Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Studi Temukan Risiko Penularan Covid-19 Pada Anak-Anak besar

Namun menurut sebuah studi dari Korea Selatan menyebut anak-anak berusia kurang dari 10 tahun memang jauh lebih jarang menularkan virus corona daripada orang dewasa, tetapi risikonya tidak nol.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 21 Juli 2020  |  06:48 WIB
Sel virus corona - istimewa
Sel virus corona - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Para ahli meyakini anak-anak berusia antara 10-19 tahun dapat menyebarkan virus layaknya orang dewasa jika mereka terinfeksi. Adapun selama ini banyak yang berpendapat bahwa anak-anak tidak rentan terhadap penularan Covid-19.

Namun menurut sebuah studi dari Korea Selatan menyebut anak-anak berusia kurang dari 10 tahun memang jauh lebih jarang menularkan virus corona daripada orang dewasa, tetapi risikonya tidak nol. Sementara mereka yang berusia antara 10-19 tahun dapat menyebarkan virus setidaknya sama seperti orang dewasa.

Oleh karena itu para ahli mengingatkan apabila sekolah kembali dibuka, tidak menutup kemungkinan kluster baru terbentuk dari anak-anak di segala usia. “Saya khawatir bahwa anak-anak tidak akan terinfeksi atau tidak terinfeksi dengan cara yang sama dengan orang dewasa, tetapi mereka hampir seperti populasi yang menggelembung, akan ada transmisi,” kata Michael Osterholm, seorang ahli penyakit menular di University of Minnesota, dilansir dari Channel News Asia, Senin (20/7/2020).

Beberapa penelitian dari Eropa dan Asia memberi kesan bahwa anak kecil lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi dan menyebarkan virus. Tetapi kata Dr Ashish Jha, direktur Harvard Global Health Institute, sebagian besar studi itu dalam skala kecil dan cacat.

Namun menurut Jha, studi baru yang dilakukan di Korea Selatan dilakukan dengan sangat hati-hati, sistematis, dan melihat populasi yang sangat besar. Pakar lain juga memuji skala dan ketelitian analisis.

Peneliti di Korea Selatan mengidentifikasi 5.706 orang yang pertama kali melaporkan gejala Covid-19 di rumah tangga antara 20 Januari dan 27 Maret, ketika sekolah ditutup. Kemudian mereka melacak kasus itu mengembang menjadi 59.073 orang terinfeksi.

Mereka menguji semua kontak rumah tangga dari setiap pasien, terlepas dari gejala, tetapi hanya menguji kontak simptomatik di luar rumah tangga. Orang pertama dalam rumah tangga yang mengalami gejala belum tentu orang pertama yang terinfeksi, dan para peneliti mengakui keterbatasan ini.

Anak-anak juga lebih kecil kemungkinannya untuk menunjukkan gejala daripada orang dewasa, sehingga penelitian ini mungkin telah meremehkan jumlah anak-anak yang memicu rantai penularan dalam rumah tangga mereka. Meski begitu, para ahli mengatakan pendekatan itu masuk akal.

Penelitian menjabarkan anak-anak di bawah usia 10 tahun kira-kira setengah dari kemungkinan orang dewasa untuk menyebarkan virus ke orang lain. Itu mungkin karena anak-anak umumnya menghembuskan lebih sedikit udara atau karena mereka menghembuskan udara lebih dekat ke tanah, sehingga kecil kemungkinan orang dewasa menghirupnya. Meski begitu, jumlah infeksi baru yang dibawa oleh anak-anak dapat meningkat ketika sekolah dibuka kembali.

“Anak-anak muda mungkin menunjukkan tingkat serangan yang lebih tinggi ketika penutupan sekolah berakhir, berkontribusi pada transmisi Covid-19 ke masyarakat,” tulis para peneliti dalam laporannya.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa sejumlah besar kontak untuk anak-anak sekolah, yang berinteraksi dengan lusinan orang lain pada hari yang sama, dapat memperbesar risiko transmisi virus.

Sejauh ini para peneliti hanya melacak kontak anak-anak yang merasa sakit, sehingga masih belum jelas seberapa efisien anak-anak tanpa gejala menyebarkan virus, kata Caitlin Rivers, seorang ahli epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg.

Penelitian ini lebih mengkhawatirkan bagi anak-anak di sekolah menengah dan atas. Kelompok ini bahkan lebih mungkin menginfeksi orang lain daripada orang dewasa. Tetapi beberapa ahli mengatakan bahwa temuan itu mungkin kebetulan atau berasal dari perilaku anak-anak.

Anak-anak yang lebih besar ini mungkin memiliki kebiasaan yang tidak higienis sama seperti anak-anak. Mereka juga lebih mungkin bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya dari anak-anak yang lebih muda.

Oleh karena itu para ahli mengatakan sekolah perlu mempersiapkan diri terhadap infeksi yang muncul. Selain menerapkan jarak fisik, kebersihan tangan dan masker, sekolah juga harus memutuskan kapan dan bagaimana mengecek kesehatan siswa dan staf, kapan dan berapa lama untuk karantina, dan kapan harus memutuskan menutup dan membuka kembali sekolah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top