Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Belanja Busana Muslim Indonesia Tembus Rp300 Triliun Tiap Tahun

Indonesia merupakan konsumen busana muslim terbesar ketiga di dunia, yang membelanjakan sekitar Rp300 triliun per tahunnya.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 03 Maret 2021  |  16:37 WIB
Pengunjung berbelanja di toko busana muslim, di Jakarta, Rabu (7/3/2018). - REUTERS/Willy Kurniawan
Pengunjung berbelanja di toko busana muslim, di Jakarta, Rabu (7/3/2018). - REUTERS/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah brand busana muslim ternama di Indonesia mulai berfokus untuk mengalihkan strategi penjualan ke ranah online di tahun ini seiring meningkatnya tren busana muslim dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah brand tersebut antara lain Lamia Activewear, Iskanti, dan Parte, yang menggunakan SIRCLO Store untuk mengoperasikan website sendiri dan mempermudah transaksi jual-beli.

Ketiga brand tersebut menyadari bahwa pandemi telah mendorong semakin banyak orang Indonesia berbelanja online. Serta didukung dengan data Google yang menunjukkan bahwa selama Ramadan 2020, terdapat 79 persen peningkatan pencarian tentang cara berbelanja online.

Apalagi, belanja online bukanlah tren sesaat yang akan memudar setelah pandemi berakhir. Pasalnya, hingga saat ini, 197 juta penduduk Indonesia sudah terhubung dengan internet dan 93 persen pengguna internet baru mengaku akan terus mengandalkan kemudahan bertransaksi online hingga jangka panjang.

Oleh karena itu, brand busana muslim yang hendak berkembang pun harus segera mengokohkan strategi penjualannya di ranah online.

Qonitah Al Jundiah (Thata), Founder & Creative Director Parte menyatakan bahwa Parte merupakan brand yang sustainable dan ethical, yang merasa perlu menyampaikan value brand ini sambil mengedukasi pembeli.

"Marketplace bukan merupakan medium yang tepat, karena visualnya amat terbatas dan terkesan ramai. Maka lewat SIRCLO Store, kami benar-benar bisa menyampaikan pesan kami secara lengkap dan jelas," ujarnya, seperti dikutip, Rabu (3/3/2021).

Menurutnya, mulai dari tampilan, pemilihan jenis huruf, hingga foto dan bahasa di website, bisa disesuaikan sedemikian rupa, sehingga pembeli yang berkunjung ke website memang karena tertarik dengan produk Parte. "Bukan karena mengejar diskon atau promo,” ujarnya.

Mega Iskanti, Founder dan CEO Brand Iskanti, mengatakan hal senada, di mana dirinya awalnya hanya berjualan melalui media sosial. Namun, seiring berjalannya waktu, ia kesulitan mengelola pesanan yang membludak.

Melalui website sendiri, kini ia bisa meningkatkan automatisasi dan efisiensi waktu secara signifikan, sehingga operasional bisnisnya pun semakin rapi.

“Bagi pengelola toko online seperti saya, fitur-fitur yang ada di dashboard SIRCLO Store juga sangat membantu. Ada fitur katalog produk, fitur auto airwaybill, data lengkap untuk mengevaluasi loyalitas dan preferensi pembeli, hingga branding Iskanti," ujarnya.

Mipah Putri Suharti, Founder Lamia Activewear, penjual sportswear muslimah sejak 2017 ini mengaku sangat terbantu dengan adanya website, karena memudahkan timnya melihat laporan, status pesanan, dan menghubungkan dengan konsumen.

Brian Marshal, Founder dan CEO SIRCLO menyatakan, sebagai mitra dari para brand untuk berjualan online, pihaknya berupaya memaksimalkan kehadirannya secara multichannel, yaitu dengan mengoperasikan berbagai kanal penjualan digital di saat yang sama, seperti website milik sendiri, penjualan via WhatsApp dan marketplace.

“Melihat tren positif dari industri busana muslim di Indonesia, kami bersemangat menghadirkan lebih banyak inovasi dan fitur canggih untuk membantu para mitra brand kami dalam menyambut Ramadan 2021," ujarnya.

Pihaknya menegaskan bahwa, SIRCLO memiliki misi untuk menghadirkan layanan A-Z untuk berjualan online, yakni tidak hanya dengan membangun website namun juga verifikasi pembayaran, fitur pemasaran, hingga notifikasi pengiriman produk secara otomatis.

"Dengan begitu, para pemilik brand bisa menggunakan waktunya untuk perencanaan strategis dan inovasi bisnis mereka,” jelasnya.

Seperti diketahui, tren busana muslim di Indonesia kian meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai negara dengan populasi muslim tertinggi di dunia, laporan dari State of The Global Islamic Economy pada 2019-2020 menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara pengembang busana muslim terbaik di dunia, setelah Uni Emirat Arab dan Turki.

Menurut Thomson Reuters, Indonesia juga merupakan konsumen busana muslim terbesar ketiga di dunia, yang membelanjakan sekitar Rp300 triliun per tahunnya.

Potensi pertumbuhan di bidang busana muslim masih terbuka lebar, terutama karena konsumsi busana muslim secara global diperkirakan akan mencapai nilai US$402 miliar pada 2024.

Di Indonesia sendiri, lonjakan permintaan terhadap busana muslim terlihat signifikan pada momen Ramadan dan Lebaran. Pada 2019, misalnya, laporan Tokopedia dan iPrice menyebutkan bahwa produk kaftan mencatatkan pertumbuhan 7x lipat dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Lalu pada 2020, pencarian untuk kategori fashion di Google mulai naik di minggu pertama Ramadan dan mencapai puncaknya di pertengahan minggu ketiga.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indonesia fashion hijabers
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top