Pesawat A350 milik Japan Airlines terbakar di bandara internasional Haneda di Tokyo, Jepang, Selasa (2/1/2024)./Reuters
Travel

Kerugian Japan Airlines Tembus Rp1,5 Triliun Akibat Tabrakan Pesawat

Mutiara Nabila
Jumat, 5 Januari 2024 - 17:26
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Japan Airlines (JAL) mengawali tahun dengan tragedi kecelakaan tabrakan pesawat di bandara Haneda, Tokyo, Jepang, yang menewaskan setidaknya 5 orang. 

Melansir Reuters, dari kejadian tersebut, pihak JAL memperkirakan kerugiannya ditaksir lebih dari US$100 juta atau sekitar Rp1,55 triliun, setelah salah satu pesawatnya hancur ketika bertabrakan dengan pesawat lain. 

Seluruh penumpang pesawat berbadan lebar milik JAL yang berjumlah 379 orang berhasil menyelamatkan diri sebelum pesawat tersebut benar-benar dilalap api yang membutuhkan waktu lebih dari enam jam untuk dipadamkan.

Namun, lima dari enam awak pesawat lainnya, sebuah pesawat Penjaga Pantai berukuran lebih kecil yang sedang dalam perjalanan untuk mengirimkan bantuan ke daerah yang terkena gempa di pantai barat Jepang, tewas, dan pilot yang selamat terluka parah.

Saat penyelidik menyisir puing-puing yang hangus pada Kamis (4/1/2024), otoritas transportasi sedang menyelidiki keadaan yang menyebabkan pesawat Penjaga Pantai memasuki landasan tempat jet penumpang mendarat. 

Polisi juga menyelidiki kemungkinan kelalaian profesional dalam kasus ini, menurut laporan media.

Berdasarkan transkrip yang dirilis oleh pihak berwenang menunjukkan kontrol lalu lintas udara memerintahkan pesawat Penjaga Pantai untuk melanjutkan ke titik tunggu di dekat landasan pacu beberapa menit sebelum kecelakaan, instruksi yang tampaknya telah dibacakan kembali oleh pilot sebagai pengakuannya.

Pihak berwenang Jepang mengatakan pada Rabu lalu bahwa jet penumpang tersebut telah diberi izin untuk mendarat, namun pesawat yang lebih kecil belum diizinkan untuk lepas landas, berdasarkan transkrip.

Sementara, Pilot pesawat penjaga pantai itu mengatakan setelah kecelakaan itu bahwa dia telah diberi izin untuk memasuki landasan pacu.

Pihak berwenang baru saja memulai penyelidikan dan pakar penerbangan mengatakan biasanya kegagalan beberapa pagar pengaman menyebabkan kecelakaan pesawat bisa terjadi.

Pemberitahuan kepada pilot yang bertugas sebelum kecelakaan menunjukkan bahwa lampu berhenti yang dipasang di aspal sebagai tindakan pengamanan ekstra untuk mencegah kesalahan belokan, tidak berfungsi, menurut salinan buletin yang diposting oleh regulator AS.

Rugi Besar

Japan Airlines (JAL) memperkirakan dari tragedi tersebut akan mengakibatkan kerugian operasional sekitar 15 miliar yen atau sekitar Rp1,55 triliun.

JAL menyebutkan, hancurnya pesawat tersebut akan ditanggung oleh asuransi, dan menambahkan bahwa pihaknya sedang menilai dampaknya terhadap perkiraan pendapatannya untuk tahun keuangan yang berakhir pada 31 Maret.

Sumber-sumber industri asuransi mengatakan perusahaan asuransi AS, AIG, adalah perusahaan asuransi utama yang memberikan polis "all-risk" senilai US$130 juta untuk pesawat berusia dua tahun yang hancur akibat kebakaran tersebut.  Namun, pihak AIG masih belum berkomentar.

Menurut Aviation Safety Network, ini merupakan kehilangan pesawat pertama secara global untuk model A350. Jenis ini, sebagian besar terbuat dari komposit karbon, mulai digunakan secara komersial pada 2015.

Setelah kecelakaan tersebut, saham JAL turun sebanyak 2,4 persen, sebelum akhirnya kembali pulih menjadi naik 0,6 persen karena perdagangan dilanjutkan setelah liburan Tahun Baru.

Sejak tabrakan terjadi, kru membutuhkan waktu 18 menit untuk mengeluarkan semua orang dari pesawat dan selamat.

Maskapai penerbangan terbesar kedua di Jepang ini merinci bagaimana para awak kabin yang dikepung asap dapat mengikuti prosedur darurat sesuai buku teks, bahkan ketika penumpang panik, sistem interkom rusak dan beberapa jalur evakuasi tidak dapat digunakan karena kebakaran.

Sebagian besar penumpang dalam penerbangan dari Hokkaido adalah orang Jepang dan setidaknya 43 orang asing dikonfirmasi di antara mereka termasuk warga negara Australia, Swedia, Hong Kong, China, dan Korea Selatan.

Sementara itu, puing-puing pesawat masih berserakan di sekitar landasan dan tim penyelidikan mengenakan masker, sarung tangan dan topi keras untuk mengamati puing-puing pesawat tersebut

Atas kejadian tersebut, ratusan penerbangan masuk dan keluar Haneda juga menghadapi pembatalan atau penundaan sejak kecelakaan pada Selasa, membuat banyak penumpang frustrasi di bandara.

Tak hanya itu, hampir 200 penumpang juga terdampar semalaman di bandara New Chitose di Hokkaido,tempat asal penerbangan.

Penulis : Mutiara Nabila
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro