Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Refleksi 6 Bulan Perjalanan Pandemi Virus Corona di Dunia

Sejauh ini, peneliti percaya bahwa virus corona jenis baru itu telah melompat dari hewan yang belum diketahui asalnya ke manusia, dan menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Virus sekarang telah mencapai setiap benua yang ada, kecuali Antartika
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 01 Juli 2020  |  13:23 WIB
Sel virus corona - istimewa
Sel virus corona - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Sudah enam bulan berlalu sejak China pertama kali melaporkan adanya kasus pneumonia misterius di kota Wuhan. ‘Pelakunya’ kemudian dikenal sebagai virus SARS-CoV-2 yang telah menyebabkan pandemi Covid-19.

Sejauh ini, peneliti percaya bahwa virus corona jenis baru itu telah melompat dari hewan yang belum diketahui asalnya ke manusia, dan menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Virus sekarang telah mencapai setiap benua yang ada, kecuali Antartika.

Kini virus corona baru itu telah menjangkit lebih dari 10 juta orang dan menewaskan lebih dari 500.000 orang di seluruh dunia. Para pemimpin negara, lembaga kesehatan, dan ilmuwan menerapkan beragam upaya untuk menghentikan penyebaran virus.

Satu demi satu, negara menutup aktivitas ekonomi sosial masyarakatnya. Sebagian besar orang di berbagai penjuru dunia kehilangan pekerjaan dan banyak yang menghadapi dampak kesehatan mental karena isolasi yang dilakukan.

Dilansir dari Live Science, Rabu (1/7) berikut ini adalah beberapa poin yang menjadi highlight dari peristiwa pandemi Covid-19 dalam enam bulan terakhir, dan apa yang bisa diharapkan oleh publik luas untuk waktu-waktu ke depan.

Ilmuwan Kerja Lembur

Virus ini telah memicu upaya global yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menemukan vaksin dan pengobatan efektif serta aman yang bisa digunakan. Dalam enam bulan terakhir, telah ada kemajuan ilmiah yang luar biasa.

George Rutherford, Profesor Epidemiologi dan Biostatistik dari University of California mengatakan para peneliti telah berhasil menguraikan genom virus dalam 12 hari setelah wabahnya dilaporkan ke Center for Disease and Control China.

Dalam waktu hitungan hari, para ilmuwan telah menemukan bahwa virus terdiri dari RNA dan bahwa urutannya terdiri dari 29.900 huruf atau pangkalan. Hal ini menjadi informasi awal yang penting untuk memahami lebih banyak tentang virus jenis baru tersebut.

Pada Februari, para ilmuwan menemukan adanya struktur ‘spike protein’ yang digunakan virus untuk menyerang sel manusia. Protein bekerja dengan membuka reseptor ke dalam sel yang disebua ACE 2. Reseptor iniditemukan dalam berbagai jenis sel di seluruh tubuh mulai dari paru-paru hingga jantung.

Rutherford juga menyampaikan bahwa ilmuwan belajar banyak hal dalam waktu yang singkat, termasuk mengenali gejala klinis mulai dari batuk, demam, hingga kehilangan indera rasa dan penciuman. Mereka juga belajar epidemiologinya serta bagaimana penyebarannya.

“Kami telah belajar setidaknya beberapa cara untuk melawan virus dan juga tentang intervensi non-farmasi untuk mencegah penularan, termasuk pentingnya memakai masker dan menjaga jarak untuk mencegah penyebaran virus,” katanya.

Negara-Negara Kewalahan Lantaran Tanpa Persiapan

Setiap negara memiliki tanggapannya masing-masing terhadap virus. Di beberapa tempat seperti Wuhan menerapkan penguncian (lockdown) yang ketat, melarang banyak orang meninggalkan rumah mereka. Akan tetapi beberapa negara lain seperti Swedia nyaris tidak membatasi masyarakatnya.

Beberapa negara seperti Selandia Baru dilaporkan telah berhasil menghilangkan virus, setidaknya dengan tindakan awal yang memicu konsistensi penurunan jumlah kasus. Akan tetapi, negara lain seperti Amerika Serikat malah kewalahan menghadapi virus.

Negara adidaya itu memiliki respons kacau yang dimulai dengan sikap acuh tak acuh, dan mulai melihat kebangkiran virus ketika negara dibuka kembali tanpa rencana yang jelas tentang pengetesan, pelacakan, dan isolasi khusus.

“Dalam banyak hal, China memberikan peluru untuk kita memiliki beberapa bulan ekstra untuk persiapan. Eropa melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, sementara Amerika Serikat melakukannya dengan sangat buruk,” kata Rutherford.

Ketika virus tiba di Amerika Serikat, CDC membuat keasalahan kritis dengan memilih untuk melakukan tes sendiri di rumah ketimabang mengandalkan kit dari World Health Organization (WHO) yang sudah dikembangkan.

Kemudian, lab di seluruh negeri tidak dapat melakukan tes sendiri, karena kit CDC menggunakan reagen yang salah yang memberikan hasil tes yang tidak dapat diandalkan. Selain itu, ada banyak aturan yang tidak perlu terkait pengujian yang dilakukan.

Misalnya, satu pedoman awal yang mengharuskan siapa pun yang dites harus memiliki kaitan dengan Wuhan, China, “Kami melewatkan beberapa klaster awal yang masuk. Virus akhirnya di luar kendali karena berbagai alasan, sebagian besarnya berasal dari kurangnya kepemimpinan,” ujarnya.

Hal ini juga diakui oleh Eric Cioe-Pena, Dokter dan Direktur Kesehatan di Northwell Health di New York. Menurutnya, negara ini terlambat menyebut pandemi, terlambat mengakui penyebarannya, dan terlambat melakukan tes pada masyarakat dalam jumlah besar.

Dia membandingkan misalnya dengan Korea Selatan yang telah melihat wabah virus corona yang sama sebelumnya dan memiliki respons yang sangat baik, “Gagasan bahwa New York akan ditutup pada Februari tidak pernah muncul. Ada disonansi kognitif yang harus kami tutup untuk merespons virus secara efektif,” katanya.

New York memiliki kasus pertama yang dilaporkan pada awal Maret, tetapi virus itu sudah pasti menginfeksi orang sebelum itu. Hasilnya, setelah menerapkan lockdown dan meningkatkan pengetesan serta pelacakan, Amerika Serikat menjadi negara dengan tingkat infeksi tertinggi di dunia.

“Ini merupakan upaya yang luar biasa dan upaya yang baik. Jika gelombang kedua menghantam negara bagian, New York akan berada di tempat yang jauh lebih baik untuk menghadapi virus ini,” katanya kepada Live Science.

Pengembangan Vaksin dan Pengobatan

Cioe Pena mengatakan, idealnya dalam kurun waktu enam bulan penanganan wabah, kita sudah akan mendapatkan vaksin virus corona pertama dalam jumlah terbatas untuk petugas kesehatan dan untuk umum dengan penggunaan yang spesifik.

Pada awal wabah menyebar di Amerika Serikat, Anthony Fauci, Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) mengatakan perlu waktu antara 12 hingga 18 bulan untuk memiliki vaksin virus SARS-CoV-2, ini adalah waktu paling cepat untuk pengembangan vaksin.

WHO mencatat, sejauh ini ada lebih dari 100 pengembangan vaksin dan 17 di anratanya telah memasuki tahapan uji klinis. Vaksin eksperimental Moderna adalah salah satunya, yang menggunakan messenger RNA untuk memacu tubuh menghasilkan respons umin terhadap virus corona.

Teknologi ini belum digunakan dalam vaksin yang disetujui dan diperkirakan bakal memulai uji coba tahap 3 dengan ratusan hingga ribuan orang pada bulan depan. Sementara vaksin dari University of Oxford sedang melangsungkan uji klisis vaksin lain yang dibuat dari virus flu yang dikombinasikan dengan gen dari virus corona baru.

Selain itu, ada juga remdesivir dari Gilead Science yang saat ini adalah satu-satunya obat yang telah diberi wewenang dari Food and Drug Administration (FDA) untuk mengobati pasien Covid-19, setelah percobaan klinis menemukan bahwa itu secara signifikan mengurangi waktu pulih pasien.

Percobaan besar lainnya dilakukan di Inggris, yang menemukan bahwa steroid sederhana yakni deksametason dapat mengurang angka kematian untuk pasien yang menggunakan alat penunjang pernapasan atau ventilator.

“Selama enam bulan ke depan, kita mungkin mendapatkan terapi yang jauh lebih baik, termasuk beberapa yang dapat digunakan kembali untuk melawan badai sitokin,” kata Rutherford.

Harapan ‘Badai Segera Berlalu’

Sejumlah peneliti mengungkapkan bahwa virus SARS-CoV-2 tidak akan hilang dengan sendirinya karena cuaca yang lebih hangat. Bahkan penelitian lain menunjukkan adanya risiko tinggi gelombang virus kembali memuncak pada musim dingin mendatang.

Rutherford mengatakan hingga kita mendapatkan vaksin, kita mungkin tidak akan dapat melanjutkan hidup dengan normal. Ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan untuk menekan penyebaran virus dan melindungi diri sendiri dari infeksi.

Banyak orang di seluruh dunia merasa bosan dan lebih karena keterasingan dan banyak orang yang berhenti menjaga jarak. Akibatnya, kasus Covid-19 baru di negara-negara seperti Israel, Portugal, dan Amerika Serikat memuncak.

Sayangnya, kendati masyarakat bosan melakukan upaya pencegahan, tetapi virus tidak bosan dan terus menginfeksi orang-orang tanpa henti kepada seluruh golongan masyarakat. Anak-anak muda tak terkecuali.

Pada awalnya, ilmuwan berpikir bahwa penyakit parah dari virus sebagian besar hanya mengakibatkan masalah pada orang tua dan orang dengan kondisi yang mendasarinya. Akan tetapi, penelitian lanjutan menyatakan tidak demikian.

Para ilmuwan menemukan sejumlah kasus parah yang terjadi pada orang dewasa muda dan anak-anak. Bahkan, ditemukan kasus pada anak yang mengembangkan kondisi peradangan misterius setelah tertular oleh virus, yang tidak dialami oleh kelompok muda dan tua.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa kita semua tentunya ingin semua ini segera berlalu dan melanjutkan hidup dengan normal, seperti sedia kala. Akan tetapi, kenyataannya belum berpihak. Masih banyak hal yang harus dilakukan.

Dalam banyak kesempatan, orang nomor satu di lembaga kesehatan global itu selalu memberi peringatan bahwa pandemi ini masih belum berakhir, kendati beberapa negara mulai menunjukkan adanya penurunan jumlah kasus.

Akan tetapi, dia juga tak berhenti mengingatkan bahwa selalu ada harapan dan seluruh pihak yang terkait berupaya mewujudkan hal tersebut. Hingga saat ini, WHO mencatat setidaknya ada sekitar 1.600 penelitian yang dilakukan terkait virus corona, beberapa di antaranya adalah penelitian tentang vaksin dan pengobatan yang diharapkan bisa menjadi jalan keluar dari situasi saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona pandemi corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top