Puncak Hari Ibu digelar di TMII

JAKARTA: Puncak Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-82 pada 22 Desember rencananya dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan berlangsung di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.Dewi Motik Pramono, Ketua PHI 2010, menuturkan
News Editor | 13 Desember 2010 12:26 WIB

JAKARTA: Puncak Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-82 pada 22 Desember rencananya dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan berlangsung di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.Dewi Motik Pramono, Ketua PHI 2010, menuturkan tema yang diangkat untuk tahun ini adalah Kesetaraan perempuan dan laki-laki untuk membangun karakter bangsa dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan mermartabat. "Acara puncak PHI tersebut diwarnai dengan pemberian delapan macam penghargaan," ujarnya hari ini di kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dia menuturkan ke delapan penghargaan tersebut adalah Anugerah Parahita Ekapraya (APE) diberikan kepada kepala daerah dan daerah yang memiliki komitmen kuat dalam mewujudkan kesetaraan gender dan perlindungan perempuandan anak di daerahnya. Pengelola terbaik program terpadu peningkatan peranan wanitamenuju keluarga sehat dan sejahtera, Pengelola terbaik program binakeluarga balita. Pengelola kelompok terbaik bina keluarga balita, Pengelola terbaik kecamatan sayang ibu dan bayi, Penghargaan rumahsakit sayang ibu dan bayi, Perusahaan pembina terbaik tenaga kerja perempuan, dan Keluarga berencana (KB) lestari.Serangkaian kegiatan yang dilakukan menyambut PHI ke-82 ini a.l. bakti sosial berupa penanaman sejuta pohon di Tanjung Pasir oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono, bantuan bagi korban Merapi di DI Yogyakarta dalam bentuk rehabilitasi enam Posyandu di beberapa desa di Kecamatan Cangkringan. Selain itu juga memberikan bantuan khusus perempuan dan anak korban bencana Wasior, Mentawai, dan Merapi, serta melakukan trauma Healing.Menurut Dewi, yang juga Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), peringatan hari ibu merupakan momentum untuk merenungkan tentang apa yang telah dikerjakan dan yang belum tercapai oleh kaum perempuan, untuk kepentingan perempuan juga bangsa Indonesia."Peringatan ini juga sebagai momentum untuk memberikan kesempatan mengoreksi kekurangan dan kelemahan yang dihadapi kaum perempuan Indonesia, dalam memperjuangkan peranan dan kedudukannya dalam kancah kehidupan berbangsa dan bernegara," ungkapnya. (tw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top