Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BPOM Dorong Penelitian Ilmiah Khasiat Jamu Nusantara

Pengemasan, bukti ilmiah belum semaju di Jawa, oleh karena itu butuh sinergi antara akademisi, masyarakat, maupun pengambil kebijakan sehingga ada hilirisasi dari jamu-jamu di luar Jawa bisa bersaing
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 09 September 2021  |  21:02 WIB
Webinar mengenal jamu nusantara
Webinar mengenal jamu nusantara

Bisnis.com, JAKARTA - BPOM mendorong dilakukannya pengumpulan atau dokumentasi bukti empiris atas khasiat jamu nusantara.

Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Dra. Reri Indriani, Apt., M.Si. dalam webinar bertajuk "Mengenal Jamu Nusantara: Ekspolorasi Obat Tradisional Berbahan Alami Indonesia" seperti dikutip dari keterangan tertulisnya.

"Dokumentasi ramuan etnomedisin adalah hal penting sebagai data bukti keamanan jamu nusantara secara empiris. Kelemahan dari keanekaragaman sumber daya alam adalah dokumentasi atau pembuktian empiris," kata Reri.

Reri menjelaskan BPOM ingin sekali mengawal potensi kearifan lokal setiap daerah di Indonesia. Di sisi lain, BPOM juga memiliki tanggung jawab kepada masyarakat untuk menjamin keamanan produk obat dan makanan. Dia mengatakan webinar tentang jamu nusantara hari ini adalah bagian dari rangkaian napak tilas jejak empiris obat tradisional yang diinisasi BPOM untuk mendapatkan data dukung empiris atau bukti keamanan jamu nusantara.

"Kami kadang-kadang dilematis di BPOM, kadang UMKM mendaftarkan produk dengan klaim memelihara kesehatan pencernaan, tetapi setelah kami telusuri ternyata data dukung empiris tidak ada. Padahal di wilayah tertentu, ramuan tersebut sudah sangat dikenal, digunakan, dan dipercaya masyarakat," kata Reri.

Reri mengatakan BPOM mulai awal 2021 berfokus kembali untuk mengumpulkan berbagai dokumen empiris dari kearifan lokal Indonesia lewat seluruh 33 balai dan 40 loka. Dari hasil penelusuran, setiap wilayah di Indonesia memiliki kekhasan kearifan lokal, misalnya Pulau Jawa yang sangat kental dengan ramuan jamu dari rempah-rempah seperti jahe, temulawak, sambiloto, kunyit, dan lainnya. Semua
rempah tersebut telah menjadi kebutuhan masyarakat mulai dari masa kehamilan, bayi, balita, remaja, sampai usia dewasa.

Di wilayah Sumatera, banyak diproduksi aneka minyak gosok dari tanaman lokal. Senada dengan itu, Pulau Bali juga memiliki sangat banyak jamu serta berbagai minyak aromaterapi, minyak balur, lulur tradisional, boreh, minumah loloh, dan sebagainya. Sedangkan, wilayah Papua juga mengenal aneka tanaman obat seperti buah merah, sarang semut, atau rimpang Papua (empon-empon).

Kekayaan kearifan lokal Indonesia juga didukung data Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) Kementerian Kesehatan pada 2017 yaitu tercatat 23.000 ramuan pengobatan tradisional dan didukung oleh 2.848 spesies tumbuhan yang sudah teridentifikasi sebagai tumbuhan obat tradisional.

"Kita tahu bahwa jamu adalah salah satu transformasi nilai tambah rempah untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ditambah, aspek positif back to nature pada kondisi pandemi Covid-19 menyebabkan ledakan permintaan masyarakat pada jamu. Melihat kecenderungan peningkatan kebutuhan yang terjadi di seluruh dunia, tentu kita menangkap potensi
ekspornya," lanjut Reri.

Akademisi dari Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Suwijiyo Pramono, membenarkan bahwa data empiris adalah bukti dari keamanan jamu nusantara. Menurutnya, empiris mengandung pengertian antara lain digunakan lebih dari 3 generasi, telah digunakan masyarakat selama >50 tahun (WHO), dan tercantum dalam buku-buku kuno tentang obat tradisional seperti Primbon Serat Jampi Jawi, buku Heyne, Serat
Centini, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, Obat Asli Indonesia, Buku Kloppenburg, Usada Bali.

"Banyak ramuan telah terdaftar di BPOM sejak tahun 1977 artiya sekitar 44 tahun atau lebih dari 30 tahun. Jadi tinggal melakukan inovasi," katanya. 

Sementara itu, pakar etnomedisin dari UKI Prof. Dr. Marina Silalahi, S.Pd. M.Si. telah meneliti potensi jamu dari wilayah Sumatera. Dia mengakui tanaman obat dan ramuan dari Sumatera belum memiliki bukti-bukti ilmiah yang memadai seperti ramuan dari Pulau Jawa.

"Pengemasan, bukti ilmiah belum semaju di Jawa, oleh karena itu butuh sinergi antara akademisi, masyarakat, maupun pengambil kebijakan sehingga ada hilirisasi dari jamu-jamu di luar Jawa bisa bersaing dengan jamu di Jawa karena penghasilan dari jamu ini menjadi salah satu sumber perekonomian masyarakat," kata Marina.

Marina melakukan riset di 3 pasar di Sumatera Utara yaitu Pasar Kabanjahe, Pasar Berastagi, dan Pasar Pancur Batu, dimana menemukan beragam jenis tanaman obat dan jamu seperti tawar, minyak gosok, parem, rempah-rempah untuk sauna tradisional (oukup), dan minuman kesehatan (rum-rumen) yang terdiri dari bawang batak, rumbane, tulasih, terbangun rata, kumangi, dan sereh.

"Ketika pengobatan-pengobatan modern dianggap tidak mampu, saat sakit parah mereka kembali mencari bahan alam," kata Marina.

Senada dengan itu, akademisi dari FMIPA dan Gizi Uncen Papua, Dr. I Made Budi, mengatakan Papua memiliki kekayaan bahan baku obat herbal seperti buah merah, crocodile oil, sarang semut, daun gatal, sengiber, daun sampare, coklat, dan daun jilat. Berdasarkan survei, 75% masyarakat Papua masih memanfaatkan jamu atau herbal khas Papua dibandingkan obat farmasi.

"Herbal Papua perlu dikembangkan secara mendalam dengan kajian ilmiah untuk mencapai mutu, kualitas, dan keamanan," kata I Made Budi.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

herbal jamu
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top