Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengapa Virus Corona Bisa Sangat Merusak Paru-paru?

Virus corona (Covid-19) menciptakan kombinasi atas infeksi dan inflamasi yang menyebabkan kesulitan pasien dalam bernafas.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 31 Maret 2020  |  15:50 WIB
Zhang Changchun menunjukkan gambar CT scan paru-paru ibunya, pasien yang berusia 53 tahun, Yang Zhongyi, yang merupakan kasus yang sangat dicurigai sebagai virus corona baru, tetapi belum bisa mendapatkan tes untuk mengonfirmasi karena kurangnya peralatan pengujian atau kurangnya pengujian di rumah sakit setempat di Wuhan, Provinsi Hubei, China 25 Januari 2020. - Reuters
Zhang Changchun menunjukkan gambar CT scan paru-paru ibunya, pasien yang berusia 53 tahun, Yang Zhongyi, yang merupakan kasus yang sangat dicurigai sebagai virus corona baru, tetapi belum bisa mendapatkan tes untuk mengonfirmasi karena kurangnya peralatan pengujian atau kurangnya pengujian di rumah sakit setempat di Wuhan, Provinsi Hubei, China 25 Januari 2020. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pekan lalu, George Washington Hospital menunjukkan video dari pasien Covid-19 berusia 59 tahun dengan kerusakan yang signifikan pada organ paru-parunya.

Dr. Keith Mortman, Kepala Bedah rumah sakit tersebut menjelaskan gejala umum Covid-19 memang sangat umum dan sulit diterka. Alhasil ada beberapa orang yang sudah mengalami gangguan pada paru-paru lalu terkena Covid-19 akhirnya menambah kerusakan paru-paru mereka dalam jangka panjang.

Untuk memahami cara kerja Covid-19 merusak paru-paru, Dr. Osita Onugha, Ahli Bedah Paru di John Wayne Cancer Institute, Providence Saint John’s Health Center di Santa Monica, California mengatakan virus ini memang secara spesifik lebih mudah masuk ke dan menginfeksi paru-paru yaitu ACE2 Reseptor.

“ACE2 Reseptor ini lalu terkunci dengan SARS-CoV-2 yang masuk ke dalam jaringan paru-paru,” ujar Osita dikutip dari Business Insider, Selasa (31/3/2020).

Virus Covid-19 pun bertahan dalam paru-paru sementara tubuh melalui sistem imun mencoba melakukan perlawanan. Jika tidak cukup kuat, tubuh akhirnya mencoba beradaptasi dengan virus tersebut. Alhasil terbangunnya sistem inflamasi terhadap virus yang mana akan memenuhi paru-paru dengan sel inflamasi.

Dr. Keith Mortman melanjutnya, kombinasi atas infeksi dan inflamasi ini menyebabkan kesulitan pasien dalam bernafas. “Menurunnya kemampuan bernafas dapat menyebabkan level oksigen dalam tubuh menurun, yang akhirnya membuat pasien membutuhkan alat bantu pernafasan,” jelas Mortman.

Kondisi berikutnya adalah fase dimana sitokin dalam aliran darah akan memperparah kerusakan organ vital. Mayoritas pasien yang mengalami kondisi ini merasakan kesakitan akibat kegagalan kerja sistem organ mereka.

“Efek pertama yang ditimbulkan bisa melalui jantung, lalu ginjal mulai gagal bekerja, lalu gagal kerja liver,” sambung Mortman.

Oleh sebab itu, alasan alat bantu pernafasan sangat penting dalam pengobatan dan pemulihan Covid-19 adalah karena alat ini membantu mengembalikan fungsi paru-paru, mencegah penurunan kadar oksigen yang akan merusak organ vital tubuh. Meski demikian, Anda juga perlu berhati-hati karena alat bantu pernafasan tidak baik jika digunakan dalam jangka panjang.

“Jika Anda masih muda dna sehat, Anda masih bisa bertahan dari Covid-19, tetapi jika Anda sudah beberapa kali menggunakan alat bantu pernafasan, otot-otot Anda mungkin sudah sulit bekerja,” kata Onugha.

Hal ini mengafirmasi bahwa kondisi kronis pada fungsi pernafasan seperti bronchitis atau gangguan pernafasan lain meningkatkan potensi gejala Covid-19. Meski demikian, menurut Centers for Disease and Prevention kondisi inflasi atau peradangan bisa menambah potensi bagi penyakit umum yang bisa terkendali seperti asma.

Selain itu alergi pada debu, partikel kayu, serbuk sari bisa menaikkan sensitivas yang mana bisa memicu peradangan. Onugha menambahkan, siapapun dengan asma dan alergi harus menjaga kondisi tubuh mereka dengan kontrol pengobatan.

Sementara itu, merokok juga adalah salah satu faktor pemicu Covid-19. Menurut The American Lung Association, perokok terutama dengan vape punya risiko dua kali lipat mengalami gejala Covid-19.  Selain itu, perokok ganja juga dinilai punya risiko yang sama terjangkit Covid-19 menurut National Institute on Drug Abuse.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

paru-paru Virus Corona covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top