Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Covid-19 pada Penyandang Diabetes Cenderung Lebih Berat

Covid-19 pada penyandang diabetes cenderung menimbulkan gejala yang lebih berat
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 06 Januari 2022  |  11:26 WIB
Ilustrasi pengecekan kadar gula darah terhadap penderita diabetes melitus - Reuters
Ilustrasi pengecekan kadar gula darah terhadap penderita diabetes melitus - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Covid-19 pada penyandang diabetes cenderung menimbulkan gejala yang lebih berat. Subjek dengan obesitas dan diabetes melitus ini merupakan kelompok rentan sehingga perlu mendapatkan prioritas vaksinasi.

Hal tersebut disampaikan Dicky Levenus Tahapary dari Divisi Metabolik Endokrin FKUI-RSCM, saat berbicara perihal korelasi obesitas dan diabetes melitus dengan Covid-19. Menurut dia, hubungan obesitas dengan Covid-19 telah banyak diteliti.

Obesitas meningkatkan peradangan pada sel tubuh dan resistensi insulin yaitu kondisi yang mengakibatkan peningkatan kadar gula dalam darah yang menjadikan seseorang jatuh dalam kondisi penyakit diabetes melitus.

"Peneliti Alice Tamara dan kawan-kawan, menyebut bahwa obesitas terbukti meningkatkan kematian serta komplikasi pada penderita Covid-19 yang mengalami obesitas," ucapnya dikutip dari situs resmi Pemprov DKI Jakarta beritajakarta.id, Kamis (6/1/2022).

Dikatakan, WHO juga mengumumkan dalam infografisnya bahwa obesitas dapat meningkatkan derajat keparahan Covid-19 tujuh kali lipat.

Meskipun sampai saat ini belum cukup bukti yang menjelaskan hubungan diabetes melitus dengan penularan Covid-19, namun penelitian yang dilakukan Harbuwono tahun 2021 menjelaskan bahwa diabetes melitus tidak hanya meningkatkan perburukan kondisi tetapi juga meningkatkan risiko kematian akibat Covid-19.

"Covid-19 pada penyandang diabetes cenderung menimbulkan gejala yang lebih berat. Subjek dengan obesitas dan diabetes melitus ini merupakan kelompok rentan sehingga perlu mendapatkan prioritas vaksinasi," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dwi Octavia mengatakan, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang bertujuan menurunkan penularan Covid-19 mengubah kebiasaan hidup bagi sebagian besar masyarakat, di antaranya penurunan aktivitas fisik dan perubahan pola makan.

Studi menunjukkan, bahwa gaya hidup kurang gerak dapat menurunkan imunitas tubuh sehingga meningkatkan risiko tertular Covid-19.

"Pandemi juga mengakibatkan keengganan sebagian besar orang dengan kondisi penyakit kronis untuk kontrol ke fasilitas kesehatan yang membuat akses pasien mendapatkan obat menjadi terhambat dan penyakitnya menjadi tidak terkontrol," ujarnya dikutip dari 

Menurutnya, salah satu adaptasi mudah yang tetap harus dilakukan selama pemberlakuan PPKM adalah beraktivitas di dalam rumah secara aktif.

Banyak variasi aktivitas fisik yang bisa dilakukan seperti latihan aerobik dengan zumba, HIIT, lompat tali, maupun aktivitas olahraga ringan seperti yoga atau pilates.

"Pengaturan pola makan juga tetap disesuaikan dengan kebutuhan aktivitas sehari-hari yang dilakukan dan sebisa mungkin menghindari asupan makan berlebih," terangnya.

Dwi menjelaskan, berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, penyakit diabetes melitus atau yang dikenal dengan nama kencing manis, terjadi terhadap 10 persen populasi usia dewasa dan obesitas terjadi pada 30 persen usia dewasa.

"Untuk kondisi pre-diabetes melitus pada usia dewasa di masyarakat perkotaan sebesar 35 persen serta di masyarakat pedesaan sebesar 45 persen," ungkapnya.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top