Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

WHO Tidak Sarankan Lockdown Lagi, Ini Alasannya

Utusan WHO Dr. David Nabarro mengatakan lockdown hanya boleh diterapkan sebagai upaya terakhir
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 12 Oktober 2020  |  10:09 WIB
Lambang World Health Organization (WHO) terpampang di pintu masuk kantor pusat badan kesehatan dunia itu di Jenewa, Swiss, Selasa (18/2/2020). - Bloomberg/Stefan Wermuth
Lambang World Health Organization (WHO) terpampang di pintu masuk kantor pusat badan kesehatan dunia itu di Jenewa, Swiss, Selasa (18/2/2020). - Bloomberg/Stefan Wermuth

Bisnis.com, JAKARTA- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan agar pemimpin-pemimpin negara di dunia tidak lagi mengandalkan lockdown dalam mengatasi pandemi covid-19 di negaranya.

Padahal, sebelumnya WHO adalah lembaga yang aktif menyuarakan kebijakan lockdown dan berhati-hati untuk kembali membuka pembatasan di negaranya.

Utusan WHO Dr. David Nabarro mengatakan lockdown hanya boleh diterapkan sebagai upaya terakhir, demikian dilansir dari New York Post mengutip wawancara video Nabarro di The Spectator.

“Kami di Organisasi Kesehatan Dunia tidak menganjurkan penguncian sebagai cara utama pengendalian virus ini,” kata Nabarro.

Dia mengatakan lockdown dapat diberlakukan untuk memberi pemerintah waktu untuk mengatur ulang, menyusun kembali, menyeimbangkan kembali sumber daya, melindungi petugas kesehatan yang kelelahan.

Alasan dia tidak menganjurkan Lockdown karena telah menimbulkan kerugian signifikan, khususnya terhadap ekonomi global.

"Lockdown memicu konsekuensi yang tidak boleh Anda remehkan, dan itu membuat orang miskin menjadi semakin miskin," katanya.

Dia menambahkan bahwa lockdown telah berdampak parah pada negara-negara yang mengandalkan pariwisata.

“Lihat saja apa yang terjadi pada industri pariwisata di Karibia, misalnya, atau di Pasifik karena orang-orang tidak berlibur,” kata Nabarro lagi.

Dia mengatakan kemungkinan dunia akan mencatat angka kemiskinan dua kali lipat tahun depan, dan bahkan angka malnutrisi anak naik empat kali lipat.

Sementara itu, Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. sebelumnya memperingatkan negara-negara agar tidak mencabut lockdown terlalu cepat selama gelombang pertama virus.

“Hal terakhir yang dibutuhkan negara mana pun adalah membuka sekolah dan bisnis, hanya untuk dipaksa menutupnya lagi karena kenaikan angka positif,” kata Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Tedros juga telah mendesak negara-negara untuk mendukung langkah-langkah lain, termasuk pengujian luas dan pelacakan kontak, sehingga mereka dapat membuka kembali dengan aman dan menghindari lockdown di masa depan.

“Kita perlu mencapai situasi yang berkelanjutan di mana kita memiliki kendali yang memadai terhadap virus ini tanpa mematikan hidup kita sepenuhnya, atau beralih dari lockdown yang memiliki dampak yang sangat merugikan bagi masyarakat,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

who Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top