampak normal-normal saja.

Sementara itu, seperti yang dinyatakan oleh David Preece dan rekan-rekan Edith Cowan University (Australia) (2018), orang-orang dengan alexithymia jarang memperhatikan keadaan emosi mereka (EOT), dan mengalami kesulitan menilai apa status mereka (DIF, DDF).

Penderita alexithymia juga dipicu karena pasca traumatik yang pernah dialaminya. Fungsi kognitifnya dapat terganggu dan selalu merasa aneh dalam merasakan pengalaman yang hampir sama.

Regulasi emosional mereka terganggu karena mereka cenderung menghindari pengalaman, tetapi mereka juga mengalami kesulitan, karena mereka tidak memiliki sistem pelacakan internal yang baik untuk mengidentifikasi keadaan emosi.

Penelitian yang dilakukan karena konseptualisasi asli dari sifat ini menegaskan bahwa orang yang tinggi alexithymia adalah kandidat yang buruk untuk psikoterapi, sementara pada saat yang sama memiliki risiko lebih tinggi untuk berbagai gangguan psikologis.

Menangani Alexithymia

Pada dasarnya alexithymia bukanlah penyakit ataupun gangguan mental melainkan hal tersebut merupakan fenomena psikologis yang tetap diakui keberadaannya. Kondisi ini sering dikaitkan, bahkan muncul bersamaan dengan gangguan mental seperti depresi, Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), autisme, hingga skizofrenia.

Adapun dalam penanganan gangguan ini dapat diterapi dengan cara konsultasi untuk mengembalikan rasa percaya dirinya saat bersosialisasi dengan orang lain. Pasien akan bertemu dengan dokter atau psikolog untuk melakukan terapi itu dengan rutin.

Psikolog dapat membantu penderita untuk belajar mengenali emosi. Kemudian, jenis terapi yang dapat dilakukan antara lain terapi kelompok, skill-based therapy, terapi kognitif dan perilaku, dan lain sebagainya.Perlahan-lahan pasien diajak berkomunikasi dan menjalani sejumlah terapi lainnya yang aman.

Singkatnya, menyadari keadaan emosional dan mampu mengungkapkan perasaan itu dengan kata-kata dapat menjadi kontributor penting untuk masalah fisik dan psikologis dengan cara yang mungkin tidak sadari yang secara khusus bertujuan membantu orang-orang ini mendapatkan pemenuhan melalui kesadaran yang lebih sehat akan emosi mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pengelolaan emosi

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top