Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Thunder Force, Film Karya Kolaborasi Suami Istri yang Hujan Kritik

Film kelima kolaborasi suami istri Mellisa McCarthy dan Ben Falcone ini mengisahkan dua sahabat sejak masa kecil menghadapi para perusuh dunia.
Dea Andriyawan
Dea Andriyawan - Bisnis.com 18 April 2021  |  11:07 WIB
Loading the player ...
Thunder Force - Netflix

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah wabah Covid-19 yang masih berlangsung, tahun ini sineas AS meluncurkan film aksi-komedi berjudul Thunder Force.

Film yang mestinya diniatkan sebagai hiburan itu, justru menerima banyak kritikan dari sejumlah penilainya.

Film komedi tentang  superhero Amerika ini skenarionya ditulis Ben Falcone yang sekaligus menjadi sutradara.

Film tersebut dibintangi Melissa McCarthy, Octavia Spencer, Bobby Cannavale, Pom Klementieff, Taylor Mosby, Melissa Leo, dan Jason Bateman.

Film kelima kolaborasi suami istri Mellisa McCarthy dan Ben Falcone ini mengisahkan dua sahabat sejak masa kecil menghadapi para perusuh dunia.

Sayangnya, film yang secara digital dirilis Netflix pada 9 April 2021 itu menerima penilaian negatif dari para kritikus.

Thunder Force menghadirkan dua wanita yang menjadi superhero melawan Miscreants yang merajalela di Chicago.

Film bedurasi 107 menit ini menceritakan bagaimana Emily Stanton (Octavia Stencer) dan sahabatnya Lydia Berman (Melissa McCarthy) menjadi pahlawan super yang mampu membasmi si Miscreant atau perusuh yang meresahkan warga Chicago.

Scene pertama film ini menceritakan bagaimana kedua orang tua Emily tewas akibat serangan si Perusuh. Para perusuh ini juga merupakan kejadian anomali pada manusia yang mengalami mutasi akibat radiasi benda luar angkasa yang jatuh ke bumi.

Sejak belia, Emily dan Lydia bersahabat lantaran aksi Lydia yang menyelamatkan Emily dari persekusi rekan satu kelasnya. Emily jadi sasaran perundungan di kelas karena terlalu menonjol dan dianggap so pintar.

Setelah kejadian itu, keduanya resmi bersahabat.

Tingkah  Lydia yang energik dan sedikit aneh berbeda dengan sahabatnya Emily yang cenderung kaku dan menghabiskan seluruh masa mudanya untuk belajar demi menyukseskan penelitian orang tuanya untuk melenyapkan Perusuh dari muka bumi.

Keinginan Lydia menemani Emily dalam misinya berbuah petaka.

Emily yang tengah mempersiapkan diri mengikuti ujian tidak tidur dalam beberapa hari. Ia pun  diminta Lydia untuk beristirahat sejenak. Lydia berjanji akan membangunkan Emily untuk kembali melanjutkan belajarnya.

Bukannya Emily dibangunkan, ia dan Lydia malah tertidur nyenyak hingga Emily terbangun dan ternyata ia sudah tidur semalaman dan ia bangun kesiangan.

Emily pun marah besar kepada Lydia karena ia tidak menepati perkataannya.

Pertengkaran mereka tidak mereda, keduanya terlibat cekcok. Akhirnya Lydia kesal dan melepas gelang tanda persahabatan yang diberikan Emily sebelumnya.

Scene selanjutnya menunjukkan Lydia yang telah tumbuh dewasa dan bekerja di sebuah pelabuhan. Lydia bekerja mengoperasikan forklift.

Beda nasib, Emily dengan kecerdasannya membangun perusahaan start-up Stanton yang mengembangkan teknologi untuk menciptakan superhero.

Babak Konflik

Akibat pertengkaran masa lalu, Emily dan Lydia belum pernah lagi bersua hingga keduanya tumbuh dewasa. Pada malam reuni sekolah, Lydia memberanikan diri mengajak Emily. Lydia datang langsung ke perusahaan yang dimiliki Emily.

Lydia yang memang petakilan dan tidak jarang bertingkah aneh tidak sengaja menyuntikan serum khusus yang telah dikembangkan perusahaan Stanton untuk menciptakan adiwira kepada dirinya sendiri.

Emily geram, namun ia tidak bisa berbuat banyak selain melanjutkan treatmen terhadap Lydia untuk menghindari kemungkinan sahabat lamanya itu meledak akibat perubahan genetika dari serum tersebut.

Lydia setiap hari menjalani pelatihan dan penanganan dari tim Stanton, dibantu oleh anak Emily. Setelah usai menjalani serangkaian pelatihan, akhirnya Emily dan Lydia melancarkan aksi pertamanya menghentikan aksi meresahkan para perusuh.

Lydia dan Emily pun berubah menjadi Bingo dan The Hummer. Dalam aksi pertamanya, mereka menghentikan The Crab (Jason Bateman). Namun, aksi menghentikan perampokan di sebuah toko malah mengantarkan Lydia pada perasaan yang salah terhadap The Crab,

Aksi heroik Thunder Force ini dengan cepat menyebar di berbagai pemberitaan media berkat rekaman ponsel salah satu korban pada malam perampokan tersebut.

Aksi keduanya menimbulkan keresahan bagi The King (Bobby Cannavale) yang ingin memenangkan pemilu wali kota dengan cara kotor. Sebelumnya ia bekerja sama dengan Miscreants untuk meneror para penduduk kota.

Seketika The King menyusun strategi untuk mengajak Thunder Force bekerja sama meneror kota. Tujuannya agar The King bisa tampil menjadi pahlawan dan memenangkan pemilu karena mampu membasmi para perusuh yang sebenarnya adalah timnya sendiri.

Emily yang sudah bulat ingin menghancurkan para perusuh menolak mentah-mentah ajakan The King.

Atas penolakan tersebut, The King dan satu orang perusuh yang bekerja untuknya yakni Laser (Pom Klementieff) bertekad membinasakan The Force. Tekad itu tak lain agar The Force tidak menggagalkan rencana The King menjadi wali kota.

The Force pun menjadi pendukung calon wali kota lawan dari The King. Akhirnya karena dukungan Thunder Force, Gonzales, lawan The King dalam pemilihan wali kota menjadi pemenang. 

Tidak menerima kekalahan itu, The King merencanakan membunuh walikota terpilih sekaligus pendukungnya dalam sebuah pesta perayaan kemenangan Gonzales.

Namun, aksi mereka keburu diketahui Thunder Force yang mendapatkan informasi tersebut berkat kedekatan Lydia dengan The Crab yang menyebut dirinya "Setengah Perusuh".

Dalam aksi penyelamatan tersebut, Thunder Force pun harus menghadapi The King yang pada akhirnya diketahui merupakan Miscreant juga.

Tapi, kerja belum selesai. Ada bom yang akan meledak jika dalam waktu kurang dari dua menit tidak dapat dijinakkan.

Absurd dan Lelucon Hambar

Seperti film lainnya yang dibintangi oleh Melissa, The Force disajikan dengan banyak dialog absurd yang kurang mengena saat diterima penonton dari "timur".

Alur cerita yang disajikan pun terasa sangat cepat berlalu, tanpa ada hal-hal detil untuk mendukung setiap segmen  yang akan dilalui.

Lelucon dan pertarungan terasa sangat hambar lantaran naskah dialog para aktor tidak meruncing. Dengan genre action comedy, Ben Falcone seharusnya mampu membawa penonton pada aksi-aksi dan lelucon yang mengundang tawa. Tampaknya, Falcone melupakan hal ini.

Akibatnya, tidak ada klimaks yang bisa dicapai dari sisi action maupun comedy.

Memang ada beberapa scene dari The King yang mampu mengundang gelak tawa. Selebihnya, beberapa komedi yang ditampilkan tidak terlalu "ngena" untuk film yang dibintangi sejumlah aktor ternama ini.

Pada babak konklusi, Ben Falcone berusaha menampilkan suasana dramatis untuk merangkum semua cerita. Namun, alur cerita menjadi datar lantaran konklusi dari film tidak diramu dengan adegan yang mendukung.

Di luar itu, meski tidak bisa disejajarkan dengan film-film action comedy pendahulunya, Thunder Force masih "sangat masuk" untuk dinikmati bersama keluarga.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Film Netflix
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top