Kualitas Udara Buruk Tingkatkan Risiko Terkena Penyakit

Menghirup udara kotor dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, gangguan pencernaan, dan penyakit kronis lainnya.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 15 Maret 2020  |  03:25 WIB
Kualitas Udara Buruk Tingkatkan Risiko Terkena Penyakit
Ilustrasi kendaraan bermotor salah satu sumber polusi.

Bisnis.com, JAKARTA – Penelitian terbaru yang dilakukan University of Colorado Boulder menyatakan bahwa menghirup udara kotor dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, gangguan pencernaan, dan penyakit kronis lainnya.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Envronment International tersebut merupakan studi pertama yang menghubungkan antara polusi udara dengan perubahan struktur dan fungsi microbiome (kumpulan mikoorganisme yang sebagian besarnya bakteri) dalam usus manusia.

Para peneliti menemukan bahwa ozon polutan gas yang ada pada udara kotor sangat berbahaya. Orang dewasa muda yang terpapar ozon tingkat tinggi menunjukkan keragaman mikroba yang lebih sedikit dan meningkatkan spesies tertentu yang terkait dengan obesitas.

Tanya Alderete, asisten profesor fisiologi di University of Colorado Boulder mengatakan bahwa dia dan tim telah memahami bahwa sejumlah penelitian yang menyebut polusi udara memiliki dampak buruk kesehatan.

Akan tetapi, apa yang dilakukan Alderete bersama tim menunjukkan isu yang lebih spesifik. Mereka menemukan bahwa asap berkorelasi positif dengan risiko diabetes tipe 2, kenaikan berat badan, dan penyakit radang usus. 

“Apa yang bisa diambil dari makalah ini adalah bahwa beberapa efek kesehatan [terkait polusi udara] itu kemungkinan disebabkan oleh perubahan mikroba dalam usus,” katanya seperti dikutip Science Daily, Sabtu (14/3/2020).

Studi dan penelitian ini dilakukan pada kualitas udara di banyak kota di Amerika Serikat yang memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Pada Desember tahun lalu, Environmental Protection Agency menurunkan status udara “tidak tercapai” karena gagal memenuhi standar ozon nasional.

Tim peneliti melihat data dari stasiun pemantauan udara untuk menghitung paparan ozon tahun sebelumnya (yang terbentuk ketika emisi dari kendaraan terpapar sinar matahari), partikel (partikel berbahaya tersuspensi di udara), dan nitrat oksida (produk sampingan beracun dari pembakaran bahan bakar fosil).

Dari semua polutan yang diukur, ozon memiliki dampak terbesar pada usus manusia terhitung sekitar 11 persen dari variasi yang terlihat di antara subyek penelitian. Orang-orang yang memiliki paparan ozon lebih tinggi juga memiliki lebih sedikit variasi bakteri yang hidup di usus mereka.

“Keanekaragaman [bakteri atau mikroba] ini penting dalam kesehatan. Jumlah [bakteri] yang lebih rendah telah dikaitkan sebelumnya dengan obesitas dan obesitas tipe 2,” kata Alderete.

Secara keseluruhan, para peneliti mengidentifikasi 128 spesies bakteri yang dipengaruhi oleh peningkatan paparan ozon. Dengan demikian, tim menyimpulkan bahwa ozon kemungkinan besar telah merubah ekosistem usus seseorang yang memiliki konsekuensi terhadap kesehatan dan penyakit.

Selain studi terbarunya itu, Alderete juga telah melakukan penelitian sebelumnya yang menunjukkan polusi dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk mengatur gula darah dan meningkatkan risiko obesitas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, polusi udara

Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top