Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ilmuwan Teliti Mengapa Covid-19 bisa Berbeda Tingkat Keparahan

Saat ini, para ilmuwan di Laboratorium Sains dan Teknologi Pertahanan (DSTL) di Porton Down, dekat Salisbury sedang melakukan penelitian untuk mencoba memprediksi siapa yang bisa menjadi sakit parah akibat virus corona dengan menganalisis respons imun pasien.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 12 Maret 2021  |  11:16 WIB
Ilustrasi - Perawat mengenakan pakaian APD (alat pelindung diri) baju hazmat (hazardous material) membawa pasien dalam pengawasan Covid-19 (Corona Virus Desease) menuju kamar isolasi khusus RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (13/3/2020).  - ANTARA
Ilustrasi - Perawat mengenakan pakaian APD (alat pelindung diri) baju hazmat (hazardous material) membawa pasien dalam pengawasan Covid-19 (Corona Virus Desease) menuju kamar isolasi khusus RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (13/3/2020). - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Ilmuwan mencoba memprediksi siapa yang akan menjadi sakit parah akibat virus corona.

Saat ini, para ilmuwan di Laboratorium Sains dan Teknologi Pertahanan (DSTL) di Porton Down, dekat Salisbury sedang melakukan penelitian untuk mencoba memprediksi siapa yang bisa menjadi sakit parah akibat virus corona dengan menganalisis respons imun pasien.

Sampel darah acak diambil dari 30 pasien rumah sakit untuk membandingkan bagaimana sistem kekebalan mereka bereaksi terhadap penyakit.

Bukti menunjukkan beberapa pasien menjadi sakit parah akibat Covid-19 setelah mendapat respons inflamasi besar-besaran dari sistem kekebalan mereka, yang sering dikenal sebagai 'badai sitokin' yang dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.

Tapi yang lainnya tidak. Menggunakan tes mutakhir di laboratorium DSTL, penelitian ini mengamati aktivasi sel darah putih bagian dari sistem kekebalan tubuh dan protein yang ada di permukaannya, menggunakan teknik seperti aliran sitometri yang mendeteksi dan mengukur karakteristik fisik dan kimiawi sel.

Studi ini masih dalam tahap awal, dengan data dan temuan diantisipasi dalam beberapa bulan mendatang. Tetapi diharapkan analisis ini dapat membantu menjawab pertanyaan tentang bagaimana dan mengapa pasien dipengaruhi begitu berbeda oleh Covid-19 dan bahkan berpotensi mengarah pada tes dan perawatan baru di masa depan.

Profesor Tim Atkins, yang mengkoordinasikan penelitian DSTL tentang virus corona,  berharap penelitian ini akan membantu menempatkan dokter di 'kaki depan' untuk memberi mereka informasi yang memungkinkan untuk 'membuat intervensi dini dan meningkatkan hasil bagi pasien yang sakit parah akibat Covid.'

"Yang ingin kami lakukan adalah memainkan peran kami dalam menyediakan data yang menurut saya mengembangkan pemahaman ilmiah umum tentang penyakit ini.  Dan itu pada akhirnya digunakan untuk membantu hasil pasien untuk membantu secara global dan Inggris melawan pandemi ini dan agar virus corona tidak lagi mewakili ancaman yang saat ini dilakukannya terhadap cara hidup kita," ujarnya dilansir dari Metro.

Keir Lewis, kepala dewan kesehatan penyelidik dan profesor kedokteran pernapasan di sekolah kedokteran universitas tersebut, menggambarkan pekerjaan itu sebagai 'kolaborasi unik' di mana 'keahlian yang dikumpulkan akan lebih memahami musuh yang umum dan mematikan'.

Rekan ilmuwan menyambut baik penelitian ini. Dokter Simon Clarke, profesor mikrobiologi seluler di University of Reading, mengatakan temuan penelitian ini bisa 'sangat membantu' dalam mempelajari lebih lanjut tentang virus corona.

'Lawrence Young, seorang ahli virologi dan profesor onkologi molekuler di Warwick Medical School, mengatakan bahwa penelitian ini dapat didasarkan pada beberapa penelitian lain yang sudah melihat penanda prognostik (digunakan untuk mengukur kemajuan suatu penyakit). pada pasien).

Proyek ini adalah bagian dari kebanyakan studi tentang virus corona yang dilakukan oleh DSTL di situs keamanan tinggi seluas 7.000 acre di pedesaan Wiltshire, termasuk mengembangkan peralatan seperti jari buatan untuk periksa berapa lama penyakit dapat bertahan di permukaan serta melihat disinfektan mana yang paling efektif melawannya. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ilmuwan muda Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top