Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Cara Memperbesar Pangsa Pasar Batik Indonesia

Hanya orang-orang sabar dan tekun yang mampu menghasilkan motif detail batik tulis yang indah.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 02 Oktober 2020  |  14:10 WIB
Perajin menyelesaikan proses pembuatan kain batik di sentra industri rumahan desa Klampar, Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (6/1/2016). Produksi batik di daerah itu dalam satu bulan terakhir turun hingga 50 persen karena sebagian pelaku usaha tersebut beralih ke cocok tanam.  -  Antara/Saiful Bahri
Perajin menyelesaikan proses pembuatan kain batik di sentra industri rumahan desa Klampar, Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (6/1/2016). Produksi batik di daerah itu dalam satu bulan terakhir turun hingga 50 persen karena sebagian pelaku usaha tersebut beralih ke cocok tanam. - Antara/Saiful Bahri

Bisnis.com, JAKARTA - Batik tulis asal Indonesia masih sulit mendunia karena belum optimalnya peran intel pasar global alias market intelligence.

Perancang Busana Samuel Wattimena menilai, riset pasar sangat penting karena setiap negara punya kultur dan selera masyarakat yang berbeda-beda. Maka intel dan riset pasar sangat penting agar para pembatik dan perancang busana Indonesia bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pasar global.

“Kalau mau jual batik di Eropa, kita tentu harus sesuaikan dengan selera mereka batik seperti apa? Apakah di Indonesia kita punya batik seperti itu dan dari daerah mana? Lalu kita ke Afrika, motif favorit mereka tentu berbeda. Mungkin yang lebih colourful dari yang di Eropa, jadi survei market ini penting sekali,” tuturnya kepada Bisnis beberapa waktu yang lalu.

Selain masalah riset pasar, Samuel juga mengakui kini tengah mencuat kecemasan pada regenerasi pembatik Indonesia yang tumbuh sangat lambat.

Pasalnya, minat terhadap profesi pembatik yang rendah juga karena stigma pekerjaan tersebut terkesan sangat kuno. Padahal, menurut Samuel, dengan terkoneksi pada media digital dan perubahan gaya hidup, kegiatan membatik bisa eksis dan tetap dipopulerkan sesuai dengan kebiasaan generasi muda.

Samuel mengambil contoh, pada zaman dulu mungkin orang kuat membatik, duduk, tekun, proses lama dengan motif yang detail dan kain yang panjang.

Dunia digital yang serba cepat mengubah itu karena semua anak terkoneksi dengan digital sehingga ketekunan diam untuk membatik semakin berkurang.

“Kita hanya bisa mengajak generasi muda itu membuat cerita yang sesuai dengan kreasi mereka di atas alat membatik. Mungkin tidak bisa kita berharap sebuah cerita yang panjang dalam 2,5 meter kain. Mungkin pembatik muda akan mengolah motif yang lebih unik dengan panjang kain yang lebih kecil,” ujarnya.

Dia menegaskan perubahan dalam lanskap SDM pembatik ini jangan dilihat sebagai kendala atau tantangan yang berat.

Sebaliknya, kondisi ini juga peluang untuk mendorong kreasi dan minat anak muda untuk mau membatik. Misalnya dengan aktif membuat lomba dan insentif untuk mendorong mereka tetap belajar membatik.

Untuk memberi nilai tambah bagi produk batik Indonesia, Samuel juga mengingatkan pentingnya para pembatik Indonesia mulai memperkenalkan sistem kerja yang ramah lingkungan. Jaminan ramah lingkungan atau sustainability product ini bisa menjadi nilai tambah bagi produk Indonesia di mata dunia.

“Fashion ini masuk 5 besar limbah besar di dunia yang merusak lingkungan. Jadi perlu dipikirkan juga bagaimana produksi batik Indonesia terjamin dengan proses yang ramah lingkungan. Misalnya dengan jaminan penggunaan pewarna alam,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batik batik tulis hari batik
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top