Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ramai Terapi Plasma Darah Untuk Pasien Covid-19, Ini Efek Sampingnya

Terapi plasma darah hanya boleh diberikan pada konteks uji klinis dan ditambah lagi belum ada bukti ilmiah yang melarang penggunaannya untuk pasien Covid-19.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 21 Januari 2021  |  11:26 WIB
RSPAD Gatot Soebroto melakukan uji terapi plasma darah untuk pasien Covid-19. JIBI - Bisnis/Nancy Junita
RSPAD Gatot Soebroto melakukan uji terapi plasma darah untuk pasien Covid-19. JIBI - Bisnis/Nancy Junita

Bisnis.com, JAKARTA - Terapi plasma darah (plasma konvalesen) belakangan marak dicari dan digunakan untuk menangani pasien Covid-19 dengan gejala berat.

Plasma konvalesen adalah plasma darah yang diambil dari orang yang sudah sembuh dari suatu infeksi, dan darahnya mengandung antibodi terhadap infeksi tersebut. Namun apakah benar terapi plasma darah ini efektif untuk pasien Covid-19 dengan gejala berat dan kritis?

Dokter umum kandidat PhD bidang Medical Science di Kobe University, Adam Prabata mengatakan terapi plasma konvalesen tidak menunjukkan perbaikan kondisi klinis.

"Diduga karena kerusakan paru sudah terlalu parah pada pasien Covid-19 berat sehingga plasma konvalesen tidak memberikan efek," tulis Adam dalam postingan di akun Instagram pribadinya @adamprabata, dikutip Bisnis, Kamis (21/1/2021).

Lantas apakah berpengaruh terhadap pasien Covid-19 rawat inap bergejala sedang? Adam mengatakan plasma darah juga tidak mencegah perburukan kondisi pasien.

Ini merujuk pada penelitian plasma konvalesen skala besar atau lebih dari 10.000 pasien di Inggris yang dihentikan karena tidak terbukti menurunkan angka kematian.

Kendati demikian, terapi plasma darah untuk Covid-19 diduga bermanfaat apabila diberikan pada fase awal penyakit dengan titer antibodi yang tinggi.

Kata Adam, terapi plasma darah terbukti bermanfaat untuk mencegah munculnya Covid-19 berat bila diberikan pada pasien Covid-19 yang berusia tua, sakit ringan, diberikan kurang lebih 72 jam setelah gejala muncul, dan titter antibodi di plasma konvalesen tinggi atau lebih dari 1:1.000.

Di sisi lain dia menjelaskan ada kemungkinan efek samping yang ditimbulkan dari terapi plasma darah. Antara lain fenomena antibody dependent enchantment (ADE) atau fenomena di mana pengikatan virus ke antibodi suboptimal meningkatkan masuknya virus ke dalam sel inang diikuti dengan replikasinya, transfusion related acute lung injury (TRALI) atau sindrom fatal yang menyebabkan gangguan pernafasan akut, alergi.

Kemudian penyakit terkait sumbatan pembuluh darah dan overload volume darah. "Kemungkinan terjadinya efek samping berat dan serius akibat penggunaan plasma konvalesen pada pasien Civid-19 adalah rendah," tambah Adam.

Sejauh ini, NHS mengatakan terapi plasma darah hanya boleh diberikan pada konteks uji klinis. Ditambah lagi belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk merekomendasikan atau melarang penggunaannya untuk pasien Covid-19.

Untuk itu, Adam menilai sudah saatnya pemerintah mengevaluasi kebijakan terhadap pemberian plasma konvalesen untuk pasien Covid-19 bergejala berat dan kritis.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona pandemi corona Adaptasi Kebiasaan Baru Kampanye 3M
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top