Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investasi Riset dan Pengembangan Farmasi. Benarkah Mengalahkan Otomotif dan Aerospace?

Riset dan pengembangan farmasi menelan biaya sebesar Rp2.237 triliun pada 2016 dan cenderung naik pada masa pandemi Covid-19.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  15:05 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Praktisi Industri Farmasi Rizman Abudaeri menuturkan investasi untuk riset dan pengembangan (R&D) farmasi menjadi industri paling mahal sejak 2016 lalu. Malahan, tren itu memperoleh momentumnya selama pandemi Covid-19 berlangsung di seluruh dunia.

“Di antara industri apa pun di seluruh dunia baik itu otomotif, komputer atau aerospace yang selama ini kita bayangkan mereka punya R&D tinggi, tetapi ternya farmasi yang paling tinggi,” kata Rizman saat memberi keterangan dalam Webinar Ikatan Alumni Farmasi ITB pada Rabu (24/6/2020).

Dari sisi nominal, dia menerangkan, riset dan pengembangan farmasi menelan biaya sebesar Rp2.237 triliun pada 2016. Menurut Rizman, angka itu cenderung naik hingga saat pandemi Covid-19 berlangsung.

“Kenapa pengeluaran di R&D farmasi begitu tinggi karena memang untuk menemukan suatu molekul diperlukan biaya sangat besar kurang lebih 2,5 miliar dolar atau sekitar Rp40 trilun dalam waktu kurang lebih 10 hingga 15 tahun,” kata dia.

Ihwal R&D farmasi, dia menerangkan, terdapat tiga bagian penelitian yakni pertama penapisan atau skrining, kedua, klinis di mana suatu molekul atau senyawa diinjeksikan ke tubuh manusia untuk dipelajari efeknya, terakhir, setelah dilakukannya uji klinis.

“Dari sisi komposisi pengeluaran terbesar ada di uji klinis tersebut yakni sekitar 65 persen atau senilai Rp1.400 hingga Rp1.500 triliun per tahun di dunia,” tuturnya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menambahkan sektor industri alat kesehatan (alkes) dan industri farmasi ke dalam prioritas pengembangan Making Indonesia 4.0.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan hal tersebut merupakan satu upaya untuk dapat segera mewujudkan Indonesia yang mandiri di sektor kesehatan.

Kemandirian Indonesia di sektor industri alat kesehatan dan farmasi merupakan hal yang penting, terlebih dalam kondisi kedaruratan kesehatan seperti saat ini.

"Sektor industri alat kesehatan dan farmasi masuk dalam kategori high demand di tengah Pandemi Covid-19, di saat sektor lain terdampak berat. Inovasi dan penerapan industri 4.0 di sektor industri alat kesehatan dan farmasi dapat meningkatkan produktivitas," kata Agus dalam siaran pers, Sabtu (20/6/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

farmasi Virus Corona covid-19
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top