Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kasus Corona Klaster Perkantoran Meningkat, Berikut Tips agar Kantor Anda Aman

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar di DKI Jakarta sejak awal Juni menyebabkan peningkatan kontribusi klaster perkantoran terhadap penyebaran kasus positif Covid-19.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 08 Agustus 2020  |  15:08 WIB
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6/2020). Pekan kedua masa pembatasan sosial berskala berskala besar (PSBB) transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbolehkan karyawan di perkantoran kembali bekerja dengan kapasitas karyawan hanya dibolehkan sebanyak 50 persen dari jumlah karyawan dalam satu ruangan. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Karyawan melakukan aktivitas di pusat perkantoran, kawasan SCBD, Jakarta, Senin (8/6/2020). Pekan kedua masa pembatasan sosial berskala berskala besar (PSBB) transisi, Pemprov DKI Jakarta mulai memperbolehkan karyawan di perkantoran kembali bekerja dengan kapasitas karyawan hanya dibolehkan sebanyak 50 persen dari jumlah karyawan dalam satu ruangan. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – Selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi, khususnya di DKI Jakarta sejak awal Juni terjadi peningkatan kontribusi kasus Covid-19 yang disebabkan Virus Corona di klaster perkantoran.

Saat PSBB transisi, aktivitas perekonomian kembali bergeliat dan sebagian perkantoran kembali memberlakukan sistem kerja dari kantor. Sayangnya, hal ini juga membuat kontribusi klaster perkantoran terhadap penyebaran wabah Covid-19 ikut meningkat.

Berdasarkan analisis data klaster DKI Jakarta pada periode 4 Juni hingga 26 Juli 2020, klaster perkantoran menyumbang 3,6 persen dari total klaster. Sebelum masa PSBB transisi, kasus positif Covid-19 hanya mencapai 43 kasus dari klaster perkantoran.

Bagi sebagian besar pekerja, berangkat ke kantor bukanlah pilihan, tetapi kewajiban. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang mau tidak mau tetap pergi dari rumah dan bekerja di kantor, meskipun situasi pandemi saat ini belum kunjung reda.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh perusahaan dan pekerja?

Berikut ini rangkuman sejumlah saran dan rekomendasi dari para praktisi sumber daya manusia (SDM) yang dihimpun oleh perusahaan software as a service untuk bisnis UMKM, Mekari.

1. Menerapkan Protokol Kesehatan Dengan Ketat

Agnes Thedora, HRD Manager Rollover Reaction mengatakan perusahaan wajib menerapkan protokol kesehatan secara ketat di masa pandemi ini demi keamanan dan kenyamanan karyawannya. Hal ini meliputi penyemprotan disinfektan di kantor setiap hari.

“Penyemprotan desinfektan dilakukan setiap hari pada area-area yang sering digunakan juga melakukan general cleaning setiap bulan. Kami juga melakukan rapid test setiap bulan, memberikan vitamin, mengimbau penggunaan alat makan dan ibadah pribadi, serta  intens melakukan monitoring karyawan yang kondisi kesehatannya kurang baik,” katanya dikutip dari siaran pers, Sabtu (8/8/2020).

2. Mengatur Shift Kerja Karyawan

Untuk memastikan area kantor menerapkan anjuran social distancing, pengaturan shift kerja menjadi solusi yang diberlakukan oleh perusahaan yang sudah memberlakukan kerja dari kantor dan rumah secara bergantian, seperti di BLP Beauty, Rollover Reaction dan Female Daily.

“Kami membatasi jumlah karyawan yang bekerja di kantor (WFO) dengan cara shifting, sehingga BLPTeam yang pada hari itu tidak memiliki jadwal ataupun kepentingan untuk hadir ke kantor, disarankan untuk bekerja di rumah (WFH),” ujar Benazir Fauzy, Senior People Development BLP Beauty.

Head of People Operations Female Daily Bani Wicaksono juga menyatakan melakukan hal yang sama di perusahaannya. Pihaknya melakukan pembatasan jumlah orang ke kantor maksimal 15 persen, atau tidak lebih dari 20 orang.

Sementara itu, Rollover Reaction menerapkan social distancing dengan mengatur denah tempat duduk dan pembagian jadwal WFH dan WFO dengan maksimal 12 orang dalam sehari dari perwakilan tiap departemen.

3. Mengganti Penggunaan Mesin Fingerprint

Dalam menghadapi situasi saat ini perlu adanya pembatasan penggunaan fingerprint dalam pendataan kehadiran untuk mencegah penularan Covid-19. Perusahaan bisa menggunakan fitur Live Attendance yang ada pada produk Talenta milik Mekar untuk memantau absensi karyawan.

“Sebagai salah satu bentuk pencegahan, kami mengganti penggunaan mesin fingerprint ke fasilitas Live Attendance yang disediakan oleh Talenta,”ujar Agnes Theodora.

4. Melakukan Identifikasi dan Pantau Kesehatan Karyawan

Kesehatan karyawan menjadi faktor utama yang harus diperhatikan oleh HR saat memutuskan karyawan bisa kembali beraktivitas ke kantor. Melakukan identifikasi riwayat penyakit dan merekomendasikan karyawan dengan gejala Covid-19 untuk tetap berada di rumah penting dilakukan.

Bani Wicaksono mengatakan Fitur Health Tracker di aplikasi Talenta dari Mekar bisa menjadi salah satu solusi HR dalam melakukan pemantauan. Fitur ini menurutnya dapat menjadi acuan untuk mengetahui kondisi kesehatan pekerja secara day to day.

“So far, kami sangat terbantu dari pemantauan health tracker ini. Kami bisa mewajibkan team member untuk mengisi survey berbarengan dengan absensi harian di Talenta, simple dan sangat berguna sekali untuk HR,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona covid-19 Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top