Mau nonton film yang disensor? Datang ke BBJ malam ini!

JAKARTA: Bentara Budaya Jakarta (BBJ) memutar 7 film karya Peter Weir, sutradara Australia yang mendunia pada  malam ini Jumat 20 April dan Sabtu 21 April 2012. 
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 20 April 2012  |  07:27 WIB

JAKARTA: Bentara Budaya Jakarta (BBJ) memutar 7 film karya Peter Weir, sutradara Australia yang mendunia pada  malam ini Jumat 20 April dan Sabtu 21 April 2012. 

 

Salah satu filmnya adalah “The Year of Living Dangerously” sempat disensor atau dilarang diputar di Indonesia sampai 1999.

 

Ketujuh film itu adalah “Picnic at Hanging Rock”, “Gallipoli”, “The Year of Living Dangerously”, “Witness”, “Dead Poets Society”,”The Truman Show “dan “Master and Commander: The Far Side of the World”.

 

Salah satu film penting Weir adalah “The Year of Living Dangerously” (1983, 117 menit), yang mengisahkan situasi di Jakarta pada masa akhir pemerintahan Presiden Soekarno pada 1965.

 

Judul filmnya diambil dari judul novel yang mengutip pidato 17 Agustus 1964 Presiden Soekarno yang terkenal “Vivere Pericoloso” (Hidup menyerempet bahaya).

 

Mel Gibson kembali menjadi bintang utama dalam film ini. Aktris Linda Hunt yang memerankan seorang reporter pria meraih Oscar sebagai pemeran pembantu terbaik. 

 

Weir lahir di Sydney pada 21 Agustus 1944, menjadi mahasiswa seni dan hukum di Universitas Sydney. 

 

Minatnya terhadap film muncul ketika dia berinteraksi dengan sesama mahasiswa. Setamat dari universitas dia menjadi pekerja di stasiun televisi Sydney,  di mana dia sempat menciptakan dua film pendek eksperimental.

 

Kemudian dia bekerja di perusahaan film negara The Commonwealth Film Unit (kelak menjadi Film Australia), di mana dia membuat beberapa film dokumenter.

 

Film cerita panjangnya yang pertama adalah “The Cars That Ate Paris” (1975). Namun terobosan utamanya adalah film misteri “Picnic at Hanging Rock” (1975, 115 menit) yang menarik perhatian internasional.

 

Film yang berkisah tentang hilangnya siswi dari sebuah sekolah elit khusus putri di Australia Selatan ketika berpiknik bersama teman-temannya pada tahun 1900.

 

Film “Gallipoli” (1981, 111 menit), yang dibintangi Mel Gibson dan ternyata ikut mengantarnya menjadi bintang film terkemuka di Amerika.

 

Film ini berkisah tentang keikutsertaan tentara Australia di medan perang Turki pada Perang Dunia I.

 

Rambah Hollywood

Peter Weir kemudian merambah perfilman di Amerika, dan langsung menggebrak dengan filmnya yang dibintangi Harrison Ford, “Witness” (1985, 112 menit).

 

Itu adalah film thriller tentang seorang bocah laki-laki Amish yang menyaksikan pembunuhan seorang polisi yang menyamar.

 

Weir dinominasikan untuk Oscar sebagai sutradara terbaik dan Witness juga dinominasikan untuk film terbaik.

 

Film Weir yang paling terkenal adalah “Dead Poets Society” (1989, 128 menit), yang dibintangi Robin Williams.

 

Film yang dinominasikan untuk Oscar sebagai film terbaik ini kembali menghantar Weir dinominasikan untuk sutradara terbaik.

 

Setelah menyutradari dua film roman, “Green Card” (1990) dan “Fearless” (1993) yang kurang begitu sukses di kalangan kritikus film dan secara komersial.

 

Nama Weir kembali melejit lewat “The Truman Show” (1998, 103 menit), sebuah satire fantasi tentang bagaimana media mengontrol kehidupan manusia yang dibintangi aktor komedi Jim Carey.

 

Film ini kembali mengantar Weir untuk nominasi Oscar sebagai sutradara terbaik.   Film penting Weir berikutnya adalah “Master and Commander: The Far Side of the World” (2003, 138 menit), yang dibintangi Russell Crowe.

 

Film drama sejarah ini mengisahkan pertempuran laut pada masa Napoleon, memperoleh nominasi Oscar untuk film terbaik, namun hanya meraih dua Oscar untuk sinematografi dan tata efek suara. 

 

Film-film Peter Weir akan dibahas oleh pengamat perfilman Ronny P. Tjandra malam ini 20 April 2012. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top