Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sarjono Sutrisno: Kecil Gila Nonton, Besar Jadi Bos

Bisnis.com, JAKARTA - Sarjono Sutrisno tak menyangka kalau hobinya semasa kecil suka menonton film di bisokop, akan terbawa terus sampai dia dewasa.
Rahmayulis Saleh
Rahmayulis Saleh - Bisnis.com 30 Agustus 2013  |  19:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Sarjono Sutrisno tak menyangka kalau hobinya semasa kecil suka menonton film di bisokop, akan terbawa terus sampai dia dewasa.

Ketika meneruskan SMA dan kuliah di Amerika Serikat, dia ingin sekali mengambil studi tentang film dan membuat film. Tapi terbentur oleh larangan orangtuanya.

Ayahnya yang seorang pengusaha asbes dan sakelar, ingin anak-anaknya mendalami bidang bisnis, untuk meneruskan usaha yang sudah dilakukannya sejak lama.

Akhirnya Sarjono mengambil bidang kuliah advertising di Art Center of College di Pasadena, setelah lulus SMA di La Canada High School, AS. Dia menetap di Amerika Serikat sekitar 13 tahun, dan sempat bekerja di beberapa perusahaan properti di sana.

Laki-laki kelahiran Medan, 4 Desember 1975 menuturkan kalau dia banyak belajar tentang perfilman secara otodidak. Dia banyak membaca tentang buku-buku film.

Sementara itu, dari kuliah di advertising, dia banyak tahu tentang cara membuat iklan, shuting film iklan, membuat bajet, dan lainnya. Ditopang dengan hobi fotografinya, maka lengkaplah kepiawaiannya dalam perfilman.

Pada 2002, Sarjono diminta pulang oleh ayahnya ke Indonesia. Dia pun meneruskan salah satu dari bisnis sang ayah di bidang sakelar, dan bisnis batu apung.

“Tapi keinginan saya untuk membuat film tetap membuncah. Saya pun bertemu dengan teman-teman SMP dulu yang paham tentang film. Akhirnya pada 2009, saya mulai coba-coba buat film pendek, dan film FTV,” ungkap ayah dua anak ini, diJakarta, Jumat (30/8/2013).

Pada 2011 lalu dia meluncurkan film Surat Kecil Untuk Tuhan, yang ternyata laku keras di bioskos, dan termasuk box office di Indonesia. film ini isinya tentang kisah nyata seorang anak kecil yang menderita sakit kanker.

“Biaya untuk membuat film itu sekitar Rp2 miliar. Tapi kami berhasil mendapatkan pemasukan sekitar Rp10 miliar,” ujar bos  Skylar Pictures ini.

Sarjono menuturkan film yang disutradarai oleh Haris Nizam ini, tujuannya adalah supaya seluruh Indonesia bisa tahu, dan belajar tentang arti hidup ini dari seorang anak yang hanya berumur 13 tahun, yang mengidap penyakit rhabdomyo sarcoma (kanker jaringan lunak).

Sejak 2009 hingga kini Sarjono sudah membuat sebanyak 9 film. Salah satunya tengah dikerjakan adalah Guardian, yang akan dirilis di bioskop awal 2014 nanti.

Sedangkan film pertamanya berjudul Jinx (2009) tidak bergitu bagus pasarannya. Skylar Pictures memproduksi film layar lebar lainnya seperti Setan Facebook, Tebus, The Witness, danHasduk Berpola. Selain itu ada puluhan FTV yang sudah diputar di berbagai televisi swasta di Indonesia.

Dia menjelaskan dari 10 film yang dibuat, paling yang laris dan masuk box office satu film. “Tapi, itu cukup untuk mengembalikan modal dan membuat bisnis perfilman bisa berjalan,” ungkapnya.

Mendatangkan artis Hollywood

Sarjono terus membuat film, walau terkadang dia merugi. Bahkan filmnya yang akan datang Guardian, menghabiskan dana yang cukup besar mencapai Rp12 miliar.

Tak tanggung-tanggung film ini mendatangkan pemain artis dari Hollywood, Sarah Carter, yang main dalam film Final Destination 2, The Vow, dan Falling Skies.

“Saya ajak Sarah karena karakternya sangat sesuai dengan yang saya bayangkan ketika membuat cerita film ini. Artis lainnya yang mendukung Guardian adalah bintang film papan atas Indonesia seperti Tio Pakusadewa, Dominique Diyose, Ganindra Bimo, Kimmi Jayanti, Belinda Camesi, dan lainnya,” ungkap Sarjono yang yakin bisa balik modal dan menjadikan film tersebut box office nantinya.

Gurdian merupakan kisah seorang ibu yang begitu protektif, dan ketat mejaga anak semata wayangnya, dari tangan-tangan penjahat. Ada kelompok yang benci dengan suaminya, seorang intel yang sudah meninggal, dan ingin membalas dendam kepada keluarganya.

Dalam film ini terjadi baku hantam dan tembak-menembak. Untuk pembuatan film ini, Sarjono benar-benar menghancurkan mobil mewah dan rumah mewah untuk memberi efek yang nyata. Semua lokasi syuting dibuat di Indonesia, seperti di daerah PRJ, di bawah jalan layang, dan lainnya.

“Sebenarnya untuk syuting film, daerah kita cukup bagus. Banyak lokasi yang sesuai, dan tidak kalah dengan lokasi di Hollywood,” ungkapnya.

Film tersebut selain untuk lokal, juga  akan dipasarkan ke luar negeri seperti ke Kanada, Amerika Serikat, dan negara di Asia lainnya.

“Saat ini perusahaan saya juga sedang menyaipkan pembuatan film tentang princess, film tentang anak-anak yang berisi edukasi dan entertainment. Rencananya akan dijual ke berbagai negara di dunia,” ujarnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

film budaya industri film
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top