Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Akankah Virus Covid-19 jadi Endemik?

Endemik berarti pada akhirnya virus ini menjadi hal yang biasa dan berulang terjadi secara musiman seperti virus flu.
Fransisco Primus Hernata
Fransisco Primus Hernata - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  15:19 WIB
rnPengguna komuter  mengenakan masker memenuhi stasiun kereta pada jam sibuk di stasiun Cadorna, Milan, Italia, Rabu (7/10/2020), di tengah mewabahnya Virus Corona. - Antara/Reuters\\r\\n
rnPengguna komuter mengenakan masker memenuhi stasiun kereta pada jam sibuk di stasiun Cadorna, Milan, Italia, Rabu (7/10/2020), di tengah mewabahnya Virus Corona. - Antara/Reuters\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Dalam sebuah artikel baru yang dibuat oleh peneliti dari Columbia Mailman School yaitu Jeffrey Shaman dan Marta Galanti, mereka mengeksplorasi potensi virus COVID-19 menjadi endemik.

Endemik berarti pada akhirnya virus ini menjadi hal yang biasa dan berulang terjadi secara musiman seperti virus flu.

Mereka mengidentifikasi faktor-faktor penting yang berkontribusi, termasuk risiko infeksi ulang, ketersediaan dan kemanjuran vaksin, serta potensi musiman dan interaksi dengan infeksi virus lain yang dapat memodulasi penularan virus. 

Shaman adalah seorang profesor ilmu kesehatan lingkungan dan direktur dari program Iklim dan Kesehatan Sekolah di Columbia Mailman School serta memegang otoritas dalam pemodelan wabah penyakit menular seperti SARS-CoV-2 dan influenza.

Dia termasuk orang pertama yang menyadari pentingnya penyebaran penyakit tanpa gejala dan keefektifan tindakan lockdown dan mempublikasikan perkiraan hipotetis penelitian kehidupan yang dapat diselamatkan jika lockdown terjadi lebih cepat.

Shaman dan Galanti, yang merupakan seorang ilmuwan pasca doktoral di kelompok penelitian Shaman, juga menerbitkan penelitian yang menemukan bahwa infeksi ulang terhadap virus korona endemik sangatlah jarang, bahkan dalam periode satu tahun infeksi sebelumnya.

Makalah baru mengeksplorasi skenario potensial di mana kekebalan terhadap SARS-CoV-2, baik melalui infeksi atau vaksin, akan berkurang dalam satu tahun yang merupakan tingkat yang serupa dengan yang terlihat pada betacoronavirus endemik yang menyebabkan penyakit pernapasan ringan.

Di sisi lain, jika kekebalan terhadap SARS-CoV-2 dapat bertahan lebih lama, mungkin melalui perlindungan yang diberikan maka menghilangnya penyakit COVID-19 bisa kembali muncul beberapa tahun setelahnya dengan efek yang lebih ringan.

“Jika infeksi ulang terbukti banyak terjadi, dan bahkan setelah vaksin yang sangat efektif diberikan ke sebagian besar populasi dunia, SARS-CoV-2 kemungkinan akan menetap menjadi pola endemisitas,” tulis para penulis penilitan.

"Apakah infeksi ulang akan menjadi hal biasa, seberapa sering mereka akan terjadi, bagaimana orang yang terinfeksi ulang akan menular, dan apakah risiko hasil klinis yang parah berubah dengan infeksi berikutnya masih harus dipahami," tambah para peneliti.

Di antara mereka yang telah terinfeksi COVID-19, penelitian serologis menunjukkan bahwa sebagian besar infeksi, terlepas dari tingkat keparahannya, menyebabkan perkembangan beberapa antibodi spesifik SARS-CoV-2. Namun masih belum jelas apakah antibodi itu sendiri cukup untuk memberikan "kekebalan pensteril" jangka panjang untuk mencegah infeksi ulang.

Untuk banyak virus, respons imun yang tidak mencukupi, penurunan imunitas, atau mutasi yang memungkinkan penyakit tersebut "lolos" dari deteksi imun sehingga dapat merusak atau menghindari imunitas dan memungkinkan terjadinya infeksi ulang, meskipun infeksi sebelumnya dapat memberikan imunitas parsial dan mengurangi keparahan gejala.

Koinfeksi

Respons kekebalan terhadap SARS-CoV-2 dapat dipengaruhi oleh apakah seseorang sedang atau baru saja terinfeksi virus lain atau tidak. Banyak penelitian sebelum pandemi ini menunjukkan bahwa infeksi dengan satu virus dapat memberikan perlindungan jangka pendek yaitu sekitar satu minggu yang mencegah infeksi kedua.

Penelitian lain menegaskan bahwa infeksi virus pernapasan secara bersamaan tidak terkait dengan peningkatan keparahan penyakit. Sementara beberapa koinfeksi SARS-CoV-2 telah didokumentasikan, termasuk koinfeksi dengan influenza dan virus pernafasan syncytial, terdapat data yang tidak cukup untuk menarik kesimpulan. Pada tingkat populasi, wabah influenza musiman yang signifikan dapat membebani rumah sakit yang sudah menangani COVID-19.

Musiman

Bukti menunjukkan COVID-19 bisa lebih menular selama musim dingin. Di luar daerah tropis, banyak virus pernapasan umum muncul kembali secara musiman selama waktu tertentu dalam setahun. 

Seperti Coronavirus endemik lainnya (OC43, HKU1, NL63, 229E) semuanya bermunculan secara musiman di daerah beriklim sedang yang mirip dengan influenza. Demikian pula, kondisi lingkungan juga dapat memodulasi penularan SARS-CoV-2 dimana kondisi tersebut tidak cukup untuk mencegah penularan selama tahap awal pandemi ketika kekebalan umumnya rendah.

Tetapi mungkin cukup untuk mendukung penularan musiman selama musim dingin di daerah beriklim sedang yang dimana mirip dengan influenza begitu kekebalan meningkat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona pandemi corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top