Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Cara Deteksi Dini Epilepsi Pada Anak

BISNIS.COM, JAKARTA--Waspadai penyakit epilepsi mengintai keluarga Anda, terutama anak-anak. Di Indonesia, pada 2009 saja ada sekitar 1,8 juta jiwa penyandang epilepsi aktif dan setiap tahun muncul 250.000 pederita baru.
Rahmayulis Saleh
Rahmayulis Saleh - Bisnis.com 27 Juni 2013  |  12:28 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA--Waspadai penyakit epilepsi mengintai keluarga Anda, terutama anak-anak. Di Indonesia, pada 2009 saja ada sekitar 1,8 juta jiwa penyandang epilepsi aktif dan setiap tahun muncul 250.000 pederita baru.

Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1% penduduk dunia menderita epilepsi dan dominan ditemukan pada anak-anak.

Gea Pandhita, Dokter Spesialis Syaraf dari RS Islam Pondok Kopi Jakarta menuturkan selama ini ada stigma negatif yang melekat pada penyandang epilepsi. Hal itu menyebabkan masyarakat enggan mengobati penderita.

"Parahnya lagi, penyandang epilepsi cenderung dikucilkan," ujarnya dalam talsk show edukasi kesehatan Waspada Epilepsi pada si kecil yang diadakan RS Islam Pondok Kopi bekerja sama dengan Soho Group, Kamis (27/6/2013).

Menurut Gea, beberapa stigma negatif yang populer beredar di masyarakat mengenai epilepsi, seperti penyakit akibat kutukan, guna-guna, kerasukan jiwa, dan penyakit yang ditularkan melalui air liur.

"Epilepsi bukan penyakit menular, bukan akibat kutukan guna-guna, bukan gangguan jiwa karena merupakan gangguan fisik. Faktanya adalah epileksi sebagian besar dapat diobati," ungkapnya.

Jadi, lanjutnya, akibat stigma negatif tersebut, kualitas hidup penyandang epilepsi menjadi berkurang. Beberapa laporan yang didapan, yaitu problema psikososial dialami para penyandang epilepsi, seperti diisolasi secara sosial, kurangnya percara diri, serta munculnya kecemasan dan depresi.

"Kita harus waspadai beberapa perilaku anak kita terkait dengan epilepsi, bila si kecil kejang kelojotan, terkejut, bengong, dan kaku," ujar dokter yang juga Direktur Pelayanan Klinik RS Islam Pondok Kopi ini.

Menurut Gea, bila si kecil sudah positif menderita epilepsi, maka harus diterapi dan dilakukan pengobatan secara intensif, agar anak dapat kembali sehat dan ceria seperti sedia kala.

Sementara itu, Nurlida Fatmikasari, Manajer PR Soho Group, menambahkan perusahaannya bekerja sama dengan rumah sakit mengedukasi masyarakat tentang epilepsi. "Kami berharap pengetahuan masyarakat bisa meningkat mengenai epilepsi, dan bisa mengubah cara mereka memperlakukan penyandang epilepsi," ungkap Nurlida.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak epilepsi
Editor : Sepudin Zuhri
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top