Ilustrasi kanker darah/Istimewa
Health

Menkes Budi: Deteksi Dini sampai Terapi, Penanganan Kanker Perlu Percepatan

Mutiara Nabila
Senin, 19 Februari 2024 - 18:21
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Kanker menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan kematian tertinggi di Indonesia. Sayangnya, pelacakan dan penanganannya masih terhambat berbagai faktor.

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Global Burden Cancer (GLOBOCAN) pada 2022, memperkirakan di dunia terdapat 19,9 juta kasus baru dengan angka kematian 9,7 juta. Adapun, di Indonesia diperkirakan terdapat 408.661 kasus baru dan 242.988 kematian akibat kanker.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa strategi penanganan kanker harus bertumpu pada penguatan upaya deteksi kanker lebih dini agar perawatan kanker lebih murah, hasil lebih baik dan kualitas hidup pasien lebih baik.Menkes Budi juga menekankan pentingnya peran organisasi masyarakat untuk mengedukasi tentang pentingnya melakukan deteksi dini.

“Selain itu, saya ingin menekankan pentingkan kerja sama dalam penanganan kanker. Oleh sebab itu, saya sangat menghargai dan mendukung upaya untuk penguatan kerjasama dalam penatalaksanaan kanker agar kita bisa memberikan perawatan terbaik untuk pasien,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin, dalam keterangan resmi, dikutip Senin (19/2/2024).

Oleh karena itu, Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) dan para pemangku kepentingan kanker seperti tenaga kesehatan, organisasi pasien, akademisi, pemangku kebijakan dan penyedia layanan kanker bersama-sama menyerukan tentang pentingnya diagnosis dini dan akses terhadap terapi tepat waktu sebagai strategi untuk menurunkan angka kematian akibat kanker.

Ketua POI, Cosphiadi Irawan, menjelaskan bahwa sebenarnya perkembangan teknologi dan tata laksana kanker telah memberikan peluang kesembuhan bagi pasien kanker. Namun sayangnya, sebagian besar pasien kanker di Indonesia masih belum bisa mendapatkan manfaat kemajuan tersebut secara optimal.

"Penegakan diagnosis masih sering terlambat, begitu juga dengan terapi. Oleh sebab itu, POI meyakini bahwa diperlukan sebuah strategi nasional penanganan kanker yang dapat meningkatkan diagnosis serta akses terhadap terapi tepat waktu sehingga hasil penatalaksanaan kanker lebih optimal dan angka kematian akibat kanker dapat ditekan,” ujarnya.

Penyebab keterlambatan diagnosis kanker bersumber dari berbagai faktor. Misalnya, dari berbagai laporan menunjukkan bahwa pada umumnya pasien kanker di Indonesia terdiagnosis pada stadium lanjut.

Keterlambatan diagnosis disebabkan oleh multi faktor yang bisa berasal dari pasien serta sistem pelayanan kanker.

Kurangnya pemahaman masyarakat tentang kanker dan gejalanya yang kadang tidak khas, serta masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan tindakan deteksi dini membuat kanker terlambat terdeteksi.

Selain itu, dari sisi sistem pelayanan kanker, permasalahan dimulai sejak tingkat layanan primer. Karena gejala kanker yang kadang tidak khas dan 80% pasien datang dengan gejala yang tidak spesifik, dokter di layanan primer tidak selalu bisa mengidentifikasi pasien pada tahap awal.

Pada tingkat pelayanan kanker lanjutan, keterlambatan diagnosis juga bersifat multi faktor, mulai dari faktor sosio-ekonomi pasien, faktor geografis dengan fasilitas pelayanan kanker yang masih terpusat di kota, sistem rujukan yang belum optimal, infrastruktur penegakan diagnosis yang masih terbatas, serta kapasitas dan kapabilitas tenaga medis yang masih harus ditingkatkan.Mengenai terapi, Cosphiadi mengapresiasi upaya Pemerintah untuk terus meningkatkan akses terhadap terapi kanker di BPJS.

"Meskipun demikian upaya bersama harus terus dilakukan agar terapi kanker yang sesuai standar tatalaksana bisa dijamin di BPJS dan diakses pasien tepat waktu,” imbuhnya.

Dr. Cosphiadi menambahkan, bahwa saat ini kebutuhan tenaga ahli yang dapat memberikan terapi kanker juga masih belum terpenuhi. Hal ini juga yang menjadi salah satu penyebab keterlambatan pengobatan. Selain itu, kecepatan adopsi pengobatan yang dibutuhkan oleh pasien dalam sistem jaminan kesehatan juga masih menjadi tantangan.

"Dengan teknologi pengobatan yang semakin maju dan standar pengobatan yang terus berkembang, seyogyanya Pemerintah dapat duduk bersama para pemangku kepentingan mencari solusi pembiayaan pengobatan kanker," tambahnya.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro