Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Apakah Makan Mecin Bikin Bodoh?

Terlalu banyak mecin bisa membuat orang jadi bodoh, apakah hal tersebut benar?
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 05 Februari 2020  |  16:31 WIB
Warga memilih makanan untuk berbuka puasa di Pasar Takjil Benhil, Jakarta, Sabtu (27/5). - Antara/Wahyu Putro A
Warga memilih makanan untuk berbuka puasa di Pasar Takjil Benhil, Jakarta, Sabtu (27/5). - Antara/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA -- Generasi mecin, isilah ini kerap dikonotasikan negatif. Seolah-olah mecin atau MSG menjadi penggambaran perilaku generasi muda ketika melakukan tindakan tanpa berpikir.

Bahkan lebih ekstrem lagi, istilah ini dipakai untuk penyebutan orang yang bodoh. Namun apakah benar monosodium glutamate (MSG) atau penyedap rasa membuat orang jadi bodoh?

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) dr. Nurpudji A. Taslim membantahnya. Menurut dia, anak yang bodoh lebih dipengaruhi pada kondisi ketika dia lahir dan dalam masa pertumbuhan.

Anak-anak yang lahir dengan berat badan kurang serta kekurangan gizi, pertumbuhan otaknya akan terganggu. Oleh karena itu ketika bayi baru lahir dengan kondisi sehat, maka sang ibu harus mencukupi gizi dan menaikkan berat badannya.

"[Kebodohan] Bukan dari MSG. Ini yang harus diluruskan. Jadi ibu rumah harus memberikan makanan dengan benar, makanan sehat, perbaiki anak lahir dengan berat badan yang cukup," ujarnya saat ditemui dalam Konferensi Pers Penggunaan Bumbu Penyedap Rasa Tidak Membahayakan di bilangan Gunawarman, Jakarta, Rabu (5/1/2020).

Dokter dan Ahli Nutrisi, Maya Surjadjaja menambahkan MSG sesuai namanya, terdiri dari glutamat yang fungsinya sebagai penghubung otak ke seluruh jaringan syaraf dan pengendali fungsi tubuh.

"Glutamat ada di alam. Glutamat ada di air susu ibu. Glutamat asam amino, anak-anaknya protein," sebutnya.

Oleh karena itu, anak yang dalam pertumbuhannya menjadi bodoh bukan karena MSG. Bisa saja kebodohan itu dipengaruhi oleh faktor lain.

"MSG tidak berbahaya. Namun mesti cek anak jajan apa, bukan hanya MSG saja. Jajanan lain kandungannya dilihat. Selama ini MSG sudah jadi kambing hitam," tukasnya.

Pada 1995, Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) dalam laporannya kepada Food and Drug Administration (FDA) telah menginformasikan bahwa tidak ditemukan perbedaan antara zat glutamat yang terkandung dalam jamur, keju dan tomat dengan zat glutamat yang ditemukan dalam produk-produk olahan seperti dalam MSG, hydrolzed proteins dan saos kedelai.

Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa MSG aman untuk dikonsumsi. Dengan demikian, MSG dinyatakan sebagai bagian dari bahan makanan biasa seperti halnya garam, baking powder dan lada sejak tahun 1995.

Di Indonesia sendiri, pengaturan penggunaan MSG dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia yang diatur dalam peraturan Kepala BPOM RI NO. 23/2013.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri penyedap rasa
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top