Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gaya Hidup Minim Sampah Jadi Misi Selamatkan Bumi

Masyarakat mulai terbiasa membawa kantong belanjaan saat berbelanja ke pasar, guna menyelamatkan bumi dari limbah plastik.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 17 November 2020  |  14:48 WIB
Pedagang memasukkan belanjaan ke dalam tas belanjaan di Pasar Tebet Barat, Jakarta, Senin (27/1/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan Pasar Tebet Barat dan Pasar Tebet Timur sebagai pasar percontohan Gerakan Pengurangan Kantong Kresek atau kantong plastik sekali pakai. Namun dalam kenyataannya, masih banyak pedagang maupun pembeli yang menggunakan kantong plastik sebagai tempat membawa belanjaan. - Antara
Pedagang memasukkan belanjaan ke dalam tas belanjaan di Pasar Tebet Barat, Jakarta, Senin (27/1/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan Pasar Tebet Barat dan Pasar Tebet Timur sebagai pasar percontohan Gerakan Pengurangan Kantong Kresek atau kantong plastik sekali pakai. Namun dalam kenyataannya, masih banyak pedagang maupun pembeli yang menggunakan kantong plastik sebagai tempat membawa belanjaan. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Konsep zero waste lifestyle belakangan mulai dikenal masyarakat Indonesia. Konsep yang merupakan bagian dari gaya hidup minimalis ini mendorong penganutnya untuk memanfaatkan kembali sampah rumah tangga.

Tujuannya sangat mulia, menjaga Bumi tetap layak huni bagi makhluk hidup termasuk manusia dan hewan. Ya, dari waktu ke waktu Bumi yang kita tinggali ini semakin ringkih akibat aktivitas manusia, salah satunya sebagai produsen sampah.

Menyadari fakta ini, Maurilla Imron akhirnya menerapkan gaya hidup minim sampah. "Bumi cuma satu, kita nggak punya tempat lain," tegasnya kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Di awal-awal diakuinya terasa sulit. Apalagi masyarakat dan peraturan di Indonesia kala itu masih awam dengan gaya hidup ini. Supermaket, cafe, hingga warung kelontong masih menggunakan plastik sebagai pembungkus utama. Tak jarang Maurilla dipandang aneh saat membawa wadah sendiri ketika berbelanja, termasuk saat membeli makanan ringan. "Awal dimulai lumayan kayak alien," selorohnya.

Pernah suatu ketika ibu satu anak ini sicibir seorang pelayan cafe saat menolak sedotan plastik. "Sama dia langsung diambil, terus dibuang di depan muka aku," cerita Maurilla.

Dia memaklumi karena mungkin pelayan tersebut kala itu tidak paham akan tindakan yang Maurilla lakukan, yakni mengurangi sampah plastik. Namun belakangan, cafe tersebut ternyata sudah tidak menggunakan sedotan plastik. "Sebagai konsumen, kita punya power besar dan kita bisa mengubah sesuatu," sebutnya.

Tak hanya sampah plastik, Maurilla juga mengurangi sampah organik dan makanan dari rumah tangga dengan memanfaatkannya kembali untuk menjadi kompos. Maurilla menerangkan, zero waste lifestyle itu termasuk mengurangi sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).

Dia menuturkan TPA Bantar yang berdiri sejak 1989 itu sebentar lagi akan ditutup karena sudah over capacity. Menjadi pertanyaan nantinya dimana tempat membuang sampah selanjutnya. Lagi pula, gunungan sampah di TPA bisa menghasilkan gas metana yang dampaknya lebih buruk dari karbon dioksida CO2 dan berkontribusi terhadap pemanasan global, berujung pada cuaca ekstrem juga bencana hingga munculnya penyakit.

"Bumi kita sudah tidak kondusif untuk ditinggali. Kita nggak punya waktu banyak. Kita harus melakukan sesuatu, dan gaya hidup zero waste adalah salah satu caranya," tutur Maurilla.

Zero waste lifestyle menurutnya harus dilakukan secara bersama-sama agar bisa konsisten. Oleh karena itu, Maurilla pun mendirikan Zero Waste Indonesia sebagai support system antar mereka yang ingin menerapkan gaya hidup minim sampah.

Dia menerangkan melalui Zero Waste Indonesia mereka bisa bertukar informasi, mengedukasi, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Misalnya dengan usaha kecil dan menengah (UKM) yang bisa memproduksi barang bernilai dari sampah plastik.

Maurilla pun mengemas komunitas ini dengan program-program menarik setiap tahunnya. Pada 2018, Zero Waste Indonesia membuat tantangan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan mencari alternatif lain seperti menggunakan tumbler untuk membeli minuman atau membawa sapu tangan sebagai pengganti tissue.

Pada 2019, mereka fokus ke sampah tekstil dengan membuat program tukar baju. Dengan gerakan ini, Zero Waste Indonesia telah menukarkan 13.000 baju bekas, menyelamatkan baju yang berpotensi menjadi sampah tekstil seberat 5,4 ton atau satu ekor ikan paus, dan menyelamatkan bahan kain yang berpotensi menjadi sampah kain seluas 3 kali lapangan sepak bola. Melihat hasil ini, Maurilla memiliki impian untuk membuat toko yang bisa menukar atau mendonasikan baju.

Pada 2020 atau tahun ini, program yang diganyang yakni berkah piring kosong. Sebuah tantangan untuk memposting foto sebelum dan sesudah makan di Instagram guna mengurangi sampah makanan.

Maurilla menyebut setiap foto sepiring makanan yang dihabiskan, mereka telah berdonasi Rp5.000 untuk disalurkan ke food rescue atau food bank, yang selanjutnya diberikan kepada orang yang membutuhkan. "Kami bantu mengurangi food waste," tutup Maurilla.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sampah Sampah Plastik pandemi corona
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top