Ini 5 Hal yang Bisa Anda Lakukan Jika Teman Menolak Social Distancing

Tak semua orang mau melakukan social distancing. Namun, karena di saat ini langkah tersebut sangat penting, maka langkah ini bisa Anda terapkan kepada yang menolak.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  01:44 WIB
Ini 5 Hal yang Bisa Anda Lakukan Jika Teman Menolak Social Distancing
Implementasi social distancing bagi calon penumpang di Stasiun Pasar Senen. - Dok. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Terlepas dari kenyataan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi), Pemerintah Provinsi dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendesak orang untuk tinggal di rumah, Anda mungkin mengetahui ada seseorang yang menolak berlatih social distancing selama pandemi virus Corona (Covid-19).

Melansir laman Bustle Senin (23/3/2020), Psikoterapis Jeffrey Rubin menyarankan untuk mencari tahu apa yang penting bagi orang yang Anda ajak bicara, dan memberi argumen Anda untuk kepentingan mereka.  

"Dengar dan cari apa yang dihargai orang itu dan kemudian bantu mereka melihat bagaimana coronavirus bisa membahayakan. Lakukan secara personal buka melalui perang media sosial," kata Rubin.

Berikut cara berargumen dengan teman Anda yang tidak menganggap serius desakan kerja di rumah dan social distancing

1. Virus corona tidak membuat orang yang lebih muda sakit

Kenyataannya adalah bahwa kita semua berisiko tertular dan atau menyebarkan corona. Meskipun orang yang berusia di atas 60 tahun atau memiliki masalah kesehatan yang mendasarinya paling terpengaruh oleh virus, orang-orang yang masih muda juga dapat terpengaruh dan menularkan penyakit ini kepada orang lain tanpa menyadarinya.

Direktur jenderal kesehatan Prancis, Jerome Salomon, mengatakan kepada CNN pada 15 Maret bahwa dari 300 kasus serius dalam perawatan intensif di Prancis, lebih dari 50 persen orang berusia di bawah 60 tahun. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh JAMA, seperempat dari kasus corona paling serius di Italia juga terjadi pada orang dewasa di bawah 50 tahun. Di California, ada lebih dari 180 kasus yang terdeteksi pada pasien berusia di atas 64 tahun, dibandingkan lebih dari 390 kasus untuk pasien di bawah usia 64 tahun.

Menurut Dewan Penasihat Medis Nutrisi Persona Lou Malinow mudah untuk melihat seseorang dan mengetahui apakah mereka tertuular, maka akan mudah untuk menghindari kontak langsung. "Sebagian besar dari mereka yang menularkan virus ke orang lain tidak memiliki gejala atau hanya gejala yang sangat kecil," ucapnya.

Profesor di Sekolah Kedokteran Vanderbilt University dan penasihat CDC William Schaffner mengatakan bahwa orang yang terinfeksi tanpa gejala sebenarnya adalah salah satu kontributor terbesar untuk jangkauan wabah corona.

Sebuah studi baru dari University of Massachusetts Amherst, menghitung bahwa masa inkubasi rata-rata untuk COVID-19 hanya lebih dari lima hari dan bahwa 97,5% orang yang mengembangkan gejala akan melakukannya dalam 11,5 hari infeksi.

Ahli penyakit dalam dan ahli pencernaan yang berbasis di New York, Niket Sonpal mengatakan kepada Bustle bahwa semakin cepat kita menjauhkan diri kita selama beberapa minggu ke depan, semakin cepat kurva curam dari kasus baru turun mendatar.

3. Membatalkan liburan karena virus corona

Menurut Pusat Studi Neuroekonomi Paul J. Zak mengatakan secara biologis pembawa virus corona yang tidak menunjukkan gejala dapat menginfeksi orang lain, tanpa disadari. "Selama perjalanan, orang-orang berkumpul di restoran, pantai, dan kolam renang, yang semuanya mempercepat efek ini," kata Dr. Zak kepada Bustle. 

Menolak untuk membatalkan liburan itu karena Anda "berusaha membantu perekonomian" bukanlah alasan. "Ekonomi tumbuh dan sedikit orang yang berlibur tidak akan berpengaruh pada ekonomi secara keseluruhan," kata Dr. Zak. Jika Anda menjaga kesehatan Anda sekarang, Anda akan memiliki banyak peluang untuk melihat dunia ketika kita pulih dari pandemi ini.

4. Tidak menyerah pada ketakutan

Sebenarnya, dalam hal ini Anda harus menyerah pada ketakutan rasional. Menurut Dr Rubin, Anda harus memiliki perspektif dan menemukan garis antara kehati-hatian dan kepanikan yang tidak rasional. 

Banyak tenaga medis dan dokter di rumah sakit telah meminta orang untuk tinggal di rumah karena mereka sudah bekerja berjam-jam dan mempertaruhkan kesehatan mereka sendiri untuk merawat orang lain.

Dr. Sonpal menekankan bahwa ada peningkatan kasus orang yang lebih muda dan sangat bugar telah terinfeksi covid-19. Salah satu alasannya adalah kaum muda menggunakan vape atau E-rokok, yang dapat meningkatkan risiko infeksi corons yang parah.

5. Anda akan tinggal di rumah ketika situasi semakin buruk

Jika Anda mengabaikan peringatan dan rekomendasi, Anda bisa berisiko terpapar virus corona dan menularkan kepada orang lain. Menurut Dr. Rubin, mentalitas semacam itu sebenarnya merupakan tanda ketakutan dan penyangkalan, meskipun itu hanya terlihat seperti kecerobohan.

"Daripada merasa takut, beberapa orang ingin meminimalkan ancaman," Dr Rubin menjelaskan, menunjukkan bahwa jika lebih sulit untuk menangani perasaan Anda, Anda mungkin mencoba untuk mengatasinya," kata Rubin.

Jika Anda masih muda dan berisiko minim, tinggal di rumah dan berlatih menjaga jarak sosial adalah cara terbaik untuk masa depan yang melibatkan perjalanan dan kesenangan lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Virus Corona

Sumber : Tempo

Editor : Andya Dhyaksa
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top