Komunitas sastra masih dibutuhkan

JAKARTA: Keberadaan komunitas sastra masih dibutuhkan untuk memberi ruang berekspresi dan melihat potensi kekuatan karya anggotanya. Hal ini terungkap dalam diskusi "Panggung Sastra Komunitas" yang diselenggarakan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta
News Editor | 15 Desember 2010 13:44 WIB

JAKARTA: Keberadaan komunitas sastra masih dibutuhkan untuk memberi ruang berekspresi dan melihat potensi kekuatan karya anggotanya. Hal ini terungkap dalam diskusi "Panggung Sastra Komunitas" yang diselenggarakan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) hari ini.Saat ini terdapat sekitar 26 komunitas sastra di Jabodetabek dan hanya 60% yang masih aktif mengadakan berbagai kegiatan untuk memberdayakan anggotanya. Oleh karena itu, Komite Sastra DKJ menggiatkan pentingnya komunitas untuk perkembangan sastra.Salah satu pembicara, Gola Gong yang mendirikan pusat belajar Rumah Dunia menuturkan sastra komunitas sebagai kegiatan menulis, publikasi, dan diskusi karya sastra di sebuah komunitas tertentu. Sastra komunitas mengandung informasi samar bahwa sastra yang berkembang di suatu komunitas biasanya berbeda dari yang lainnya, baik pelaku, tema, maupun ideologi yang diusung."Rumah Dunia didirikan tidak hanya fokus pada sastra, tetapi juga seni seperti seni lukis dan teater. Banyak sastrawan yang memberikan pengajaran sastra sehingga banyak pilihan dan kebebasan sastra komunitas di Rumah Dunia," jelas novelis itu yang juga Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat.Pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) Asma Nadia berpendapat komunitas masih berperan penting untuk perkembangan sastra karena merupakan suatu kebutuhan, tempat memberi dan berbagi ruang. Para penulis yang telah sukses diharapkan mau berbagi ilmu dan pengalaman kepada anggota komunitas."Komunitas sastra juga harus pintar memanfaatkan teknologi. Gunakan social media untuk mendekatkan diri dengan penikmat sastra. Tanpa disadari, komunitas bisa hidup kembali," ungkap novelis yang dikenal karya Dialog Dua Layar ini.Selain mengadakan diskusi, Komite Sastra DKJ juga menyelenggarakan pentas pembacaan antologi cerpen dan antologi puisi, yakni hasil karya penulis berusia di bawah 40 tahun yang berkecimpung di komunitas sastra. (tw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top