Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Astaga! Anak Jadi Korban Kekerasan Orang Tua Selama Pandemi Corona

Stres akibat pandemi virus corona, membuat anak sebagai lampiasan kekerasan fisik maupun psikis dari orang tuanya.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 24 Juli 2020  |  13:56 WIB
Orangtua sedang memarahi anak. Selama pandemi virus corona, tingkat stres dan kemarahan orang dewasa meningkat dan ini berdampak buruk bagi anak-anak. - ilustrasi
Orangtua sedang memarahi anak. Selama pandemi virus corona, tingkat stres dan kemarahan orang dewasa meningkat dan ini berdampak buruk bagi anak-anak. - ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Perlindungan terhadap anak masih menjadi pekerjaan rumah bukan hanya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA), namun juga semua pihak. Pasalnya, angka kekerasan terhadap anak masih tinggi, terutama saat masa pandemi ini.

Menteri PPPA, Bintang Puspayoga menyebut dalam masa pandemi, anak rentan menjadi korban kekerasan karena orangtua memiliki beban ganda, yakni mendidik, mendampingi, dan ikut menemani anak belajar sekaligus tetap bekerja.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI) Kemen PPPA, terdapat 3.928 kasus kekerasan terhadap anak-anak yang dilaporkan sejak Januari 2020 hingga 17 Juli 2020. Masih tingginya angka kekerasan juga tergambarkan dari hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2018 yang menyebutkan bahwa 2 dari 3 anak dan remaja perempuan atau laki-laki pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.

Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut dalam survei secara online pada 8-14 Juni 2020, anak kerap kali mendapat kekerasan fisik maupun psikis dari orang tuanya selama pandemi.

Psikolog Klinis Anak, Gisella Tani Pratiwi mengatakan pandemi memicu banyak tekanan pada orang tua. Mereka, terutama para ibu memiliki tambahan tugas untuk mendampingi anak selama di rumah baik saat belajar online maupun pengisian waktu luang. Belum lagi adanya tekanan ekonomi ketika ayah atau ibu diputus hubungan kerjanya oleh perusahaan.

"Pada orang tua yang memiliki kondisi kurang termodali dengan skill regulasi diri di sebelum pandemi, maka akan semakin terhimpit dan melampiaskan kepada anak-anak," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (24/7/2020).

Selain itu di masa sebelum pandemi mungkin sekali sudah ada kondisi keluarga yang berkekerasan atau berkonflik sehingga menambah intensitasnya ketika lebih sering berinteraksi pada masa pandemi ini.

Gisella menerangkan situasi pandemi memang membawa tantangan beragam secara psikologis bagi masing-masing orang. Maka orang tua perlu mengambil waktu sejenak untuk merefleksikan diri, bagaimana cara dirinya menghadapi situasi sulit ini, baru kemudian memeriksa diri apakah pengasuhan selama pandemi ini sudah cukup atau belum tepat kepada anak. Dalam arti di sini apakah sudah mengarah kepada pengasuhan sehat yang non kekerasan.

Kemudian ajak kerja sama pihak-pihak dalam keluarga agar dapat berbagi peran dalam rumah tangga sehingga beban pengasuhan tidak hanya di satu pihak dan pastikan masing-masing anggota keluarga memiliki jadwal untuk meregulasi atau menenangkan dirinya.

"Kondisi psikologis anak sangat tergantung pada kondisi psikologis orang tua, jadi mulailah dengan mengelola diri orang tua dulu baru kemudian perlahan melihat hal-hal apa yang dapat dibantu pada anak," terangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak marah Virus Corona pandemi corona
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top